• Senin, 28 September 2026
Berita Terbaru

Sektor Sawit Berpeluang Turut Wujudkan Swasembada Pangan 2027

Jakarta, SAWIT INDONESIA – Upaya swasembada pangan di era Presiden Prabowo Subianto terus digalakkan, khususnya beras pada tahun 2027. Dengan potensi sumber daya lahan yang cukup luas, peluang merealisasikan swasembada pangan cukup besar.

Bahkan, pada Maret 2024 Direktorat Jenderal Perkebunan yang notabene hanya mengurus perkebunan telah melakukan penanaman pagi gogo. Penanaman padi gogo dilakukan di lahan peremajaan sawit (PSR). Hal tersebut menjadi bukti dukungan program swasembada pangan jauh sebelum menjadi program pemerintahan saat ini, sudah dilakukan.

Dikutip dari Kompas.com, Direktur Tanaman Kelapa Sawit dan Aneka Palma, Ardi Praptono, mengatakan bahwa potensi luas areal tanam padi gogo di Provinsi Riau mencapai 32.614 hektar (ha), dengan Kabupaten Siak menyumbang sekitar 3.569 ha.

"Penanaman ini diharapkan dapat mendukung optimalisasi lahan perkebunan demi mendukung program penambahan luas tanaman pangan, khususnya padi gogo," katanya.

Sedangkan, pada kesempatan diskusi yang diadakan Forum Wartawan Pertanian (Forwatan) dengan tema Menyongsong Swasembada Pangan 2027, Wakil Ketua Umum Dewan Pengurus Nasional Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (DPN HKTI), Mulyono Machmur, mengungkapkan tumpang sari sawit – padi (gogo) menjadi salah satu cara untuk meningkatkan produksi.

“Jadi tumpang sari bisa memberikan tambahan bagi petani di luar dari pendapatan sawit. Maka dengan tumpang sari sawit – padi (gogo) atau sawit – jagung yang diaplikasikan di lahan replanting (atau PSR-red), maka petani tetap bisa mendapatkan pendapatan sambil menunggu pohon sawit berbuah,” ungkapnya, pada Kamis (6 Februari 2025) di Jakarta.

Hal yang sama diutarakan Sekretaris Utama Badan Pangan Nasional (Bapanas), Sarwo Edhy, bahwa tumpang sari sawit – padi (gogo). Jadi seumpama dalam 1 hektar bisa menghasilkan 2 ton per hektar karena hanya sebagai tanaman sisipan maka tinggal dikalikan saja akan ketemu hasilnya.

“Berapa luas panen tanaman padi di lahan sawit dikalikan jika satu hektar menghasilkan 2 ton, maka itulah penambahan produksi padi di lahan sawit,” ungkapnya.

Pada kesempatan sebelumnya, Plt. Direktur Jenderal Perkebunan, Heru Tri Widarto, menjelaskan bahwa program PSR yang ditumpangsarikan dengan padi gogo dapat menwujudkan swasembada pangan, dan hal ini selaras dengan program Asta Cita Presiden Prabowo Subianto.

“Program ini mengusung sebuah konsep inovatif yang tidak hanya memperhatikan keberlanjutan sektor perkebunan kelapa sawit untuk mendorong peningkatan produktivitas, tetapi juga bertujuan untuk mendukung swasembada pangan,” jelasnya.

Menurut Heru, tumpang sari padi gogo di kebun kelapa sawit adalah sebuah strategi untuk memanfaatkan lahan perkebunan secara optimal, dengan menanam padi gogo sebagai tanaman sela. Program ini membuka peluang besar untuk meningkatkan produksi pangan tanpa harus mengorbankan kelapa sawit yang sudah menjadi komoditas unggulan nasional yakni sawit.

“Dengan memanfaatkan waktu dan ruang yang ada, kita berharap dapat meningkatkan hasil pertanian sekaligus menjaga keberlanjutan kebun kelapa sawit,” tegas Heru.

Secara Nasional, target pengembangan padi lahan kering (padi gogo) tumpang sari di lahan perkebunan maupun lahan lainnya seluas 890 ribu hektar, yang secara efektif dapat ditanami (intercropping) seluas 535 ribu hektar, dan dengan produktivitas sekitar 2 ton, maka dapat diperoleh sekitar 640 ribu ton beras.

Artikel Terkait