• Selasa, 29 September 2026
Berita Terbaru

Direktur AKPY-STIPER, Dr. Sri Gunawan: Perisai 2026 Jadi Ajang Tunjukkan Inovasi Hilirisasi Limbah Sawit Hasil Riset Kampus

Jakarta, SAWIT INDONESIA – Akademi Komunitas Perkebunan Yogyakarta (AKPY-STIPER) turut ambil bagian dalam ajang Perisai 2026 dengan menampilkan berbagai inovasi hasil riset yang mengubah limbah kelapa sawit menjadi produk bernilai ekonomi. Keikutsertaan ini menjadi wujud komitmen kampus vokasi perkebunan tersebut dalam mendorong hilirisasi hasil penelitian sekaligus memperkenalkan teknologi ramah lingkungan kepada kalangan akademisi, industri, dan pelaku usaha sawit.

Direktur AKPY-STIPER, Dr. Sri Gunawan, S.P., M.P., mengatakan bahwa produk-produk yang dipamerkan merupakan hasil riset yang telah melalui proses pengembangan hingga siap dimanfaatkan oleh masyarakat dan industri. Bahkan, beberapa di antaranya telah memperoleh izin edar dan dipasarkan secara komersial.

"Keikutsertaan AKPY-STIPER pada Perisai 2026 merupakan bagian dari upaya kami memperkenalkan inovasi hasil penelitian yang memiliki nilai guna bagi industri sawit. Kami ingin menunjukkan bahwa limbah kelapa sawit tidak hanya menjadi persoalan lingkungan, tetapi dapat diolah menjadi produk yang bernilai tambah dan mendukung praktik perkebunan berkelanjutan," ujar Dr. Sri Gunawan.

Dalam pameran tersebut, AKPY-STIPER menampilkan empat produk unggulan, yaitu Bio Solid 17, Bio POME 17, Trichoper, dan Mycoper yang merupakan hasil program Grant Riset Sawit (GRS).

Bio Solid 17 merupakan produk berbahan baku Palm Oil Mill Effluent (POME) yang diproses melalui teknologi dewatering menggunakan polimer sehingga menghasilkan pupuk organik padat. Sementara Bio POME 17 merupakan pupuk organik cair yang dihasilkan melalui proses dekomposisi atau fermentasi POME menggunakan starter selama 15 hari.

"Kedua produk tersebut telah memiliki izin edar dan saat ini sudah dipasarkan secara komersial. Hal ini menunjukkan bahwa hasil riset perguruan tinggi dapat dihilirisasikan menjadi produk yang memberikan manfaat nyata bagi sektor perkebunan," jelasnya.

Selain itu, AKPY-STIPER juga memperkenalkan Bagcom, inovasi pemanfaatan limbah baglog jamur. Media baglog tersebut dibuat dari limbah pelepah, daun, dan janjang kosong kelapa sawit sebagai pengganti serbuk gergaji. Setelah digunakan sebagai media budidaya jamur, limbah baglog kemudian diolah kembali menggunakan cacing menjadi vermikompos yang selanjutnya dibentuk menjadi Bagcom.

Menurut Dr. Sri Gunawan, konsep tersebut menjadi contoh penerapan ekonomi sirkular di sektor perkebunan karena hampir seluruh limbah sawit dapat dimanfaatkan kembali menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi.

Antusiasme pengunjung terhadap stan AKPY-STIPER terlihat cukup tinggi. Tercatat ratusan pengunjung mendatangi stan untuk melihat langsung berbagai inovasi yang dipamerkan.

"Sebagian besar pengunjung sangat tertarik dengan proses bagaimana limbah kelapa sawit dapat diolah menjadi Bio POME 17, Bio Solid 17 maupun Bagcom. Mereka banyak berdiskusi mengenai teknologi yang digunakan serta peluang penerapannya di lapangan," ungkap Dr. Sri Gunawan.

Mayoritas pengunjung berasal dari kalangan akademisi dari 21 perguruan tinggi, di antaranya Politeknik CWE, Universitas Tunas Pembangunan (UTP) Surakarta, Universitas Hasanuddin, Universitas Muhammadiyah Makassar, Universitas Jenderal Soedirman, ITP2I, Universitas Lampung, Universitas Indonesia, hingga INTAN Yogyakarta.

Selain akademisi, stan AKPY-STIPER juga dikunjungi perwakilan berbagai perusahaan dan organisasi, seperti Agro Investama, Bakrie Sumatera Plantations, Migran Sawit Indonesia, ASPEKPIR, serta PTKI.

Momen yang cukup berkesan pada hari pertama adalah hadirnya Rohalim Efriansah dari perusahaan Lembaga Sertifikasi Migran Sawit Indonesia, alumni AKPY-STIPER Tahun Akademik 2023/2024 yang kini bekerja sebagai staf di LSP Migran Sawit Indonesia.

"Kehadiran alumni yang kini telah berkiprah di industri menjadi kebanggaan tersendiri bagi kami. Ini menunjukkan bahwa AKPY-STIPER tidak hanya menghasilkan lulusan yang siap bekerja, tetapi juga terus membangun jejaring dengan dunia usaha dan industri," kata Dr. Sri Gunawan.

Melalui partisipasi dalam Perisai 2026, AKPY-STIPER berharap inovasi-inovasi berbasis limbah sawit tersebut semakin dikenal luas serta mendorong kolaborasi antara perguruan tinggi, industri, pemerintah, dan masyarakat dalam mengembangkan teknologi yang mendukung produktivitas sekaligus keberlanjutan sektor perkebunan kelapa sawit di Indonesia.

Artikel Terkait