• Rabu, 30 September 2026
Berita Terbaru

Sektor Perkebunan Terganggu, Ekonomi Indonesia Akan Goncang

JAKARTA, SAWIT INDONESIA - Sektor perkebunan terutama kelapa sawit memberikan kontribusi besar bagi perekonomian Indonesia. Hal ini diungkapkan Andi Nur Alamsyah, STP, MT, Dirjen Perkebunan Kementerian Pertanian RI dalam Pembukaan Kuliah Instiper Yogyakarta Tahun Akademik 2022/2023. “Saya hanya ingin menyampaikan, bidang yang kalian masuki dan nantinya akan digeluti memberikan kontribusi besar pada perekonomian nasional, kata Andi. Menurutnya harga TBS (Tandan Buah Segar) sawit bermasalah sejak beberapa bulan terakhir karena Nilai Tukar Petani (NTP) Perkebunan turun 6,63% pada Juli 2022. Selain itu, 60%-80% kontribusi perekonomian nasional dari subsektor perkebunan sawit. Tidak ada lain yaitu sawit kalau sawit bermasalah NTP/PDB pasti bermasalah. "Sehingga kalian (mahasiswa baru) akan bekerja sebagian besar di sektor perkebunan dan sektor sawit harus dijaga dan berinovasi terkait dengan produktivitas, nilai tambah dan lain sebagainya,” kata Andi. Sebagai informasi, data dari Badan Pusat Statistik yang diolah Direktorat Jenderal Perkebunan - Kementerian Pertanian menunjukkan kontribusi ekspor sub sektor perkebunan terhadap sektor pertanian tahun 2021 - 2022 tumbuh 94,39% atau Rp310,94 triliun, (ekspor perkebunan naik 6,72%). "Jadi kalau sektor perkebunan terganggu, perekonomian pasti terganggu, sektor perkebunan harus dijaga dan dikembangkan dengan berbagai inovasi,” pungkas Andi. Pada Tahun Akademik 2023/2023 Instiper Yogyakarta menerima mahasiswa baru program sarjana sebanyak 865 orang yang berasal dari 27 Provinsi di Indonesia. Fakultas Pertanian menerima mahasiswa baru sebanyak 20 orang mahasiswa, Fakultas Teknologi Pertanian menerima 214 mahasiswa baru, dan Fakultas Kehutanan menerima 131 mahasiswa baru.

Artikel Terkait