• Senin, 19 Oktober 2026
Berita Terbaru

BPDP-Ditjenbun-IPB Training: Pupuk Organik Jadi Strategi Efisiensi Sawit Rakyat

MOROWALI UTARA, SAWIT INDONESIA — Pemanfaatan bahan organik dan limbah perkebunan menjadi pupuk berpotensi membuka peluang efisiensi biaya budidaya kelapa sawit. Namun, pemanfaatannya membutuhkan keterampilan, mulai dari memilih bahan baku, mengolah, menguji kualitas, hingga mengaplikasikannya sesuai kebutuhan tanaman.

Untuk memperkuat kemampuan tersebut, sebanyak 70 pekebun kelapa sawit asal Kabupaten Morowali Utara, Sulawesi Tengah, mengikuti Pelatihan Pembuatan dan Aplikasi Pupuk Organik pada 15–18 Oktober 2026. Kegiatan ini diselenggarakan melalui kolaborasi Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP), Direktorat Jenderal Perkebunan, dan IPB Training dalam Program Pengembangan Sumber Daya Manusia Perkebunan Kelapa Sawit Tahun 2026 Angkatan I dan II.

Pelatihan ini membekali pekebun dengan pengetahuan dan keterampilan untuk memanfaatkan bahan organik yang tersedia di lingkungan sekitar. Dengan memahami proses produksi dan cara aplikasi yang tepat, pekebun diharapkan mampu mempertimbangkan penggunaan pupuk organik sebagai bagian dari strategi pengelolaan kebun yang lebih efisien.

Dr. Ir. Budi Nugroho, M.Si., sebagai perwakilan IPB Training sekaligus narasumber pelatihan, menekankan pentingnya pemahaman menyeluruh dalam pembuatan dan penggunaan pupuk organik. Menurutnya, pemanfaatan bahan organik tidak cukup hanya dengan mengolah bahan yang tersedia, tetapi juga harus memperhatikan kualitas produk dan kebutuhan tanaman.

“Pekebun perlu memahami bahwa pembuatan pupuk organik bukan sekadar mengolah bahan organik menjadi pupuk. Ada tahapan yang harus diperhatikan, mulai dari pemilihan bahan baku, proses pengolahan, pengujian kualitas, hingga aplikasi di kebun. Dengan pemahaman tersebut, pemanfaatan pupuk organik dapat dilakukan secara lebih tepat dan berpotensi mendukung efisiensi biaya budidaya,” ujarnya dalam keterangan resmi.

Materi pelatihan mencakup pengenalan pupuk organik dan pupuk hayati, fungsi unsur hara, prinsip pemupukan tanaman, serta regulasi dan standardisasi pupuk organik. Peserta juga mempelajari pemanfaatan limbah perkebunan, pengelolaan bahan organik, proses dekomposisi, dan peran organisme dalam penguraian bahan.

Pengetahuan tersebut menjadi dasar untuk menentukan bahan baku dan metode pengolahan yang sesuai. Peserta selanjutnya mendalami pembuatan pupuk organik padat dan cair, termasuk karakteristik produk serta standar mutu yang perlu diperhatikan.

Pembelajaran tidak hanya berlangsung di kelas. Dalam kunjungan lapangan ke Pupuk Organik Cipta Lestari, peserta mengidentifikasi bahan baku dan mempraktikkan pembuatan pupuk organik padat maupun cair. Melalui pengamatan dan diskusi langsung, pekebun dapat memahami tahapan pengolahan serta berbagai hal yang perlu diperhatikan untuk menghasilkan pupuk organik.

Aspek kualitas juga menjadi perhatian. Peserta diperkenalkan pada pengujian praktis melalui indikator warna, bau, tekstur, kelembapan, dan pH. Pemahaman ini penting agar pekebun tidak hanya mampu memproduksi pupuk, tetapi juga mengenali karakteristik produk sebelum digunakan.

Selain itu, peserta mempelajari prinsip pemupukan tepat atau 5T, metode aplikasi pupuk organik, serta perhitungan biaya penggunaannya. Materi ini menghubungkan proses pembuatan pupuk dengan kebutuhan nyata di kebun, termasuk pertimbangan biaya dan kesesuaian aplikasi dengan kondisi lahan serta kebutuhan tanaman.

Efisiensi tidak hanya dilihat dari kemampuan menghasilkan pupuk sendiri, tetapi juga dari ketepatan dalam mengelola bahan baku, menjaga kualitas produk, dan menentukan cara penggunaannya. Pemanfaatan bahan organik perlu dilakukan secara terukur agar dapat mendukung budidaya tanpa mengabaikan kebutuhan unsur hara tanaman.

Dalam sambutannya, Dandy Alfita, S.Pt., M.P., yang mewakili Dinas Perkebunan dan Peternakan Provinsi Sulawesi Tengah, berharap peserta menguasai proses pembuatan pupuk organik dan menjadi pelopor penerapan teknologi tersebut di daerah masing-masing.

Pembukaan pelatihan turut dihadiri Krispen Herbret Masu, S.STP., M.Si., Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Daerah Kabupaten Morowali Utara, serta Dr. M. Apuk Isman, Ketua Tim Bidang Kelembagaan dan Ketenagaan Pelatihan, yang mewakili Kepala BPPSDMP.

Melalui pelatihan ini, 70 pekebun diharapkan dapat menerapkan pengetahuan yang diperoleh untuk mengoptimalkan pemanfaatan bahan organik di kebun masing-masing. Keterampilan tersebut juga diharapkan menyebar kepada pekebun lain, sehingga pemanfaatan sumber daya lokal menjadi salah satu upaya mendukung efisiensi biaya dan keberlanjutan budidaya kelapa sawit rakyat di Morowali Utara.

Artikel Terkait