Berita Terbaru
Sektor Perkebunan Berpeluang Gantikan Tambang di Kalsel
JAKARTA, SAWIT INDONESIA - Seperti diketahui, Provinsi Kalimantan Selatan merupakan daerah penghasil tambang yang cukup besar di Indonesia. Berbagai hasil tambang dihasilkan dari daerah dengan julukan Bumi Lambung Mangkurat.
Dikutip dari laman https://dpmptsp.kalselprov.go.id/ dijelaskan provinsi Kalimantan Selatan merupakan daerah yang terkenal kaya sumber daya alam (SDA) khususnya tambang. Bahan galian tambang yang ditemukan di wilayah Kalimantan Selatan terdiri atas bahan galian energi, bahan galian logam, maupun bahan galian industri.
Bahan galian seperti batubara dan bijih besi merupakan komoditi unggulan yang menjadikan sektor pertambangan menjadi salah satu leading sector dalam menopang perekonomian Kalimantan Selatan. Selain batubara dan bijih besi, Kalimantan Selatan juga dikenal sebagai produsen intan terbesar di Indonesia. Pendulangan dan penggosokan intan dapat dijumpai di Kota Martapura, Kabupaten Banjar.
Sementara, potensi SDA yang lain adalah sektor perkebunan, salah satunya sektor perkebunan yang berada di Kabupaten Kotabaru. Kabupaten Kotabaru memiliki area perkebunan kelapa sawit terluas di Kalimantan Selatan dengan luas mencapai 156.554 Ha dari total 426.445 Ha, dan mampu memproduksi hingga 585.713 Ton Crude Palm Oil (CPO).
Sektor perkebunan kelapa sawit di Kalimantan Selatan menjadi potensi ekonomi kedua setelah tambang. Bahkan, potensi ekonomi dari perkebunan kelapa sawit menjadi sektor ekonomi yang dapat diperbaharui karena tanaman bisa diremajakan setelah batas waktu tertentu.
Menanggapi potensi SDA (tambang) yang ada di Kalimantan Selatan, Eddy Martono, Sekretaris Jenderal Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) mengatakan Grand Design perlu disiapkan pemprov Kalimantan Selatan untuk menopang perekonomian, jika potensi SDA yang ada habis dalam batas waktu tertentu, karena SDA (tambang) yang ada tidak dapat diperbaharui?
Pertanyaan ini, diajukan Eddy Martono kepada Roy Rizali Anwar, Sekretaris Daerah Kalimantan Selatan saat Talkshow di Borneo Palm Oil Forum IV, pada Kamis (16 Desember 2021).
Menjawab pertanyaan itu, Roy Rizali Anwar mengatakan pihaknya sudah mempersiapkan di dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) untuk perubahan sektor prioritas dari yang tidak terbarukan menjadi yang terbarukan.
“Potensi pada sektor tambang (batu bara) pasti akan habis, sehingga kami menyasar sektor pertanian, perkebuan, perikanan dan pariwisata. Untuk sektor perkebunan akan kami maksimalkan dengan mempercepat terkait permasalahan yang dihadapi termasuk untuk meningkatkan produktifitas hingga hilirisasi,” ujarnya.














