Sekjen Apkasindo: Petani Senang, B30 Berdampak Positif

JAKARTA, SAWIT INDONESIA – Program mandatori biodiesel campuran 30% atau B30 sangatlah strategis untuk menopang perekonomian dan memperkuat industri sawit nasional. Bagi petani, program B30 juga berdampak positif kepada harga TBS sawit semenjak akhir 2019.

“Kebijakan B30 oleh Presiden Jokowi, membuat petani sawit bersemangat untuk terus berkebun. Setelah sebelumnya banyak isu yang beredar minyak sawit sudah tidak laku lagi di luar negeri sehingga harga CPO dan TBS menjadi tertekan,” ujar Rino Afrino, Sekretaris  Jenderal Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (APKASINDO) melalui sambungan telepon Kamis (20 Februari 2020).

Sebagai contoh di Riau, harga TBS sempat menyentuh di atas Rp 2.000 per kilogram setelah B30 diresmikan. Kebijakan ini, dikatakan Rino, menjadi bukti negara hadir dan berkewajiban melindungi sumber pendapatan 20 juta petani dan keluarganya yang hidup dari kebun sawit.

Ia menceritakan bahwa banyak pesantren yang bersyukur harga TBS kembali naik. Karena pesantren ini memperoleh pendapatan dari kebun sawit. “Saat berkunjung ke pesantren di Sumatera Barat, mereka sangat senang dengan kenaikan harga,” ujar Rino.

Baca Juga :   Sawit Diperkirakan Penyumbang Devisa Terbesar Hingga 10 Tahun Lagi

Menurutnya, program B30 memberikan lima manfaat kepada petani sawit. Pertama, petani menjadi percaya diri dan lebih bersemangat untuk berkebun dengan baik. Kedua, menjaga harga TBS supaya tetap stabil dan baik.

Ketiga, program ini akan berdampak positif bagi daerah mulai dari kesejahteraan masyarakat dan perputaran ekonomi. “Tidak hanya petani yang hidupnya menjadi lebih baik, tapi juga kedaulatan energi bangsa ini akan semakin kokoh,” ujarnya.

Keempat, manfaat B30 mampu mengurangi ketergantungan pasar ekspor ke luar negeri. Ketergantungan tersebut membuat Indonesia rentan terhadap rintangan yang muncul pada sektor CPO di luar negeri.

Kunjungan Dewan Pembina DPP APKASINDO dan DPW APKASINDO Sumatera Barat ke Pondok Pesantren Nurul Yaqin Siti Manggopoh yang menjalankan budidaya kelapa sawit.

“Oleh sebab itu kebijakan biodiesel dapat mengoptimalkan CPO bagi pasar domestik merupakan bentuk kedaulatan ekonomi,” ujar Rino.

Keuntungan terakhir dari aspek lingkungan. Rino menjelaskan pemakaian B30 menekan pengeluaran emisi dari bahan bakar fosil di kendaraan bermotor.

Baca Juga :   Industri Minyak Sawit Indonesia Menuju 100 Tahun NKRI (Bagian XCXXXII)

Rino mengharapkan program B30 dapat ditingkatkan menjadi B40 maupun B100 sesuai arahan Presiden Joko Widodo (Jokowi). Dengan begitu, program ini dapat meningkatkan penggunaan di dalam neger dan harga TBS petani tetap menguntungkan. “Dengan adanya B30 dapat menjadi sarana promosi dan diplomasi bagi masyarakat Indonesia, bahwa  kelapa sawit banyak memberikan manfaat khususnya pada penyediaan energi dimana produksi minyak bumi Indonesia sudah jauh merosot, dan sangat bergantung dengan impor untuk pemenuhan dalam negeri,” kata Rino yang menyandang gelar  Insinyur Teknik Perminyakan Universitas Trisakti.

Program B30, dikatakan Rino, dapat meningkatkan hubungan kemitraan antara perusahaan produsen dengan petani sebagai pemasok bahan baku. Menurutnya, karena bahan baku CPO dari petani maka industri biodiesel wajib berkontribusi bagi peningkatan kapasitas pekebun, penguatan kelembagaan, dan dukungan sarana prasarana. “Selain itu, produsen membantu petani unutk memberikan pendampingan untuk petani berkebun sesuai Prinsip ISPO,” tegas Rino yang juga Auditor ISPO.

Ia pun mengharapkan pengembangan B30 dapat mendorong pemerintah untuk membantu petani menyelesaikan persoalan petani sawit, seperti mempercepat peremajaan kelapa sawit, menyelesaikan legalitas lahan petani, dan perbaikan infrastruktur karena sumber bahan bakunya dari petani.

Baca Juga :   Apkasindo Tawarkan Skema Kemitraan Bagi Kesejahteraan Petani

“Oleh karena itu, mari kita dukung program pemerintah yang baik ini, dan banyak banyak bersyukur atas anugrah kelapa sawit untuk Indonesia,” jelasnya.

Presiden Joko Widodo sebelumnya  menyatakan pelaksanaan  B30 tidak hanya untuk melepas ketergantungan Indonesia dari energi fosil, melainkan dapat menghemat devisa hingga Rp 63 triliun pada 2020. Selain itu, penerapan B30 juga akan menciptakan permintaan domestik yang besar terhadap CPO, serta menciptakan multiplier effect yang besar terhadap sekitar 16,5 juta petani atau pekebun kelapa sawit.

“Penerapan B30 nantinya juga membuat kita tidak mudah ditekan-tekan oleh negara manapun, terutama yang selama ini melancarkan kampanye negatif terhadap ekspor CPO Indonesia karena kita memiliki pasar dalam negeri yang sangat besar,” kata Jokowi.

 

12 Shares:
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like