Medan, SAWIT INDONESIA – Ancaman penyakit busuk pangkal batang telah menjadi tantangan berat bagi perkebunan sawit di Indonesia. Strategi menghadapi cendawan ini menjadi topik pembahasan menarik dalam Socfindo Conference on Practical Applications & Exhibition (SCOPEX 2026) di Hotel Adimulia, Medan, Sumatera Utara, Rabu (19 Mei 2026).
Berdasarkan data Ditjen Perkebunan Kementerian Pertanian RI, Sekitar 4,9 juta hektare perkebunan kelapa sawit di Indonesia diperkirakan telah terinfeksi Ganoderma. Di wilayah Sumatera serangan Ganoderma diperkirakan antara 39% hingga 52%, disusul Kalimantan (19%), Sulawesi (10%), dan wilayah Maluku-Papua (9%).
Ketua Konsorsium Ganoderma Indonesia, Indra Syahputra, menjelaskan serangan Ganoderma memberikan dampak signifikan bagi perkebunan sawit dari aspek kehilangan produksi yang mampu menurunkan produksi antara 50% hingga 80%.
Dampak lainnya seperti Kajian Petterson (2019) bahwa Ganoderma juga memperpendek umur ekonomis tanaman hingga 50%.
Selanjutnya terjadi penurunan densitas (kerapatan) pohon. Di generasi pertama, serangan baru berdampak 0-2% bagi kerapatan tanaman. Lalu dampaknya akan melonjak kepada 30%-40% pada generasi kedua, dan melebihi 40% menjelang tahun ke-14 atau ke-15 pada generasi ketiga.
Semakin gawatnya serangan Ganoderma ini perlu menjadi perhatian bersama semua pihak. Indra Syahputra menawarkan strategi pengendalian strategi pengendalian terpadu (integrated management) melalui serangkaian enam metode.
Pengalaman kebun Socfindo kebun Tanah Gambus, Bangun Bandar dan Matapao, generasi planting ke-4. Serangan Ganoderma dipengaruhi oleh riwayat tingkat serangan generasi sebelumnya. Terjadi kehilangan di akhir Generasi 1 dan 3, patogen masih memanfaatkan sisa kayu dan tunggul lama, sehingga serangan ke tanaman berlangsung lambat dan baru terlihat pada akhir umur kebun.
Pertama, penggunaan bahan tanaman toleran (varietas moderat tahan): Penggunaan benih toleran ganoderma seperti DxP Socfindo MT Gano terbukti mengurangkan tingkat serangan berbanding material non-toleran.
Kedua, sanitasi lahan dan pembersihan tunggul. Pemusnahan tunggul pokok lama secara mekanikal (eradikasi) semasa fasa penanaman semula (replanting). Ketiga, metode replanting yang tepat. Keempat, menjalankan Perbaikan drainase. Kelima, penggunaan agen hayati. Keenam, melakukan kegiatan pemantauan dini.
"Perang melawan Ganoderma akan menjadi jauh lebih efektif sekiranya kita menggabungkan penggunaan tanaman tahan dengan amalan kultur teknis terbaik, sanitasi ladang, dan penggunaan agen biologi yang tepat," kata Indra Syahputra.
Menurutnya semua pihak berkepentingan, termasuk swasta, pekebun kecil, universitas, serta pemerintah Indonesia dan Malaysia, bersatu padu bagi memenangi peperangan menentang penyakit kelapa sawit ini.














