• Selasa, 29 September 2026
Berita Terbaru

Pelatihan Panen-Pascapanen Bantu Pekebun Bengkulu Selatan Tingkatkan Rendemen

Bengkulu, SAWIT INDONESIA — Sebanyak 115 pekebun kelapa sawit asal Kabupaten Bengkulu Selatan mengikuti Pelatihan Panen dan Pascapanen dalam Program Pengembangan Sumber Daya Manusia Perkebunan Kelapa Sawit (SDMP) 2026. Pelatihan yang diselenggarakan Akademi Komunitas Perkebunan Yogyakarta (AKPY) dengan dukungan Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) dan Direktorat Jenderal Perkebunan (Ditjenbun) Kementerian Pertanian ini, berlangsung pada 8–12 September 2026 di salah satu hotel di Bengkulu.

Pelatihan tersebut diarahkan untuk meningkatkan kemampuan pekebun dalam menerapkan teknik panen dan pascapanen yang tepat, sehingga kualitas tandan buah segar (TBS), rendemen, dan pendapatan pekebun dapat meningkat.

Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Bengkulu Selatan, Binagransyah, SP, MM, mengatakan pelatihan tersebut menjadi kesempatan penting bagi pekebun untuk memperbaiki praktik panen dan pascapanen di kebun masing-masing.

“Pelatihan peningkatan SDM panen dan pascapanen ini sangat bermanfaat bagi petani dan keluarga petani di Bengkulu Selatan. Saya berharap seluruh peserta mengikuti kegiatan ini dengan baik dan menyerap ilmu yang diberikan,” ujarnya pada pembukaan pelatihan, Selasa (8/9/2026).

Menurutnya, salah satu kunci mendapatkan rendemen tinggi adalah memastikan tandan buah segar (TBS) dipanen pada tingkat kematangan yang tepat. Buah yang telah matang dan menghasilkan brondolan menjadi indikator penting dalam menentukan waktu panen.

Binagransyah menilai praktik panen dengan tingkat kematangan yang tepat masih perlu diperkuat di kalangan pekebun Bengkulu Selatan. Padahal, kualitas panen berpengaruh terhadap rendemen dan pada akhirnya dapat menentukan nilai jual TBS yang diterima pekebun.

“Selama ini petani selalu menuntut harga yang terbaik. Tetapi kita juga harus memperbaiki cara panen. Setelah mengikuti pelatihan ini, mari kita lakukan cara dan waktu panen yang terbaik sehingga rendemen bisa mencapai tingkat yang tinggi,” katanya.

Ia berharap pengetahuan yang diperoleh selama pelatihan tidak berhenti di ruang kelas. Peserta diminta langsung menerapkan teknik panen dan pascapanen yang dipelajari ketika kembali ke kebun masing-masing.

Binagransyah juga mengapresiasi kehadiran AKPY beserta tim instruktur yang datang memberikan pelatihan kepada pekebun Bengkulu Selatan. Menurutnya, kompetensi instruktur menjadi salah satu faktor penting agar materi yang diberikan dapat diterapkan secara praktis oleh peserta.

Ia menambahkan, AKPY tidak hanya berperan sebagai lembaga pelatihan, tetapi juga memiliki fungsi pendidikan dalam menyiapkan sumber daya manusia perkebunan. AKPY juga menjadi salah satu dari 42 perguruan tinggi atau lembaga pendidikan yang terlibat dalam program beasiswa SDM Sawit yang didukung BPDP.

“Tidak ada keraguan bahwa instruktur-instruktur yang ada di AKPY sangat kompeten. Saya berharap ilmu yang diberikan dapat diserap dan diterapkan oleh peserta di kebun masing-masing,” ujarnya.

Selain teknik panen, Binagransyah mengingatkan bahwa produktivitas kebun juga dipengaruhi oleh pengelolaan faktor dasar budidaya. Ia menyebut tanaman kelapa sawit membutuhkan air, sinar matahari, dan nutrisi yang cukup untuk mendukung pertumbuhan dan produksi.

“Ketika ketiganya diterapkan dengan baik, ditambah waktu dan cara panen yang tepat, kualitas hasil kebun akan semakin baik,” katanya.

Ia juga mendorong peserta menjadi perpanjangan tangan pelatihan dengan membagikan pengetahuan kepada pekebun lain yang belum mendapatkan kesempatan mengikuti program tersebut.

“Ilmu yang didapat hari ini jangan hanya untuk diri sendiri. Transfer juga kepada kawan-kawan yang belum sempat mengikuti pelatihan, karena pengetahuan ini sangat bermanfaat untuk pengelolaan kebun sawit,” tutur Binagransyah.

Artikel Terkait