Pekanbaru, SAWIT INDONESIA — Industri kelapa sawit nasional dinilai masih memiliki ruang besar untuk meningkatkan daya saing, terutama melalui produktivitas, hilirisasi, teknologi rendah emisi, hingga penguatan posisi Indonesia di pasar global.
Ketua Dewan Minyak Sawit Indonesia (DMSI) Sahat Sinaga mengatakan Indonesia memang telah menjadi salah satu pemain utama sawit dunia. Namun, keunggulan tersebut belum sepenuhnya mencerminkan potensi industri sawit nasional.
Hal itu disampaikan Sahat dalam diskusi bertema "Inovasi Sawit Bernilai Tambah Tinggi yang Berkelanjutan" pada sesi kedua hari pertama 4th Sawit Indonesia Expo and Conference (SIEXPO) 2026 di Pekanbaru, Riau, Kamis (6 Agustus 2026).
"Strategi sawit Indonesia agar tetap unggul akan saya paparkan. Karena selama ini unggul memang, tapi masih semu," kata Sahat.
Dalam paparannya, Sahat mengusulkan sembilan pilar yang perlu diperkuat agar industri sawit Indonesia mampu menciptakan nilai tambah lebih besar dan mempertahankan daya saing di tengah tantangan global.
Menurut Sahat, langkah pertama yang perlu dilakukan adalah mendefinisikan kembali sawit. Komoditas tersebut tidak semestinya hanya dipandang sebagai sumber minyak atau lemak, tetapi juga sebagai sumber pangan dan energi dengan berbagai kandungan bernilai ekonomi.
Ia mencontohkan kandungan karotenoid pada sawit yang menurutnya memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai produk pangan bernilai tambah.
"Kalau segi makanan, bukan hanya lemak trigliserida, tapi dia sangat kaya akan nutrisi alami. Ada tujuh, karotenoid," ujarnya.
Selain pangan, Sahat menilai sawit memiliki prospek besar sebagai sumber energi. Menurut dia, karakteristik kimia minyak sawit memungkinkan komoditas tersebut dikembangkan ke berbagai produk energi.
"Sawit adalah harta karun yang dianugerahkan bagi bangsa ini. Sayangnya kita terlalu bodoh sawit itu apa," tegasnya.
Sahat mengatakan salah satu persoalan mendasar yang harus segera diselesaikan adalah rendahnya produktivitas kebun rakyat. Berdasarkan catatannya, produksi tandan buah segar (TBS) petani saat ini hanya sekitar 9,2 ton per hektare per tahun.
Angka tersebut jauh di bawah produktivitas perkebunan PTPN yang mencapai sekitar 25 ton per hektare per tahun. Bahkan, produktivitas Socfindo disebut telah mencapai 28 ton per hektare per tahun.
Menurut Sahat, kesenjangan produktivitas tersebut menunjukkan perlunya pembenahan serius, termasuk melalui peremajaan tanaman dan penerapan teknologi budidaya.
Masalah produktivitas juga semakin kompleks dengan adanya serangan Ganoderma serta persoalan legalitas lahan. Di sisi lain, petani sawit dinilai masih berada dalam posisi yang rentan karena banyak yang belum memiliki organisasi yang kuat.
"Petani termarjinalkan. Karena mereka individu, kalau melawan besar tidak berdaya. Karena mereka tidak berorganisasi," ujarnya.
Sahat juga menyoroti banyaknya kementerian dan lembaga yang memiliki kewenangan terhadap industri sawit. Kondisi tersebut dinilai berpotensi menimbulkan tumpang tindih kebijakan.
"Saya pernah ditanya salah satu menteri kenapa sawit kita tidak maju, karena 34 kementerian di atas kapal induk ini. Saking sayangnya semua lego jangkar. Kapan berangkatnya kapal ini," katanya.
Sembilan Pilar Sawit Indonesia
Untuk mengatasi persoalan tersebut, Sahat memaparkan sembilan pilar yang menurutnya penting bagi masa depan industri sawit nasional.
Pertama, Indonesia perlu memperkuat sistem sertifikasi, termasuk Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO), sebagai bagian dari upaya memastikan praktik perkebunan memenuhi standar keberlanjutan.
Kedua, Indonesia dinilai perlu memiliki bursa sawit yang kuat. Menurut Sahat, keberadaan bursa tersebut dapat membantu Indonesia beralih dari posisi price taker menjadi price setter dalam perdagangan sawit global.
"Kalau punya kita akan jadi price setter, bukan price taker. Kita hanya mengambil harga Rotterdam, Malaysia, ICDX," jelasnya.
Ketiga, Indonesia perlu memperkuat dialog dan kerja sama terkait regulasi pasar global, termasuk European Union Deforestation Regulation (EUDR). Sahat bahkan mengusulkan agar pihak EUDR dapat diundang dalam forum SIEXPO untuk membangun pemahaman dan kerja sama yang lebih baik.
Pilar keempat adalah teknologi dan inovasi. Sahat mencontohkan pemanfaatan baterai penyimpanan energi yang dapat menyimpan listrik berkapasitas sekitar 300 kilowatt. Teknologi tersebut, menurutnya, dapat digunakan untuk penerangan maupun mendukung operasional pabrik ketika pembangkit utama tidak beroperasi.
Dengan teknologi penyimpanan energi, ketergantungan pabrik kelapa sawit terhadap generator diesel dapat ditekan.
Pilar kelima adalah hilirisasi dan diversifikasi produk, termasuk pemanfaatan limbah sawit. Sahat menilai industri nasional masih terlalu terkonsentrasi pada minyak sawit, padahal terdapat banyak produk turunan yang berpotensi memiliki nilai ekonomi jauh lebih tinggi.
Dia mencontohkan produk berbasis nira sawit yang dapat dikembangkan menjadi palm syrup. Menurutnya, pengembangan produk tersebut dapat membuka pasar baru sekaligus meningkatkan nilai ekonomi tanaman sawit.
"Pada harga US per ton bisa menjadi US.800 per ton. Jadi yang merah-merah ini belum kita jamah selama ini," ujarnya.
Sahat juga mengusulkan perubahan cara pandang terhadap produk sawit. Menurutnya, industri tidak seharusnya hanya berorientasi pada crude palm oil (CPO), tetapi mengembangkan produk berdasarkan sumber bahan bakunya.
"Kenapa cuma sawit doang, soybean tidak ada crude. Kedelai tidak ada crude. Makanya saya usulkan kementerian untuk teknologi mendatang jangan keluarkan crude palm oil, tapi DPMO," katanya.
Pilar keenam berkaitan dengan pemberdayaan petani. Sahat menekankan agar petani ditempatkan sebagai subjek dalam industri sawit, bukan sekadar objek kebijakan.
Potensi Karbon dan Teknologi Rendah Emisi
Pilar ketujuh adalah pengembangan ekonomi sirkular melalui environmental, social and governance (ESG) serta pasar karbon.
Sahat memperkirakan emisi dari pabrik kelapa sawit masih cukup besar. Dengan produksi CPO nasional sekitar 50 juta ton, ia menilai terdapat potensi pengurangan emisi yang sekaligus dapat dikonversi menjadi nilai ekonomi melalui perdagangan karbon.
Dia menyebut teknologi pabrik minyak sawit rendah emisi sebagai salah satu inovasi yang perlu dikembangkan untuk menangkap peluang tersebut.
"Teknologi PKS sekarang itu usang. Namanya teknologi itu Pabrik Minyak Sawit Emisi Karbon Rendah, PAMER. Ini sudah akan dibeli China," ujarnya.
Pilar kedelapan adalah penguatan ketertelusuran rantai pasok global. Menurut Sahat, kemampuan melacak asal-usul dan proses produksi komoditas akan semakin penting seiring meningkatnya tuntutan pasar internasional terhadap produk yang berkelanjutan.
Adapun pilar kesembilan adalah memperluas akses pasar sekaligus memperkuat diplomasi sawit Indonesia. Hal tersebut dinilai penting untuk menghadapi berbagai kebijakan perdagangan dan kampanye negatif terhadap sawit di pasar global.
Replanting 2,4 Juta Hektare
Sahat juga memaparkan rencana peremajaan sawit rakyat yang menurutnya dapat menjadi salah satu kunci untuk meningkatkan produktivitas nasional.
Program tersebut ditargetkan mencakup sekitar 2,4 juta hektare dalam waktu enam tahun dengan kebutuhan pembiayaan sekitar Rp171 triliun. Melalui peremajaan, produktivitas kebun rakyat ditargetkan meningkat dari sekitar 9,2 ton TBS per hektare per tahun menjadi 21,3 ton.
Menurut perhitungannya, peningkatan produktivitas tersebut berpotensi mendorong pendapatan industri sawit nasional secara signifikan. Pada 2025, revenue sawit disebut mencapai sekitar US,2 miliar. Jika program peremajaan dilakukan dan biomassa dimanfaatkan secara optimal, potensi revenue diperkirakan dapat mencapai US9 miliar.
Sahat menyebut program tersebut akan dibawa dalam pembahasan bersama Kementerian PPN/Bappenas dan diarahkan menjadi salah satu proyek strategis nasional.
Dia juga mengungkapkan skema pembiayaan peremajaan dapat dikembangkan melalui kerja sama dengan investor luar negeri. Dengan skema tersebut, petani tidak lagi sepenuhnya bergantung pada pengajuan pembiayaan peremajaan kepada Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP).
"Jadi dengan Rp171 triliun tadi tidak perlu lagi petani mengemis ke BPDP untuk replanting karena akan disuplai China dengan catatan memperoleh karbon," pungkas Sahat.
Diskusi tersebut turut menghadirkan Ketua Umum Asosiasi Inventor Indonesia sekaligus profesor riset Didiek Hadjar Goenadi, pengurus GAPKI yang menangani best management practices Indra Saputra, serta Kepala Bidang Pengolahan dan Pemasaran Hasil Dinas Perkebunan Provinsi Riau Defris Hatmaja. Diskusi dipandu praktisi perkelapasawitan Fachri Yasin.














