• Kamis, 8 Oktober 2026
Berita Terbaru

Sawit RI Dibilang Bermasalah? Hashim Sebut Sawit RI Justru Laris di Eropa

Jakarta, SAWIT INDONESIA - Uni Eropa ternyata sangat bergantung pada pasokan kelapa sawit dari Indonesia. Hal ini diungkap langsung oleh Utusan Khusus Presiden Bidang Energi dan Iklim, Hashim Djojohadikusumo, saat menghadiri Breakfast Forum yang digelar Kadin dan Madef di Paris, Selasa (15/7/2025).

“Bukan disanksi, kelapa sawit kita justru sangat dibutuhkan industri Eropa,” tegas Hashim menjawab isu yang selama ini berkembang seputar regulasi sawit di kawasan Uni Eropa.

Ia menyebutkan, berbagai produk rumah tangga dan makanan olahan yang beredar luas di pasar di 27 Negara Eropa mengandalkan bahan baku kelapa sawit dari Indonesia—mulai dari sampo, sabun, hingga biskuit dan margarin.

“Banyak dari produk-produk itu, ingredient-nya—unsur bahan bakunya—adalah kelapa sawit,” ujarnya.

Adik Presiden Prabowo Subianto menilai kesepakatan dagang Indonesia-European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement (IEU-CEPA) akan sangat menguntungkan eksportir sawit Tanah Air. Hashim memberikan bocoran bahwa dalam kesepakatan dagang tersebut, sawit asal Indonesia dipastikan tidak akan dikenakan denda, tanpa memberikan penjelasan lebih lanjut terkait hal ini.

"Eksportir kelapa sawit akan sangat-sangat diuntungkan dengan perjanjian itu. Saya tidak berhak untuk memberikan detail, tapi pertama, kelapa sawit tidak dikenakan sanksi, tidak dikenakan penalti atau denda," ujar Hashim.

Hashim juga menambahkan, pemerintah Indonesia telah diminta memenuhi beberapa syarat teknis dari pihak Eropa. Presiden terpilih Prabowo Subianto disebut telah menyatakan persetujuannya terhadap permintaan tersebut.

“Pak Prabowo sudah setuju. Rincian lebih lanjut akan dijelaskan oleh Pak Airlangga dan Menteri Perdagangan,” katanya.

Ekspor CPO Tetap Moncer, Eropa Bukan Tujuan Utama

Sementara itu, data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa ekspor minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) Indonesia tetap menjadi penyumbang besar neraca dagang nasional.
Deputi Bidang Distribusi dan Jasa BPS, Pudji Ismartini, mengungkapkan bahwa sepanjang Januari hingga Mei 2025, ekspor CPO mencapai USD 8,90 miliar dengan volume 8,30 juta ton.

Tiga negara utama tujuan ekspor CPO selama periode tersebut adalah Pakistan, India, dan Tiongkok—bukan negara-negara Uni Eropa.
Menariknya, pada Mei 2025, nilai ekspor CPO Indonesia melonjak tajam sebesar 61,5 persen dibanding bulan sebelumnya, dengan total nilai USD 1,85 miliar.

Artikel Terkait