Bengkulu, SAWIT INDONESIA – Kelapa sawit menjadi salah satu modal penting bagi Provinsi Bengkulu untuk memperkuat perekonomian daerah. Besarnya potensi perkebunan masyarakat perlu diikuti peningkatan produktivitas agar memberikan nilai tambah bagi daerah dan kesejahteraan pekebun.
Upaya tersebut dilakukan melalui Program Pengembangan SDM Perkebunan Kelapa Sawit (SDMP) 2026 yang diselenggarakan Akademi Komunitas Perkebunan Yogyakarta (AKPY) dengan dukungan Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) dan Direktorat Jenderal Perkebunan (Ditjenbun) pada 27 Agustus–1 September 2026 di Bengkulu.
Kepala Dinas Perkebunan Kabupaten Bengkulu Utara, Madeslianto, S.Sos., MS., M.A.P., mengatakan potensi perkebunan masyarakat harus dikelola secara optimal, salah satunya melalui penguatan kapasitas pekebun.
“Dengan potensi yang ada tentu ini menjadi modal bagi kita semua untuk terus meningkatkan produksi pertanian, khususnya selain daripada perkebunan pihak swasta, tentu juga kita dari perkebunan masyarakat,” ujar Madeslianto saat membuka pelatihan SDMP 2026 di Bengkulu.
Menurutnya, Bengkulu memiliki potensi perkebunan besar, sementara Bengkulu Utara merupakan salah satu daerah dengan basis perkebunan masyarakat yang kuat. Potensi tersebut harus menjadi kekuatan untuk meningkatkan produksi dan perekonomian daerah.
Ia menyebut PDRB Mukomuko menjadi yang terbesar di antara kabupaten di Bengkulu, disusul Bengkulu Utara. Hal itu menunjukkan besarnya potensi perkebunan kedua daerah.
80 Pekebun Bengkulu Utara Ikuti Pelatihan
Sebanyak 80 pekebun Bengkulu Utara mengikuti Pelatihan Teknis Budidaya Kelapa Sawit. Dari Mukomuko, terdapat 47 peserta pada pelatihan teknis budidaya serta 29 peserta pada pelatihan teknis panen dan pascapanen. Total peserta dari kedua kabupaten mencapai 156 pekebun.
Madeslianto meminta peserta mengikuti pelatihan secara serius, aktif berdiskusi, dan menyerap pengetahuan teknis untuk diterapkan di kebun.
“Bersungguh-sungguh untuk mengikuti acara ini, berinteraksi, kalau perlu tanya jawab, diskusi dan sebagainya untuk pengembangan kelapa sawit kita, khususnya di Bengkulu Utara dan secara umum di Provinsi Bengkulu,” ujarnya.
Menurutnya, peningkatan kapasitas pekebun penting karena perkebunan masyarakat merupakan bagian strategis dalam ekonomi daerah. Melalui pelatihan ini, pekebun diharapkan mampu menerapkan teknik budidaya yang lebih baik sehingga produktivitas kebun yang ada dapat dioptimalkan.
Belajar di Kelas dan Lapangan
Rangkaian pelatihan juga dilengkapi kunjungan lapangan ke PT Bumi Raflesia Indah. Kegiatan ini memberikan kesempatan kepada peserta melihat langsung praktik pengelolaan perkebunan dan membandingkannya dengan materi yang diperoleh di kelas.
Madeslianto berharap peserta memanfaatkan kunjungan tersebut untuk bertanya, berdiskusi, dan menyerap praktik yang relevan.
“Belajar tidak hanya di lapangan, tapi bisa juga di kelas dan sebagainya,” katanya.
Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga lingkungan, terutama menghadapi risiko kebakaran lahan saat kondisi kering dan ancaman El Niño. Masyarakat diminta tidak membuka lahan dengan cara membakar.
Pemerintah daerah bersama aparat keamanan juga telah melakukan pencegahan, termasuk apel gabungan untuk mengantisipasi pembakaran lahan.
Menurut Madeslianto, peningkatan produktivitas harus berjalan seiring dengan keberlanjutan lingkungan. Melalui SDMP 2026, penguatan pengetahuan dan keterampilan pekebun diharapkan mampu mendorong pengelolaan sawit yang lebih produktif, bermutu, dan berkelanjutan.
Pada akhirnya, potensi perkebunan masyarakat diharapkan menjadi penggerak ekonomi daerah sekaligus meningkatkan kesejahteraan pekebun Bengkulu.














