• Sabtu, 3 Oktober 2026
Kinerja

Sawit dalam Pusaran Global: Harga Naik, Pasokan Mengetat

Indonesia Palm Oil Strategic Studies memproyeksikan harga crude palm oil (CPO) global akan menguat signifikan sepanjang triwulan II/2026. Kenaikan ini didorong oleh meningkatnya tensi geopolitik serta gangguan pada pasar energi global.

Dalam laporan Outlook Sawit Q2 2026, IPOSS mencatat harga CPO naik dari sekitar US.165 per ton pada Maret menjadi US.440 per ton pada April. Tren ini diperkirakan berlanjut hingga US.701 per ton pada Mei dan mencapai US.783 per ton pada Juni 2026.

“Penguatan ini terutama didorong oleh kenaikan harga minyak mentah dunia, gangguan distribusi energi, dan meningkatnya premi risiko akibat eskalasi konflik,” tulis IPOSS dalam laporannya dikutip Selasa (31 Maret 2026).

IPOSS menilai pasar CPO kini semakin terintegrasi dengan pasar energi global. Kenaikan harga minyak mentah membuat biodiesel berbasis sawit lebih kompetitif dibandingkan bahan bakar fosil.

Selain itu, lonjakan harga energi turut meningkatkan biaya logistik global. Kondisi ini memperkuat posisi CPO sebagai alternatif energi sekaligus komoditas strategis.

IPOSS menekankan bahwa pelaku pasar tidak lagi hanya mempertimbangkan faktor produksi dan ekspor. Peran sawit sebagai substitusi energi kini menjadi variabel utama dalam pembentukan harga.

Di dalam negeri, harga CPO juga menunjukkan tren kenaikan. IPOSS mencatat harga sekitar Rp15.065 per kilogram pada Maret dan memperkirakan naik menjadi Rp18.776 per kilogram pada April 2026.

Pemerintah tetap mengendalikan harga melalui skema Harga Referensi (HR), Pungutan Ekspor (PE), dan Bea Keluar (BK) yang mengacu pada mekanisme export parity price. Kebijakan ini menjaga keseimbangan antara kebutuhan domestik dan ekspor.

Produksi Nasional Mengalami Koreksi Tipis

Di sisi pasokan, IPOSS melihat tekanan pada produksi nasional. Hingga akhir kuartal II/2026, produksi CPO dan CPKO diperkirakan mencapai 23,7 juta ton, sedikit turun dari 24,0 juta ton pada periode yang sama tahun lalu.

Meski demikian, capaian tersebut masih berada dalam kisaran historis dan belum menunjukkan pelemahan signifikan.“Hal ini menunjukkan bahwa kinerja produksi semester I 2026 belum mengalami penurunan tajam,” tulis IPOSS.

Koreksi produksi dipengaruhi oleh faktor cuaca dan dampak lanjutan gangguan operasional. Sejumlah wilayah sentra sawit masih menjalani pemulihan pascabanjir akhir 2025.

Selain itu, kondisi cuaca yang cenderung lebih kering di beberapa daerah menekan pembentukan tandan buah segar (TBS), terutama menjelang puncak panen.

Secara historis, produksi kuartal II biasanya meningkat. Namun, pada 2026, peningkatan tersebut tidak berlangsung optimal.

Pasokan Masih Terjaga, Namun Lebih Ketat

IPOSS memperkirakan produksi pada April–Juni 2026 sedikit lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pemulihan kebun dan infrastruktur yang belum tuntas turut menahan peningkatan produktivitas.

Dari sisi neraca supply–demand, kondisi ini membuat ruang pasok pada semester I/2026 menjadi lebih terbatas. Meski begitu, penurunan masih bersifat moderat dan belum mencerminkan masalah struktural.

Secara keseluruhan, pasokan CPO nasional masih tergolong aman. Namun, potensi penurunan surplus perlu dicermati seiring meningkatnya sensitivitas pasar terhadap faktor global.

IPOSS menilai kenaikan harga CPO pada kuartal II/2026 bukan sekadar tren jangka pendek. Pergerakan ini mencerminkan perubahan struktur pasar yang semakin dipengaruhi hubungan antara energi, geopolitik, dan perdagangan global.

“Penguatan harga pada Q2 2026 bukan sekadar gejala jangka pendek, tetapi bagian dari perubahan yang lebih luas,” tulis IPOSS.

Dampak Harga TBS Sawit

Proyeksi kenaikan Harga Referensi sepanjang Q2 2026 berdampak langsung terhadap struktur pungutan ekspor CPO. Pungutan ekspor dihitung sebesar 12,5% dari HR sesuai PMK Nomor 9 Tahun 2026, sehingga besarannya mengikuti pergerakan harga referensi: sekitar US3,70 per ton pada April, US9,81 per ton pada Mei, dan US7,84 per ton pada Juni. April 2026 sekaligus menandai transisi penting dari tarif lama 10% yang berlaku pada Q1 menuju tarif baru 12,5% pada Q2. Karena itu, lonjakan pungutan ekspor dari Maret ke April bukan hanya disebabkan oleh kenaikan harga referensi, tetapi juga oleh perubahan tarif itu sendiri.

Sementara itu, bea keluar mengalami kenaikan yang lebih progresif karena mengikuti mekanisme Pos Tarif sebagaimana diatur dalam PMK Nomor 68/PMK.010/2025. Dalam skema tersebut, besaran bea keluar meningkat secara bertahap dari US

Hot Topics

Decentralized Bitcoin Exchange Hodl Hodl to Launch OTC Desk for Large Traders

Black farmers in the US’s South faced with the continued failure their efforts to run farm their launched a lawsuit claiming that “white racism” is to blame for their inability to their produce crop yields.

The clock is ticking for e-cig companies to block underage e-cig companies users

Black farmers in the US’s South faced with the continued failure their efforts to run farm their launched a lawsuit claiming that “white racism” is to blame for their inability to their produce crop yields.

Fashion Week continues with its penultimate day featuring looks from Marc Jacobs and more.

Black farmers in the US’s South faced with the continued failure their efforts to run farm their launched a lawsuit claiming that “white racism” is to blame for their inability to their produce crop yields.

Retro prawn cocktail – straight from the 80’s! easy lemon rice (yellow rice)

Black farmers in the US’s South faced with the continued failure their efforts to run farm their launched a lawsuit claiming that “white racism” is to blame for their inability to their produce crop yields.

Week continues with its penultimate day featuring looks from Marc Jacobs and more.

Black farmers in the US’s South faced with the continued failure their efforts to run farm their launched a lawsuit claiming that “white racism” is to blame for their inability to their produce crop yields.

Most Viewed

pada Pos 1 hingga maksimum US8 per ton pada Pos 17, seiring dengan kenaikan Harga Referensi (HR) CPO dalam interval sekitar US per ton.

Kombinasi kenaikan pungutan ekspor dan bea keluar menyebabkan total pungutan meningkat dari

US7,89 per ton pada Maret 2026 menjadi US1,70 per ton pada April, kemudian naik tajam menjadi US9,81 per ton pada Mei, dan mencapai US7,84 per ton pada Juni 2026. Dengan demikian, total pungutan pada April tercatat meningkat 24,7% dibandingkan Maret, lalu melonjak menjadi 78,9% pada Mei dan 110,1% pada Juni.

Kenaikan yang sangat cepat ini menunjukkan bahwa penguatan harga global tidak hanya meningkatkan nilai pasar CPO, tetapi juga secara langsung memperbesar beban pungutan bagi industri ekspor dalam waktu singkat.

Kenaikan pungutan ekspor dan bea keluar pada Q2 2026 tidak hanya berdampak pada eksportir, tetapi juga berpotensi memengaruhi pembentukan harga di sepanjang rantai pasok sawit domestik. Dalam praktiknya, peningkatan PE dan BK menambah beban biaya pada perdagangan CPO, sehingga memengaruhi harga efektif CPO lokal yang menjadi acuan bagi industri pengolahan. Ketika harga neto CPO yang diterima pelaku usaha dibentuk setelah memperhitungkan pungutan ekspor dan bea keluar, ruang bagi pabrik kelapa sawit (PKS) untuk membeli Tandan Buah Segar (TBS) petani dengan harga yang lebih tinggi menjadi lebih terbatas.

Namun demikian, kondisi tersebut perlu dibaca secara proporsional. Pada Q2 2026, harga CPO lokal juga diproyeksikan meningkat cukup kuat, dari sekitar Rp15.065/kg pada Maret menjadi sekitar Rp18.776/kg pada April, Rp21.182/kg pada Mei, dan tetap berada pada kisaran Rp21.400/kg pada Juni. Pergerakan ini menunjukkan bahwa meskipun PE dan BK menambah beban dalam sistem industri sawit secara keseluruhan, harga TBS yang diterima petani tetap berpotensi meningkat karena ditopang oleh level harga CPO domestik yang lebih tinggi dibandingkan periode sebelumnya.Dengan demikian, implikasi utama dari kenaikan pungutan bukanlah menurunkan harga TBS secara absolut, melainkan lebih pada mengurangi besaran manfaat yang seharusnya dapat diterima petani apabila kenaikan harga CPO lokal ditransmisikan secara lebih penuh. Namun demikian, pungutan ekspor tidak semata-mata berhenti sebagai beban di tingkat industri. Dalam sistem kelembagaan sawit nasional, penerimaan dari pungutan ekspor menjadi sumber pendanaan BPDP untuk membiayai berbagai program strategis di dalam negeri.

Artikel Terkait