• Selasa, 6 Oktober 2026
Berita Terbaru

Saingi Sawit, Kanola dan Sorgum Jadi Fokus Australia untuk Bahan Bakar Bersih

Jakarta, SAWIT INDONESIA - Pemerintah Australia mengalokasikan dana sebesar A,1 miliar (sekitar Rp12 triliun) untuk periode 10 tahun ke depan guna mendorong pengembangan bahan bakar berbasis tumbuhan yang berkelanjutan secara domestik. Langkah ini diperkirakan akan disambut baik oleh industri biji-bijian yang sudah lama menunggu dukungan pemerintah.

Menteri Keuangan Jim Chalmers menyatakan, dana tersebut diharapkan dapat menarik investasi swasta sehingga produksi bahan bakar bersih pertama di dalam negeri dapat dimulai paling cepat pada 2029. Menurut Chalmers, Australia memiliki semua elemen yang dibutuhkan untuk produksi biofuel skala besar, termasuk pasokan kanola dan sorgum. “Bahan bakar cair rendah karbon menawarkan peluang ekonomi yang sangat besar bagi Australia,” ujar Chalmers, dikutip Bloomberg, Rabu (17/9/2025).

Kanola merupakan tanaman dari keluarga kubis-kubisan (Brassicaceae) yang bijinya bisa diolah menjadi minyak sehat untuk jantung dan bungkil untuk pakan ternak, sekaligus bahan baku biodiesel dan bahan bakar penerbangan (SAF). Sorgum, di sisi lain, potensial untuk bioetanol karena batang dan bijinya kaya gula yang bisa difermentasi.

Pengembangan biofuel di Australia berbeda dengan Indonesia, yang mengandalkan minyak sawit (CPO) untuk biodiesel serta tebu dan jarak untuk bioetanol. Beberapa negara eksportir pertanian utama seperti Amerika Serikat dan Brasil telah lebih dulu memanfaatkan hasil bumi mereka untuk produksi bahan bakar berkelanjutan, sebagai upaya meningkatkan margin sekaligus menekan emisi. Ketertinggalan Australia di sektor ini kerap memicu kekecewaan di kalangan petani.

Menanggapi kebijakan ini, GrainCorp, perusahaan perdagangan komoditas Australia, menyatakan dukungan. Kepala Divisi Agri-Energi GrainCorp, Jesse Scott, menyoroti bahwa sekitar 70% kanola nasional saat ini diekspor mentah dan diolah oleh negara lain menjadi bahan bakar terbarukan. “Kami ingin menambah nilai dan mengubah kanola menjadi bahan bakar terbarukan di Australia, untuk memastikan masa depan tercipta di dalam negeri,” ujar Scott.

Artikel Terkait