Palembang, SAWIT INDONESIA – Sebanyak 111 pekebun dari Kabupaten Muara Enim dan Musi Rawas dibekali keterampilan teknis panen dan pascapanen untuk meningkatkan produktivitas dan mutu tandan buah segar (TBS).
Pelatihan Program Pengembangan SDM Perkebunan (SDMP) 2026 berlangsung 25–29 Agustus 2026 di Palembang. Kegiatan diselenggarakan PT Riset Perkebunan Nusantara (RPN) dengan dukungan Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) dan Direktorat Jenderal Perkebunan (Ditjenbun). Peserta terdiri dari pekebun dari dua kabupaten di Sumatra Selatan (60 pekebun Muara Enim dan 51 pekebun Musi Rawas).
Kepala Bagian Usaha Hulu Pusat Penelitian Kelapa Sawit PT RPN, Fandi Hidayat, P.Hd., mengatakan pelatihan menjadi momentum meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan kompetensi pekebun dalam pengelolaan panen dan pascapanen.
“Panen dan pascapanen bukan sekadar tahapan akhir produksi. Teknik yang tepat dapat membantu menggali potensi produksi yang sudah tersedia di kebun,” katanya, pada Selasa (25 Agustus 2025).
“Pelatihan ini merupakan bagian penting, terutama dalam hal kita menggali potensi produksi yang ada di lahan Bapak dan Ibu sekalian,” imbuh Fandi.
Lebih lanjut, ia menambahkan, produktivitas tidak hanya ditentukan luas lahan, tetapi juga kemampuan mengelola setiap tahapan produksi. Oleh karena itu, peserta didorong aktif berdiskusi dan menerapkan ilmu setelah kembali ke kebun.
“Ilmu yang diperoleh pada kegiatan ini dapat diterapkan, diimplementasikan ketika nanti Bapak dan Ibu sudah kembali ke tempat masing-masing,” ujarnya.
Selain pembelajaran di kelas, peserta mengikuti kunjungan lapangan ke PT Binasawit Makmur dan PT Minanga Ogan pada Kamis (27 Agustus 2026).
Kunjungan ini memberi kesempatan kepada pekebun melihat langsung penerapan teknis panen dan pascapanen serta menghubungkannya dengan materi yang dipelajari. Pengalaman tersebut diharapkan menjadi bekal untuk diterapkan di kebun masing-masing.
Produktivitas harus diikuti mutu
Kepala Dinas Perkebunan Kabupaten Muara Enim, Isdrin, S.T., mengatakan pekebun sawit mandiri masih menghadapi persoalan pemasaran TBS, termasuk kesenjangan harga dengan pekebun mitra PKS.
“Memang terjadi gap harga antara petani sawit mandiri dengan petani sawit mitra, mitra PKS,” kata Isdrin.
Menurutnya, peningkatan produksi harus diikuti kualitas hasil, akses pasar, dan posisi tawar agar memberikan nilai ekonomi lebih baik.
Isdrin meminta 60 pekebun Muara Enim memanfaatkan pelatihan untuk membahas berbagai kendala di lapangan, khususnya produksi, panen, dan pascapanen.
“Silakan diskusikan apa yang menjadi persoalan atau kendala para petani, khususnya untuk meningkatkan produksi, pengelolaan panen kemudian pascapanen,” ujarnya.
Ia menegaskan, ilmu dari pelatihan harus diterapkan di kebun dan memberikan manfaat nyata.
Sementara itu, Kepala Bidang Produksi Tanaman Perkebunan sekaligus Sekretaris Tim SDMP Kabupaten Musi Rawas, Suratno, SP., M.Si., mengatakan peningkatan produktivitas sawit rakyat perlu diikuti penerapan Good Agricultural Practices (GAP).
“Tujuan dari pelatihan SDM ini tidak lain adalah untuk meningkatkan pemahaman, kemampuan sesuai dengan petani sawit kita sesuai dengan GAP (Good Agricultural Practices), dan juga meningkatkan kemampuan petani dalam berkebun khususnya untuk pengelolaan pascapanen,” kata Suratno.
Sebanyak 51 pekebun Musi Rawas didorong aktif menyimak materi, berdiskusi, dan menerapkan pengetahuan yang diperoleh.
“Bapak/Ibu mendapatkan pelatihan dari para narasumber bisa diterapkan ke kebunnya sendiri dan bisa menularkan ke pekebunnya masing-masing,” ujarnya.
Ilmu panen tak berhenti di kelas
Sedangkan, Kepala Bidang Sarana dan Prasarana Dinas Perkebunan Provinsi Sumatera Selatan, Herlan Kagami, menekankan agar manfaat pelatihan tidak berhenti pada 111 peserta.
Herlan mendorong peserta menjadi penggerak yang mampu membagikan pengetahuan panen dan pascapanen kepada masyarakat sekitar.
“Harapan kami adalah bapak ibu semua setelah mengikuti apa yang kita kerjakan selama beberapa hari ke depan nantinya akan memberi bekal kepada bapak ibu dan pada akhirnya bisa menulari kepada masyarakat di sekitar kita,” ujar Herlan.
Ia meminta peserta menyerap ilmu dari instruktur, aktif berdiskusi, dan bertukar pengalaman.
“Manfaatkan waktu ini dengan sebaik-baiknya, serap ilmu dari para instruktur, aktiflah berdiskusi dan bagikan pengalaman antar sesama peserta dalam rangka menambah wawasan kepada kita semua,” katanya.
Pelatihan diharapkan menciptakan efek berantai. Ilmu yang diperoleh peserta dapat diterapkan untuk memperbaiki pengelolaan kebun sekaligus ditularkan kepada pekebun lainnya.
Bagi Muara Enim dan Musi Rawas, penguatan SDM melalui pelatihan panen dan pascapanen menjadi bagian dari upaya meningkatkan produktivitas dan mutu TBS. Penerapan GAP, pembelajaran di kelas dan lapangan, serta penyebaran pengetahuan diharapkan memperkuat kinerja sawit rakyat secara berkelanjutan.
Pelatihan ini didukung PT RPN, BPDP, Ditjenbun, Dinas Perkebunan Provinsi Sumatera Selatan, Dinas Perkebunan Kabupaten Musi Rawas, dan Dinas Perkebunan Kabupaten Muara Enim.














