• Jumat, 9 Oktober 2026
Berita Terbaru

Rendemen Sawit Rakyat Mukomuko Hanya 16–19%, Perbaikan Harus Dimulai dari Hulu

Bengkulu, SAWIT INDONESIA – Rendemen minyak sawit dari kebun rakyat di Kabupaten Mukomuko, Bengkulu, masih tertinggal dibandingkan kebun perusahaan. Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Mukomuko, Hari Mustaman, S.P., M.P., menyebut rendemen TBS rakyat berada di kisaran 16–19 persen, sedangkan kebun perusahaan mencapai 22–23 persen.

Menurut Hari, kesenjangan tersebut menunjukkan perlunya perbaikan pengelolaan sawit rakyat sejak penyiapan bahan tanam, budidaya, panen hingga pascapanen.

“Rendemen yang berasal dari kebun yang dimiliki oleh perusahaan kisarannya 22 sampai 23 persen. Tetapi yang dimiliki oleh rakyat itu kisaran 16, 17, 18, 19, tidak pernah mencapai 20,” ujar Hari saat membuka Pelatihan Pengembangan SDM Perkebunan Kelapa Sawit (SDMP) 2026 di Bengkulu.

Pelatihan ini diadakan oleh Akademi Komunitas Perkebunan Yogyakarta (AKPY) dengan dukungan Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) dan Direktorat Jenderal Perkebunan (Ditjenbun). Kegiatan diarahkan untuk memperkuat kapasitas pekebun dalam meningkatkan produktivitas dan mutu sawit rakyat.

Hari menegaskan, rendemen merupakan hasil dari rangkaian proses yang saling berkaitan, bukan hanya ditentukan di pabrik.

“Faktor rendemen itu dilihat dari mulai dari penyiapan bibitnya sampai dengan pengolahan dan penanganan pascapanen. Itu satu rangkaian,” katanya.

108 Ribu Hektare Sawit Rakyat

Mukomuko memiliki sekitar 108.000 hektare sawit rakyat dan 54.000 hektare perkebunan HGU. Daerah ini juga memiliki 15 pabrik dari sekitar 55 perusahaan pengolahan kelapa sawit di Bengkulu.

Sektor pertanian berkontribusi sekitar 48,9 persen terhadap PDRB Mukomuko, dengan kelapa sawit menjadi salah satu penggeraknya. Karena itu, peningkatan produktivitas dan mutu sawit rakyat dinilai penting untuk mengoptimalkan nilai ekonomi perkebunan.

Perbaikan dari Hulu hingga Hilir

Hari mengatakan peningkatan rendemen harus dilakukan secara terintegrasi. Pekebun Mukomuko sebelumnya telah mengikuti pelatihan pemetaan dan sarana-prasarana, sedangkan dalam kegiatan ini mereka mendapat materi teknis budidaya serta panen dan pascapanen.

“Kegiatan pertanian atau kegiatan perkebunan ini dari hulu sampai ke hilir merupakan satu kesatuan sistem yang tidak bisa dipisahkan,” katanya.

Pelatihan juga dilengkapi kunjungan lapangan ke PT Bumi Raflesia Indah untuk melihat langsung praktik pengelolaan perkebunan dan membandingkannya dengan materi yang diperoleh.

Hari meminta peserta memadukan teori dengan pengalaman lapangan dan menerapkannya di kebun masing-masing.

“Pengalaman lapangan silakan disoundingkan dengan teori dan lain sebagainya sehingga nantinya pelatihan ini bisa benar-benar memberikan output yang bagus,” ujarnya.

Ujungnya Kesejahteraan Pekebun

Menurut Hari, penguatan kapasitas pekebun bertujuan meningkatkan produksi, produktivitas, mutu, dan keberlanjutan sawit. Peningkatan rendemen juga membuka peluang meningkatkan nilai TBS yang dihasilkan.

Ia berharap peserta menerapkan ilmu yang diperoleh untuk memperbaiki pengelolaan kebun.

“Muaranya adalah pada peningkatan kesejahteraan, taraf hidup dan lain sebagainya,” kata Hari.

Pelatihan SDMP 2026 diikuti pekebun dari Mukomuko dan Bengkulu Utara, dengan materi teknis budidaya serta panen dan pascapanen sebagai bagian dari upaya meningkatkan kapasitas pekebun agar mampu mengelola kebun secara lebih produktif, bermutu, dan berkelanjutan.

Artikel Terkait