• Selasa, 6 Oktober 2026
Berita Terbaru

Raih Penghargaan, Dr. Dwi Asmono: Benih Menjadi Infrastruktur Ketahanan Pangan dan Energi Indonesia

Jakarta, SAWIT INDONESIA – Hampir setengah jam lebih, Ir. Dwi Asmono, MS., Ph.D., IPU, ASEAN Eng., APEC Eng, Direktur PT Sampoerna Agro Tbk, berdiri di hadapan ratusan peserta Indonesia Innovator Lecture dan Indonesia Innovator Award 2025. Dalam kesempatan tersebut, lulusan S3 Iowa University ini menjelaskan sejarah masuknya kelapa sawit di Indonesia dan peranan benih bagi kemajuan industri sawit khususnya ketahanan pangan dan energi Indonesia.

“Saat bicara tanaman, blue printnya berada di benih. Itu yang menentukan masa depan akan seperti apa termasuk sustainability-nya. Benih yang kecil ini, impact-nya sampai ke hilir itu luar biasa. Ini menjadi keyakinan saya di manapun berada,” ujar Dr. Dwi, di Gedung B.J. Habibie, Jakarta, Senin (11/8).

Kegiatan ini merupakan rangkaian dari Indonesia Innovator Award (IIA) 2025 yang digelar Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dan Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP). Dwi Asmono, Ph.D. meraih penghargaan dalam Indonesia Innovator Lecture 2025 yang membawakan presentasi dengan topik “Benih Sawit Masa Depan: Pilar Ketahanan Pangan dan Energi Indonesia”.

“Penghargaan ini menjadikan motivasi saya bagaimana Indonesia lebih resilience dari aspek ketahanan pangan berbasis minyak nabati. Lalu saat pemerintah mengarahkan bioenergy akan menjadi bagian ketahanan bioenergy. Penghargaan ini di luar dari keinginan pribadi,” tambahnya.

Berbicara pemuliaan benih, dikatakan ayah tiga anak ini, bukan kerja satu atau dua orang melainkan sebuah kerja sama tim pemulia benih.”Banyak yang terlibat serta mendukung breeder dan agronomi kita. Saya mengucapkan terima kasih kepada tim dan semua pihak,” paparnya.

Dr. Dwi membuka kuliah ilmiahnya dengan kisah enam butir benih kelapa sawit yang dibawa oleh Belanda dan ditanam di Kebun Raya Bogor pada 1848. Enam butir benih itu yang kemudian didistribusikan ke Sumatra Utara, awalnya hanya menjadi tanaman pagar. Siapa sangka, ini menjadi cikal bakal industri sawit Indonesia.

“Ini bukan kebetulan,” ujar Dwi. Dia menekankan bahwa perjalanan panjang sawit di Indonesia penuh momen strategis. Dari pendirian stasiun penelitian sawit pada 1916, transformasi industri di era Presiden Soeharto pada 1980-an, hingga inovasi genetik modern yang kini memanfaatkan teknologi genom.

Bagi Dwi, yang lebih dari 35 tahun berkecimpung di riset dan industri sawit, benih bukan sekadar input produksi. “Benih adalah infrastruktur strategis ketahanan nasional,” tegasnya.

Produktivitas sawit Indonesia menopang 40 persen pasokan minyak nabati dunia. Namun, potensi genetik varietas unggul yang mencapai 8–9 ton CPO per hektare per tahun belum terwujud di lapangan. Rata-rata nasional masih di bawah 4 ton, dengan gap produktivitas 37 persen di perkebunan besar dan 47 persen di perkebunan rakyat.

“Kita tidak bisa hanya menghasilkan benih yang cocok di satu wilayah. Indonesia punya agroklimat beragam, varietas harus adaptif,” ujarnya.

“Dalam kondisi normal, 50 persen wilayah Indonesia cocok untuk sawit. Namun, saat El Niño, turun menjadi 29 persen,” sebutnya.

Dwi memimpin pengembangan varietas seperti DxP Simalungun, DxP Langkat, dan DxP Sriwijaya—adaptif di lahan kering, produktivitas tinggi, dan kontaminasi non-tenera rendah. Benih ini telah ditanam di 25 provinsi dan diekspor ke Nigeria, India, Peru, serta Honduras.

Dia menceritakan pergeseran strategi dari modified recurrent selection ke genomic selection, yang mempersingkat siklus pemuliaan dan memperkuat seleksi pada populasi besar. Teknologi seperti marker-assisted selection, pengeditan genom, analisis epigenetik, dan rekayasa mikrobioma tanaman kini menjadi bagian integral.

Sekitar 15 tahun lalu, Malaysia memulai pemetaan genom sawit. Indonesia, kata Dwi, memilih jalan kolaborasi, yakni membentuk konsorsium Oil Palm Genome Project bersama mitra internasional. “Sekarang kita bisa bilang ‘kita juga bisa’,” katanya.

Artikel Terkait