• Rabu, 30 September 2026
Berita Terbaru

PTPN IV Keera: Kunci Harga TBS Tinggi Ada pada Penerapan Budidaya Sesuai Standar

Keera, SAWIT INDONESIA – Petani kelapa sawit di Kabupaten Wajo didorong untuk menerapkan standar budidaya sebagaimana yang dilakukan perusahaan perkebunan agar mampu menghasilkan tandan buah segar (TBS) berkualitas tinggi dan memperoleh harga sesuai penetapan pemerintah.

Pesan tersebut disampaikan Manager Kebun PTPN IV Regional 2 Keera, Fahrizal Saputra saat menerima kunjungan lapangan peserta Pelatihan Teknis Budidaya Kelapa Sawit Program Pengembangan SDM Perkebunan Kelapa Sawit (SDMP) 2026 yang diselenggarakan Akademi Komunitas Perkebunan Yogyakarta (AKPY) dengan dukungan BPDP dan Direktorat Jenderal Perkebunan (Ditjenbun).

Dalam sambutannya, ia menyampaikan bahwa keberadaan kelapa sawit di Sulawesi Selatan bukanlah hal baru. Menurutnya, komoditas ini telah berkembang sejak pertengahan 1990-an dan menjadi salah satu sektor yang memiliki prospek besar untuk terus dikembangkan.

Selanjutnya, Fahrizal menjelaskan kebun PTPN IV Regional 2 Keera memiliki sejarah panjang dalam pengelolaan perkebunan kelapa sawit. Saat ini kebun tersebut memiliki areal konsesi sekitar 12.000 hektare, dengan Hak Guna Usaha (HGU) sekitar 6.000 hektare. Dari luas tersebut, sekitar 2.400 hektare merupakan areal tanaman yang telah ditanam maupun dipersiapkan untuk penanaman dan peremajaan (replanting).

"Kebun ini menjadi salah satu lokasi pembelajaran yang baik bagi petani karena seluruh kegiatan budidaya dilaksanakan sesuai standar operasional perusahaan, mulai dari pembibitan, pengolahan lahan, pemeliharaan, hingga panen," ujarnya, pada Kamis (30 Juli 2026).

Pada kunjungan lapangan tersebut, peserta diajak melihat langsung berbagai praktik budidaya yang sebelumnya dipelajari di kelas, seperti pengelolaan piringan, penunasan, pemupukan, hingga pemeliharaan tanaman di lapangan.

Menurutnya, pembelajaran langsung di kebun akan membantu peserta memahami penerapan standar budidaya secara nyata sehingga lebih mudah diterapkan ketika kembali mengelola kebun masing-masing.

Selain membahas aspek teknis budidaya, ia juga menyoroti semakin pentingnya peran kelapa sawit dalam mendukung program energi nasional melalui implementasi biodiesel. Dengan meningkatnya kebutuhan bahan baku crude palm oil (CPO), kualitas produksi kebun menjadi faktor yang semakin menentukan daya saing sawit Indonesia.

Sebab itu, ia berharap para peserta pelatihan mampu menghasilkan TBS dengan kualitas yang memenuhi standar industri sehingga dapat memperoleh harga yang lebih baik.

"Sasarannya adalah bagaimana petani sawit di Kabupaten Wajo bisa memperoleh harga TBS sesuai penetapan pemerintah. Kuncinya adalah menerapkan budidaya yang baik seperti yang dilakukan perusahaan perkebunan," katanya.

Ia menegaskan, langkah pertama yang harus diperhatikan petani adalah penggunaan benih atau kecambah bersertifikat. Selanjutnya, seluruh tahapan budidaya, mulai dari pengolahan lahan, pemupukan, hingga pemeliharaan tanaman, perlu mengikuti standar operasional yang didasarkan pada rekomendasi teknis, termasuk jenis pupuk, dosis, waktu aplikasi, dan kondisi curah hujan.

Menurutnya, penerapan standar tersebut akan berdampak langsung terhadap produktivitas dan rendemen minyak sawit yang dihasilkan.

Ia menjelaskan, kebun perusahaan mampu menghasilkan rendemen atau oil extraction rate (OER) sekitar 24 persen. Sementara itu, kebun rakyat yang belum menerapkan praktik budidaya secara optimal umumnya hanya menghasilkan rendemen sekitar 16–17 persen.

"Selisih rendemen itu sangat memengaruhi harga TBS yang diterima petani. Karena kualitas buah lebih rendah, harga yang diperoleh sering kali berada di bawah harga penetapan pemerintah," jelasnya.

Melalui kunjungan lapangan ini, ia berharap para peserta tidak hanya memahami teori yang telah diperoleh selama pelatihan di Makassar, tetapi juga memiliki gambaran nyata mengenai praktik budidaya yang benar sehingga dapat diterapkan di kebun masing-masing.

"Kami berharap setelah mengikuti pembelajaran di kelas dan melihat langsung praktik di lapangan, para peserta memiliki wawasan baru untuk menjadi petani sawit yang lebih modern, produktif, dan mampu menghasilkan buah berkualitas tinggi," pungkas Fahrizal.

Artikel Terkait