• Selasa, 3 November 2026
Berita Terbaru

PT RPN-BPDP-Ditjenbun Dorong Pekebun Sawit Sumut Tekan Biaya Pemupukan Lewat Pupuk Organik

MEDAN, SAWIT INDONESIA – Mengoptimalkan bahan organik menjadi pupuk menjadi salah satu strategi untuk membantu pekebun kelapa sawit menekan biaya pemupukan sekaligus menjaga kesuburan tanah. Melalui pemanfaatan sumber daya yang tersedia di sekitar kebun, pekebun didorong lebih mandiri dalam mengelola usaha perkebunan.

Upaya tersebut dilakukan melalui Pelatihan Pembuatan dan Aplikasi Pupuk Organik Program Pengembangan Sumber Daya Manusia Perkebunan (SDMP) 2026. Kegiatan ini diikuti 85 pekebun asal Kabupaten Batubara dan Labuhanbatu Selatan, Sumatera Utara (Sumut), pada 26–30 Oktober 2026 di Medan.

Pelatihan diselenggarakan PT Riset Perkebunan Nusantara (PT RPN) dengan dukungan Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) dan Direktorat Jenderal Perkebunan (Ditjenbun) Kementerian Pertanian. Peserta terdiri atas 54 pekebun dari Labuhanbatu Selatan dan 31 pekebun dari Batubara.

Kepala Bagian Bidang Usaha Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) PT RPN, Dr. Fandi Hidayat, mengatakan peningkatan produktivitas perkebunan perlu diikuti kemampuan pekebun mengelola biaya produksi dan menerapkan teknik budidaya yang tepat.

Menurutnya, pemanfaatan bahan organik memiliki peran penting dalam memperbaiki kesuburan tanah sekaligus mengoptimalkan sumber daya lokal. Karena itu, pekebun perlu memiliki keterampilan mengolah bahan organik menjadi pupuk dan memahami teknik aplikasinya sesuai kebutuhan tanaman.

"Pengelolaan kesuburan tanah melalui pemanfaatan bahan organik menjadi salah satu aspek penting dalam mendukung produktivitas perkebunan. Karena itu, pekebun perlu memiliki pengetahuan dan keterampilan dalam mengolah bahan organik menjadi pupuk yang bermanfaat bagi tanaman," ujarnya.

Pelatihan tidak hanya memberikan materi teori, tetapi juga membekali peserta dengan keterampilan teknis mulai dari pembuatan, pengelolaan, hingga aplikasi pupuk organik.

Untuk memperkuat pembelajaran, peserta juga mengikuti kunjungan lapangan ke CV Manis Sportif di Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara. Melalui kegiatan ini, pekebun memperoleh pengalaman langsung dan memperluas wawasan mengenai penerapan pengetahuan yang diperoleh selama pelatihan.

Fandi berharap keterampilan tersebut dapat diterapkan secara mandiri dan disebarluaskan kepada kelompok tani maupun kelembagaan pekebun di daerah masing-masing.

"Keberhasilan program peningkatan kapasitas sumber daya manusia tidak hanya diukur dari jumlah peserta yang mengikuti pelatihan, tetapi juga sejauh mana pengetahuan yang diberikan dapat diterapkan dan memberikan manfaat nyata di tingkat perkebunan," katanya.

Perkuat Kelembagaan Menuju ISPO

Selain mendorong efisiensi pengelolaan kebun, pelatihan ini juga mendukung kesiapan pekebun menerapkan prinsip perkebunan berkelanjutan, termasuk memenuhi persyaratan Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO).

Kepala Bidang Perkebunan Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Batubara, Nanda Fadhillah Akbar, SP, M.Si., mengatakan peningkatan kompetensi pekebun harus diikuti penguatan kelembagaan. Pengetahuan yang diperoleh peserta diharapkan dapat diterapkan dan dibagikan kepada anggota kelompok masing-masing.

Ia menyebutkan, Kabupaten Batubara telah memiliki lembaga pekebun yang memperoleh sertifikasi ISPO dan menjalankan proses audit keberlanjutan selama kurang lebih tiga tahun. Pengalaman tersebut diharapkan menjadi motivasi bagi kelompok pekebun lainnya untuk mempersiapkan sertifikasi.

"ISPO merupakan salah satu persyaratan penting yang harus dipenuhi pekebun. Karena itu, kami berharap kesempatan pelatihan yang difasilitasi BPDP dapat dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk meningkatkan kesiapan kelembagaan pekebun menuju sertifikasi tersebut," ujarnya.

Nanda juga mengingatkan bahwa pengelolaan perkebunan tidak cukup hanya dengan menanam dan memanen. Pekebun perlu memahami perhitungan biaya produksi, manajemen usaha, serta berbagai risiko yang dapat memengaruhi keberlangsungan perkebunan.

Sementara itu, Plt. Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Labuhanbatu Selatan, Sabrina Pulungan, SP, berharap peserta dapat menjadi penggerak penyebarluasan pengetahuan di wilayah masing-masing.

Menurutnya, keberhasilan pelatihan tidak hanya diukur dari peningkatan kemampuan peserta, tetapi juga sejauh mana ilmu yang diperoleh memberikan manfaat bagi kelompok tani dan masyarakat perkebunan.

Senada, Kepala Bidang Perkebunan Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Sumatera Utara, Muhammad Yusuf Lubis, SP, SE, berharap keterampilan yang diperoleh peserta dapat diterapkan untuk mendukung peningkatan produktivitas perkebunan.

Melalui Program SDMP 2026, kolaborasi PT RPN, BPDP, dan Ditjenbun diharapkan mampu mendorong pekebun lebih mandiri dalam mengelola usaha perkebunan. Pemanfaatan bahan organik menjadi salah satu alternatif untuk mengoptimalkan sumber daya lokal, memperbaiki kesuburan tanah, dan mendukung efisiensi biaya pemupukan. Dalam rangka meningkatkan produksi tandan buah segar (TBS), tetapi juga mampu mengelola biaya usaha secara lebih bijak agar perkebunan rakyat semakin produktif dan berkelanjutan.

Artikel Terkait