SUMBAR, SAWIT INDONESIA - Provinsi Sumatera Barat (Sumbar), sebagai daerah yang masuk jajaran penghasil sawit terbesar di Indonesia masih memerlukan penambahan pabrik pengolahan minyak sawit. Berdasar data tahun 2024, Sumbar tercatat memproduksi minyak sawit sekitar 699,39 ribu ton.
Namun pabrik pengolahan kelapa sawit di Sumbar baru mencapai 38 unit yang tersebar di beberapa kabupaten/kota. Rinciannya, 14 unit di Pasaman Barat, 7 unit di Dharmasraya, 5 unit di Solok Selatan, 4 unit di Pesisir Selatan, 4 unit di Agam, dan 4 unit di Sijunjung.
"Itu kurang dan perlu ditambah agar ke depan hilirisasi bisa menjadi lebih optimal. Bahkan jika memungkinkan hilirisasi harus mulai kita lakukan sampai ke tingkat produk jadi," kata Gubernur Sumbar, Mahyeldi usai mengikuti seminar tentang kebijakan luar negeri dan pembangunan nasional yang diberi tema “Membangun Diplomasi Sawit Indonesia yang Berdampak Terhadap Peningkatan Fiskal Daerah”, Rabu (23/4/2025).
Dalam kegiatan yang dilaksanakan Kementerian Luar Negeri secara hybrid di Kantor Wilayah Ditjen Perbendaharaan Sumbar, Mahyeldi mengungkapkan, bukan hal mudah untuk menambah jumlah pabrik pengolah minyak sawit. Hal itu memerlukan komitmen dan kolaborasi banyak pihak.
Sementara itu, Fungsional Diplomat Ahli Madya Pusat Strategi Kebijakan Multilateral, Kementerian Luar Negeri, Freddy M Panggabean mengatakan, optimalisasi hilirisasi dan ekspor komoditas tentu tidak mudah. Terlebih di tengah eskalasi perang dagang global. Kendati demikian, tidak mudah bukan berarti tidak mungkin. "Namun tidak ada yang tidak mungkin, jika seluruh kekuatan bisa bersinergi itulah tujuan dari diskusi ini," ujar Freddy M Panggabean.
Menurutnya, Selama 5 tahun terakhir, devisa dari ekspor minyak sawit berkisar antara US$ 22 M hingga US$ 39,07 M. Meskipun tren ekspor sawit tetap positif, namun produksi minyak sawit relatif stagnan sekitar 51,2 – 54,8 juta ton. Penurunan ekspor sawit perlu diantisipasi di tengah situasi global yang terus memanas. "Selain meningkatkan pendapatan daerah, potensi sawit Sumbar diharapkan juga dapat berkontribusi menjaga rantai pasok dan hilirisasi sawit nasional," ujarnya.
Informasi mengenai potensi Sumbar saat ini, tambah Freddy, sangat dibutuhkan Kementerian Luar Negeri dan Perwakilan Republik Indonesia di Luar Negeri. Data dimaksud akan dipresentasikan, dipromosikan pada mitra luar negeri.
"Kita berharap, pemerintah daerah juga segera menyiapkan paket regulasi dan sistem yang tegas dan berpihak kepada kemudahan berusaha. Dengan demikian diharapkan minat para pelaku akan semakin meningkat," tuturnya.
Selain Gubernur Mahyeldi dan Freddy M. Panggabean, tampak sejumlah tokoh nasional menjadi pembicara dalam kegiatan tersebut. Di antaranya, Direktorat Jenderal Perbendaharaan Kementerian Keuangan, Astera Primanto Bhakti; Kepala Kanwil Direktorat Jenderal Perbendaharaan Sumbar, Syukriah HG; Direktur Kerjasama Intra Kawasan dan Antar Kawasan Amerika dan Eropa, Kementerian Luar Negeri.
Sumber: rri.co.id














