• Minggu, 27 September 2026
Berita Terbaru

Program Berbasis Komunitas Turut Menjadi Solusi Efektif Manajemen Kebakaran Hutan

Regional Fire Management Resource Center-Southeast Asia (RFMRC-SEA) IPB University kembali menggelar webinar dengan tajuk “Forest Fire Prevention is Really Needed," (28/01). Urgensi pencegahan kebakaran hutan terutama di kawasan Asia Tenggara kian menjadi sorotan publik. Terutama kasus kebakaran hutan di Indonesia yang lumayan tinggi akibat penggunaan lahan pertanian. Hadir sebagai pembicara, Dr Michael Allen Brody, Pricipal Scientist di Center for International Forestry Research (CIFOR). Ia menyebut, diperlukan suatu paradigma baru yaitu dengan manajemen peringatan dini kebakaran hutan. Paradigma ini tidak luput partisipasi masyarakat ikut dilibatkan. Dr Michael melanjutkan, sistem manajemen kebakaran hutan berupa Fire Danger Rating System telah dikembangkan di Indonesia dan ASEAN. Sistem ini digunakan untuk memprediksi tingkat bahaya kebakaran hutan dan lahan. Namun demikian, peran pemerintah dan program pencegahan kebakaran hutan berbasis komunitas juga perlu didorong untuk memaksimalkan sistem peringatan dini. "Kami juga memiliki program pencegahan kebakaran hutan, seperti FIre and Haze, Measurable Action for Haze-Free Sustainable Land Management in Southeast Asia (MAHFSA) serta program restorasi lahan gambut berbasis komunitas," katanya. Program MAHFSA ini, kata Michael, berfokus untuk mengumpulkan dan mendiseminasikan produk ilmu pengetahuan dalam berbagai aspek di bidang manajemen kebakaran hutan, termasuk pencegahannya dan dapat diakses di website baru program ini. Pembicara lain, yaitu Veerachai Tanpipat D Eng, peneliti kebakaran hutan dari Kasetsart University Thailand turut menceritakan beberapa solusi atas kebakaran hutan di Thailand. Beberapa solusi tersebut antara lain kebijakan pelarangan membakar hutan untuk lahan pertanian di periode tertentu, penguatan kebijakan pemerintah, bantuan militer dalam monitoring dan kontrol, peningkatan dana penelitian untuk topic kebakaran hutan, hingga inovasi produk bernilai tambah bagi produk hutan. Namun, katanya, beberapa solusi yang diterapkan kurang efektif dalam mencegah kebakaran hutan sehingga diperlukan benchmark baru dalam pencegahannya. “Pemerintah harus membandingkan jumlah kasus kebakaran hutan dalam kurun waktu dua tahun terakhir dalam kondisi cuaca yang serupa, tidak hanya melihat berdasarkan jumlah hot spotnya saja,” pungkas Veerachai. Sihol Aritonang, Presiden Direktur PT APRIL, perusahaan yang bergerak di bidang pulp dan kertas turut menjelaskan program pencegahan kebakaran hutan berbasis komunitas di Riau. Program tersebut dinamakan Fire-Free Village Program. Program ini menawarkan alternatif pembukaan lahan tanpa pembakaran hutan. Namun, program ini mendorong program pemerintah dalam meminimalkan angka kebakaran hutan serta meningkatkan pemahaman dan partisipasi masyarakat terhadap pencegahan kebakaran hutan dan lahan. Program yang berdurasi dua tahun ini memilih pemimpin kelompok dari masyarakat lokal sebagai advokat pencegahan kebakaran hutan. Program ini juga menawarkan insentif bagi masyarakat agar tidak memilih pembakaran lahan untuk membuka lahan pertanian. “Target outcome setelah program ini diimplementasikan diharapkan kemampuan masyarakat dalam pencegahan kebakaran hutan dan lahan meningkat. Sehingga jumlah total kebakaran lahan di pedesaan tidak meningkat, bahkan secara signifikan menurun,” tambahnya. Sumber: ipb.ac.id

Artikel Terkait