Berita Terbaru
Prof Posman: Produksi Minyak Makan Merah Lebih Tepat Dikelola Koperasi
JAKARTA, SAWIT INDONESIA – Prof. Posman Sibuea, Guru Besar Teknologi Hasil Pertanian, Universitas Katolik Thomas Santo mengatakan program minyak makan merah akan memberikan manfaat sangat besar bagi petani dan koperasi/UMKM. Pertama, program ini akan mempercepat penyerapan TBS petani swadaya untuk diolah menjadi CPO di tingkat UMKM Minyak Sawit.
“Pengolahan ini akan memberikan nilai tambah sangat signifikan. Teknologinya relatif lebih sederhana dibanding teknologi minyak goreng sawit,” ujar Prof Posman dalam wawancara via telepon.
Manfat kedua adalah produk minyak makan merah dapat digunakan untuk mengatasi maslah kekurangan vitamin A dan prevalensi stunting di Indonesia. Itu sebabnya, peluang pasar minyak makan merah sangat prospektif. Sebab, dari hasil riset pemberian M3 menghasilkan efek yang hampir menyerupai suplemen vitamin A sehingga potensial menjadi suplemen yang efektif, kuat, dan solutif untuk mencegah atau mengurangi defisit Vit A di seluruh dunia.
“Desain produk suplemen lokal asli nusantara yang kaya vitamin atau provitamin A dapat menjadi salah satu model intervensi vitamin A selain dengan cara fortifikasi dan diversifikasi diet. Pengolahan minyak makan merah lebih lanjut menjadi minuman emulsi merupakan alternatif untuk menjadikan minyak makan merah sebagai suplemen vitamin A,” ujarnya.
Prof.Posman optimis bahwa produk minyak makan merah yang diproduksi oleh koperasi petani sawit rakyat maka harga yang mahal ini akan tereduksi secara signifikan. Harapannya rakyat kebanyakan bisa menikmati produk minyak makan merah dengan harga terjangkau.
Sebagai informasi Kementerian Koperasi dan UKM (KemenKopUKM) telah resmi menerima Detail Engineering Design (DED) dari Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) yang menandakan rencana pengelolaan minyak makan merah sudah dalam tahap proses dan siap dijadikan acuan untuk pembangunan pabrik oleh koperasi.
MenKopUKM optimistis pengelolaan minyak makan merah akan menjadi sejarah baru bagi industri persawitan di Indonesia. Selain memproduksi, koperasi juga menjadi solusi pemenuhan kebutuhan minyak makan merah sehat dan murah bagi masyarakat di sekitarnya.
“Jadi kita tidak perlu khawatir soal penyerapan atau pemasaran produknya,” kata MenKopUKM.














