• Sabtu, 3 Oktober 2026
Berita Terbaru

Produktivitas Kebun Sawit Paser Masih Bisa Ditingkatkan, Pelatihan Budidaya Jadi Kunci Perubahan

Balikpapan, SAWIT INDONESIA – Produktivitas kebun kelapa sawit rakyat di Kabupaten Paser dinilai masih memiliki ruang yang besar untuk ditingkatkan. Namun, peningkatan tersebut tidak cukup mengandalkan pengalaman petani di lapangan. Penguasaan teknik budidaya yang benar menjadi faktor penting agar kebun mampu menghasilkan produksi yang lebih tinggi sekaligus berkualitas.

Hal itu disampaikan Kepala Dinas Perkebunan dan Peternakan Kabupaten Paser, Djoko Bawono,S.P, M.Si, saat membuka Pelatihan Teknis Budidaya Kelapa Sawit yang diselenggarakan Akademi Komunitas Perkebunan Yogyakarta (AKPY) bekerja sama dengan Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) dan Direktorat Jenderal Perkebunan.

Pelatihan Teknis Budidaya Kelapa Sawit Angkatan 1 hingga 10 Tahun 2026 tersebut berlangsung pada 2–7 Agustus 2026 di salah satu hotel di Balikpapan. Kegiatan ini diikuti ratusan pekebun yang tergabung dalam sejumlah koperasi di Kabupaten Paser sebagai bagian dari upaya meningkatkan kapasitas sumber daya manusia perkebunan melalui penguatan kompetensi teknis budidaya.

Djoko mengajak seluruh peserta dari berbagai koperasi di Kabupaten Paser mengikuti pelatihan selama sepekan dengan sungguh-sungguh. Menurutnya, materi yang diberikan sangat relevan untuk mendukung peningkatan produktivitas perkebunan sawit rakyat.

"Pelatihan teknis budidaya ini menjadi penting karena berkaitan dengan cara kita meningkatkan produktivitas kebun. Sebulan lalu kita sudah belajar mengenai panen dan pascapanen, sekarang saatnya memperkuat aspek budidaya," ujarnya, pada Senin (3 Agustus 2026), di Balikpapan.

Ia menjelaskan bahwa produktivitas perkebunan sawit di Kabupaten Paser memang terus mengalami perkembangan. Meski demikian, capaian tersebut masih jauh dari potensi yang dapat diraih apabila petani menerapkan teknik budidaya secara tepat dan konsisten.

Menurut Djoko, keberhasilan usaha perkebunan tidak hanya diukur dari besarnya produksi tandan buah segar (TBS), tetapi juga dari tingginya rendemen minyak yang dihasilkan. Saat ini, rata-rata rendemen sawit di Kabupaten Paser masih berada di bawah 25 persen, sementara rendemen yang baik berada pada kisaran 25 hingga 32 persen.

"Kalau berbicara produksi tanpa memperhatikan rendemen, sama saja. Karena rendemen inilah yang menentukan berapa banyak CPO yang dihasilkan," katanya.

Selain persoalan rendemen, Djoko juga menyoroti produktivitas kebun rakyat yang rata-rata masih berada di bawah 20 ton TBS per hektare per tahun. Padahal, menurutnya, produktivitas lebih dari 30 ton per hektare per tahun sangat memungkinkan dicapai apabila petani menerapkan praktik budidaya yang baik serta melakukan pemeliharaan kebun secara berkelanjutan.

Maka, ia menilai pelatihan menjadi salah satu instrumen penting untuk meningkatkan kapasitas sumber daya manusia di sektor perkebunan.

"Target kita minimal produktivitas kebun bisa mencapai 30 ton per hektare per tahun. Ilmu yang diperoleh dari pelatihan ini harus diterapkan ketika kembali ke kebun, mulai dari pemilihan bibit, pemupukan, penyemprotan hingga perawatan tanaman," tegasnya.

Djoko juga mengapresiasi para narasumber dari AKPY yang dinilai mampu melengkapi pengalaman para petani dengan pemahaman teori serta praktik budidaya kelapa sawit yang sesuai standar.

"Pengalaman petani tentu sudah luar biasa. Namun secara teori perlu terus ditambah agar apa yang dilakukan di lapangan benar-benar sesuai dengan kaidah budidaya yang baik," ujarnya.

Pada kesempatan tersebut, Djoko turut memaparkan perkembangan Program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR) di Kabupaten Paser. Hingga saat ini, luas areal PSR telah mencapai 7.879 hektare dan diperkirakan segera menembus 8.000 hektare setelah dua usulan baru memperoleh rekomendasi.

Ia juga menyampaikan bahwa bantuan hibah PSR dari BPDP sebesar Rp60 juta per hektare segera dapat dimanfaatkan oleh petani yang telah memenuhi persyaratan. Menurutnya, peningkatan nilai bantuan tersebut menunjukkan komitmen pemerintah dalam mendorong pengembangan perkebunan sawit rakyat yang lebih produktif.

"Kalau tahun 2016 bantuan masih Rp25 juta per hektare, kemudian naik menjadi Rp30 juta, sekarang menjadi Rp60 juta per hektare. Ini peluang yang harus dimanfaatkan dengan baik agar kebun rakyat semakin produktif," katanya.

Djoko turut menyampaikan apresiasi kepada BPDP, Direktorat Jenderal Perkebunan, dan AKPY atas penyelenggaraan pelatihan yang pada tahun ini menjangkau 556 pekebun asal Kabupaten Paser.

Ia berharap jumlah peserta pelatihan terus meningkat pada tahun-tahun mendatang sehingga semakin banyak petani yang memiliki kompetensi budidaya sesuai standar Good Agricultural Practices (GAP).

"Terima kasih kepada AKPY yang telah hadir kembali di Kabupaten Paser dan kepada BPDP yang terus mendukung peningkatan kapasitas petani. Mudah-mudahan ilmu yang diperoleh selama pelatihan ini benar-benar diterapkan sehingga produktivitas kebun sawit rakyat di Kabupaten Paser terus meningkat," pungkasnya.

Selama enam hari pelatihan, peserta memperoleh materi mengenai teknik budidaya kelapa sawit yang baik, mulai dari penggunaan benih unggul, pemupukan, pengendalian gulma, pemeliharaan tanaman, hingga praktik lapangan sebagai bekal untuk meningkatkan produktivitas kebun sawit rakyat.

Artikel Terkait