• Rabu, 30 September 2026
Berita Terbaru

Produksi Lemah, Apkasindo Prediksi Ekspor Sawit Turun Tahun Ini

JAKARTA, SAWIT INDONESIA - Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (APKASINDO) mengkhawatirkan penurunan kinerja industri sawit nasional pada 2024. Pemicunya sudah terjadi semenjak dua tahun terakhir yang mulai dirasakan di tahun ini.

Dari segi produksi sebagaimana diungkapkan Ketua Umum DPP APKASINDO, Dr. Gulat ME Manurung, MP, CIMA, CAPO, yang melihat dampak agronomis sepanjang 2022 dan 2023, terkhusus terkait kegiatan pemupukan dan faktor iklim.

"Kami proyeksikan produksi CPO memasuki 2024 ini akan turun antara 5% - 10%. Adapun pemicunya adalah pemupukan yang minim sebagai dampak pelemahan harga CPO yang berimbas pula kepada harga TBS sepanjang 2022 - 2023," urai Gulat.

Dikatakan Gulat, karena harga TBS sawit mengalami penurunan sehingga mengurangi kemampuan daya beli petani untuk belanja sarana produksi antara lain pupuk dan agrokimia. Dampak perlakuan agronomis sawit biasanya akan terlihat jelas dalam 16 sampai 24 bulan kemudian.

Akibat dari rendahnya produksi, diprediksi Gulat, berpotensi terjadinya ketidakseimbangan ekspor dengan konsumsi sawit di dalam negeri. Analisis Gulat ini berpijak dari data BPS (2023) dan GAPKI di mana total volume ekspor CPO dan produk turunan lainnya mencapai 30,24 juta ton sepanjang 2023 atau turun sebesar 1,81% dibandingkan tahun 2022 (30,804 juta ton).

Sedangkan, konsumsi minyak sawit terus meningkat dalam tiga tahun terakhir di mana penyumbang terbesar dari program mandatori B35 yang menyerap pemakaian FAME hingga 13,15 juta kiloliter.

"Jadi selisih pemakaian dalam negeri dengan produksi FAME Indonesia sangat tipis. Apabila sesuai target Pemerintah pemakaian FAME untuk B35, tentu produksi FAME Indonesia sesuai data BPS, dipastikan tidak cukup," sebagaimana dijelaskan Doktor Lulusan Universitas Riau ini.

Karena itulah berdasarkan dinamika aspek agronomis tahun 2022 dan 2023 serta belum kunjung tercapainya target PSR sejak 2017, maka simulasi yg kami buat, bahwa produksi CPO Indonesia tahun 2024 ini akan turun sekitar 5 - 10%.

Begitupula volume ekspor produk CPO dan turunan Indonesia akan menurun seiring dengan kenaikan konsumsi dalam negeri akibat berbagai hal seperti rencana peningkatan mandatori B35 ke B40 atau B50 dan meningkatnya kebutuhan pangan lainnya.

Gulat menambahkan konsumsi dalam negeri yang naik dari tahun ke tahun di saat produktivitas kebun sawit tidak meningkat akan menjadi ancaman ketahanan pangan dunia.

"Kepanikan inilah yang digambarkan oleh Uni Eropa meskipun dilakukan dengan cara berbeda melalui kebijakan EUDR. Namun hasil diskusi dengan Dubes UE (kala itu Vincent Piket) dengan APKASINDO menggambarkan kecemasan luar biasa atas (meningkatnya) pemanfaatan CPO sebagai sumber energi," pungkas Gulat.

Artikel Terkait