• Selasa, 6 Oktober 2026
Berita Terbaru

Produk Oleokimia Indonesia Dihadang Uni Eropa, Pengusaha Adukan ke WTO

Jakarta, SAWIT INDONESIA - Asosiasi Produsen Oleochemicel Indonesia (APOLIN) melaporkan kinerja ekspor produk oleochemical terus mengalami kenaikan dalam beberapa tahun terakhir. Hanya saja, tantangan saat ini adalah adanya kebijakan antidumping yang diberlakukan Uni Eropa (27 negara) terhadap produk faty acid dan juga faty alcohol oleh India.

Sekretaris Jenderal APOLIN, Rapolo Hutabarat, mengatakan kebijakan antidumping tersebut sangat memukul pelaku industri hilir di industri sawit tersebut.

"Jadi, seluruh perusahaan anggota APOLIN yang mengekspor faty acid sudah tidak lagi mengekspor. Jika ada data ekspor ke Uni Eropa dari BPS, itu lewat skema lain. Tidak ekspor langsung," ujar Rapolo dalam acara Buka Puasa Bersama yang diselenggarakan Forum Wartawan Pertanian (Forwatan) dengan tiga asosiasi hilir sawit yaitu GIMNI, APROBI, dan APOLIN di Jakarta, Rabu (12/3/2025).

Rapolo mengatakan, kebijakan Uni Eropa tersebut saat ini sudah diajukan ke Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) untuk disengketakan. Pihaknya pun sudah berkoordinasi dengan Kementerian Perdagangan, Kementerian Perindustrian, dan Kementerian Luar Negeri.

"Posisi saat ini sudah dalam penyusunan panel. Dimana pihak yang bersengketa harus mengajukan 6 kandidat, 3 diantaranya akan dipilih secara bersama-sama. Tiga itu terdiri 1 ketua dan 2 anggota," jelasnya.

Hambatan dagang kedua adalah dari India terkait antisubsidi untuk produk faty alcohol. Menurutnya, ada 4 anggota APOLIN yang mengekspor faty alcohol ke India. "Ini juga sedang diupayakan bersama Kemendag agar bisa segera diatasi," ucapnya.

Sementara itu, Rapolo melaporkan sejatinya kinerja oleochemical yang biasa digunakan untuk kosmetik hingga farmasi ini dari sisi volume ekspor cukup baik. Pada 2022, ekspornya mencapai 4,2 juta ton dengan nilai ekspor US,4 miliar. Pada 2023, naik menjadi 4,6 juta ton, tapi nilainya merosot US,7 miliar. Hal ini dikarenakan seluruh komoditas global juga mengalami penurunan harga. Pada 2024, volumenya 4,8 juta ton dengan nilai US,3 miliar.

"Sedangkan di domestik tumbuh rata-rata 2,1-2,2 juta ton per tahun. Jadi, secara domestik dan global, seluruh produk olechemical tumbuh 9,5-10 persen," tutur Rapolo Hutabarat.

Artikel Terkait