• Minggu, 4 Oktober 2026
Kampus & SDM Sawit

Poltek CWE Siapkan SDM Sawit Unggul dan Inovatif

Industri sawit membutuhkan SDM unggul yang tidak hanya menguasai teori, tetapi siap menjawab tantangan masa depan dengan inovasi dan semangat kebersamaan.

Mengawali tahun akademik 2025 – 2026, Politeknik Kelapa Sawit Citra Widya Edukasi (CWE) melangsungkan kuliah perdana dengan mengusung tema “Sawit untuk Negeri: Investasi SDM menuju Indonesia Emas 2045”, pada 2 Oktober 2025.

Kuliah perdana digelar untuk mahasiswa agar mendapatkan wawasan awal mengenai peran strategis industri kelapa sawit dalam Pembangunan bangsa. Sebab, sulit dipungkiri sektor industri ini tidak hanya dikenal sebagai penghasil komoditas unggulan ekspor Indonesia, melainkan sebagai salah satu penopang penting ketahanan pangan, energi dan perekonomian nasional.

Melalui kegiatan ini mahasiswa diharapkan memahami bahwa penguatan sumber daya manusia (SDM) kunci menjaga keberlangsungan industri sawit sekaligus mendukung pencapaian visi Indonesia Emas 2045.

Direktur Politeknik Kelapa Sawit Citra Widya Edukasi, Ir. Nugroho Kristono menyampaikan kuliah perdana bukan sekedar agenda akademik tetapi sebuah langkah awal membangun kesadaran mahasiswa baru mengenai pentingnya sawit bagi negeri.

“Kami ingin menanamkan pemahaman bahwa industri sawit membutuhkan SDM unggul yang tidak hanya menguasai teori, tetapi siap menjawab tantangan masa depan dengan inovasi dan semangat kebersamaan. Kami berkomitmen mencetak lulusan yang kompeten, berdaya saing, dan siap menjadi garda depan dalam Pembangunan Indonesia emas 2045,” ujarnya.

Pada kesempatan itu, untuk menambah wawasan mahasiswanya terkait dengan industri kelapa sawit, pihak Politeknik Kelapa Sawit CWE juga menhadirkan Ketua Dewan Pengawas Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP), Dr.Ing. Evita H. Legowo, dan dua praktisi kebun yaitu Maria Sugiharti,S.P, M.Si dan Wiryawan Dwi Nugroho. Ketiga narasumber ini menyampaikan materi dengan sudut pandang yang lain.

Evita H. Legowo menekankan pentingnya peran kelapa sawit sebagai komoditas strategis yang harus dijaga keberlanjutannya. Sawit adalah minyak nabati dengan produktivitas tertinggi. Bahkan Uni Eropa pun mengakui keunggulan sawit Indonesia.

“Bahkan, di masa pandemi Covid 19 yang terjadi beberapa tahun lalu, industri sawit tetap menjadi penopang utama perekonomian nasional. Indonesia bahkan tercatat sebagai produsen biodiesel terbesar di dunia melalui program mandatori B40,” ucapnya.

“Namun, harus diakui masih banyak tantangan di industri sawit nasional. Produktivitas kebun rakyat baru 3,5 ton CPO per hektare per tahun, padahal potensi optimalnya 6–8 ton. Isu tata kelola lahan dan kampanye negatif internasional juga masih menghantui. Untuk itu, BPDP terus mendorong peremajaan sawit rakyat (PSR), hilirisasi produk, serta penyediaan benih unggul, pupuk, dan mekanisasi pertanian,” sambung Evita.

Peluang besar dan menjawab tantangan

Lalu, bagaimana peran generasi muda agar dapat menjaga komoditas unggulan ini? Perguruan tinggi, tak terkecuali Politeknik Kelapa Sawit CWE memiliki peran penting dalam mencetak tenaga professional untuk industri sawit.

Di antaranya, 328 mahasiswa baru (tahun akademik 2025 – 2026) Politeknik Kelapa Sawit CWE yang merupakan penerima Beasiswa Sawit BPDP.

Nugroho Kristono, menambahkan pihaknya mengelola perguruan tinggi (Politeknik Kelapa Sawit CWE) yang dirancang secara komprehensif, mencakup budidaya, logistik, hilirisasi, hingga teknologi untuk mendukung industri sawit nasional.

“Untuk itu, kami berharap kepada kalian (mahasiswa Politeknik Kelapa Sawit CWE setelah lulus harus bisa membuktikan dirinya sebagai generasi muda yang tanggap, tanggon dan trengginas untuk sawit Indonesia yang lebih maju,” katanya.

Sementara itu, Maria Sugiharti mengingatkan generasi muda terutama mahasiswa Politeknik Kelapa Sawit CWE yang akan terjun ke industri sawit.

(Selengkapnya dapat dibaca di Majalah Sawit Indonesia, Edisi 169)

Artikel Terkait