Yogyakarta, SAWIT INDONESIA – Industri sawit menghadapi tantangan besar di bidang Sumber Daya Manusia (SDM) berkaitan kelangkaan talenta dan pergeseran demografis pekerja antara Gen Z dan milenial. PHCA (Plantation Human Capital Association) Indonesia menawarkan empat solusi sebagai peta jalan kolaboratif.
“Industri pertanian, termasuk sawit, mengalami "Aging Workforce" (Penuaan Tenaga Kerja) yang serius. Minat generasi muda turun drastis karena persepsi negative,” ujar Urbanus Nangoy, Ketua Umum PHCA (Plantation Human Capital Association) Indonesia saat menjadi Narasumber Workshop SDM Industri Perkebunan Kelapa Sawit di INSTIPER Yogyakarta, Selasa (9 Desember 2025).
Dalam presentasinya dijelaskan Urbanus Nangoy bahwa hanya 18% pemuda (16-30 tahun) yang bekerja di sektor pertanian (2022). Salah satunya adalah kelangkaan pemanen yang dirasakan oleh perusahaan perkebunan.
Tantangan berikutnya adalah berkurangnya minat lulusan perguruan tinggi untuk bekerja di sektor perkebunan. Hal ini berdampak langsung pada intake calon mahasiswa dan ketersediaan supply talenta berkualitas.
Selain itu, dikatakan Urbanus Nangoy, industri juga menghadapi turnover (keluar/masuknya) karyawan. Staf baru cenderung berhenti 1-3 tahun setelah ikatan dinas. Faktor utama meliputi preferensi tinggal di kota, pekerjaan pasangan (spouse issue), dan ketidakcocokan budaya kerja.
Selanjutnya, dampak domino dari turnover adalah terhambatnya regenerasi. Eksekutif perkebunan (Gen X) memasuki masa pensiun tanpa lapis kedua (Millennial/Gen Z) yang cukup dan siap secara mental.
Urbanus menyebutkan bahwa kampus berhasil mencetak ahli agronomi, tetapi industri membutuhkan pemimpin lapangan. Kondisinya sekarang ini adalaha lulusan menguasai teori budidaya, hama penyakit, dan pemupukan. Memang nilai IPK rata-rata tinggi tapi ini hanya 30% dari kebutuhan sukses di kebun.
Terjadi missing link SDM perkebunan sawit dari aspek pola pikir dan dan minim soft skill. Berkaitan aspek pola pikir, calon pekerja diharapkan memiliki kemampuan problem solving (pemecahan masalah dan pengambilan keputusan) yang masih lemah.
Selanjutnya soft skill pekerja sangat dibutuhkan antara lain komunikasi, resiliensi mental, dan manajemen konflik dengan tenaga kerja lokal.”Untuk menyelesaikan tantangan tadi, perusahaan harus melakukan retraining panjang (6-12 bulan) dengan biaya besar, tetapi tetap ada potensi risiko karyawan resign tetap tinggi,” jelas Urbanus.
PHCA Indonesia menawarkan 4 solusi sebagai upaya mendukung penguatan SDM sawit. Pertama, Pelatihan Pemanen Pemula yaitu PHCA membantu merancang program pelatihan pemanen pemula dengan cara perusahaan menjalankan program dan BPDP membiayai program. Kedua, Link & Match Kurikulum yaitu kampus dan perkebunan rutin berkolaborasi bertukar wawasan. Selain itu, planters aktif mengajar sebagai dosen tamu dan juga mengikuti kursus singkat untuk memperbarui teknologi yang dibuat oleh kampus.
Ketiga, Magang Terstruktur (Co-Creation) yaitu magang bukan hanya syarat lulus. Perlu dirancang program magang 6 bulan dengan mentor industri berdedikasi. Selain itu, m ahasiswa mengalami "real life" sebelum lulus untuk seleksi alamiah (mengurangi turnover pasca-rekrutmen).
Keempat, Modernisasi Citra via Teknologi (Smart Farming) caranya menarik minat Gen Z dengan integrasi IoT, Drone, dan Data Analytics. Mengubah citra "kotor" menjadi "hitech". Ini juga solusi efisiensi di tengah kurangnya tenaga manual.














