Papua, SAWIT INDONESIA – Pengembangan perkebunan sawit di Papua sangat dibutuhkan para petani yang ingin terciptanya nilai tambah dan peningkatan kesejahteraan. Salah satu strategi yang dapat dipilih membangun hilirisasi.
Usulan ini disampaikan Ketua DPW APKASINDO Papua Albert Yoku melalui pembangunan kawasan terpadu berbasis kelapa sawit atau “Plaza Sawit” di Kabupaten Keerom.
“Kawasan industri sawit terpadu dirancang untuk mengintegrasikan kebun sawit, pabrik pengolahan, dan industri turunan dalam satu ekosistem ekonomi. Nilai tambah produk sawit dapat dinikmati langsung oleh masyarakat setempat,” ujar Albert.
Menurutnya, petani Papua membangun bukan hanya kebun, tapi sebuah kawasan ekonomi. Kalau PKS dan industri turunannya ada di sini, maka hasil sawit tidak perlu lagi dibawa jauh ke luar daerah.
“Kami ingin sawit diolah ini di tempat, menciptakan lapangan kerja dan menambah nilai ekonomi bagi masyarakat. Harapannya ada perputaran ekonomi di dalam daerah. Petani tidak hanya menjual buah, tapi juga menikmati nilai tambah dari industri agar memperkuat ekonomi lokal dan mengurangi ketergantungan dari luar," tambah Albert Yoku.
Saat ini, dikatakan Yoku, bahwa sudah berjalan Program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR) di Keerom turut menjadi momentum untuk memperkuat produktivitas petani sekaligus menyiapkan fondasi hilirisasi yang lebih modern. Kehadiran industri pengolahan di daerah diyakini akan menciptakan lapangan kerja, memperkuat perputaran ekonomi lokal, dan mengurangi ketergantungan terhadap daerah lain.
Karena itulah butuh kolaborasi antara petani, koperasi, pemerintah daerah, dan berbagai pemangku kepentingan akan menjadi kunci keberhasilan transformasi sektor sawit di Papua.
"Ini kesempatan besar bagi petani. Kalau kita siapkan dengan baik, maka Plaza Sawit bukan hanya mimpi, tapi bisa menjadi pusat ekonomi baru yang menyejahterakan masyarakat Papua," pinta Albert Yoku.
Di Provinsi Papua, perkebunan sawit seluas 42.547 ha dengan produksi 130.552 ton minyak sawit.














