• Rabu, 7 Oktober 2026
Berita Terbaru

Petani Sawit Ungkap Dampak Mengikuti Pelatihan BIPOSC, Produksi Naik Signfikan

Labuanbatu, SAWIT INDONESIA - Sejumlah petani sawit swadaya Labuanbatu, Sumatera Utara (Sumut) mengaku memperoleh manfaat yang signifikan setelah mengikuti program pelatihan Biodiverse & Inclusive Palm Oil Supply Chain (BIPOSC). Pelatihan ini berfokus pada penerapan praktik Best Management Practices (BMP) pertanian regeneratif. Di antaranya pengaplikasian pupuk kompos, pengaplikasian bio input (penggunaan bahan organic untuk kesuburan tanah) hingga pengendalian hama terpadu.

Program yang merupakan kolaborasi jangka panjang Musim Mas Group, bersama Livelihoods Fund for Family Farming (L3F), SNV Indonesia, dan ICRAF ini diharapkan dapat meningkatkan hasil panen pekebun dan meningkatkan kesehatan tanah.

Salah satu petani Labuanbatu, Jansen Parte misalnya, mengatakan bahwa setelah mengikuti pelatihan BIPOSC dirinya banyak mengetahui praktek berkebun dengan lebih baik.

“Sebelum pelatihan contohnya cara menanam bibit itu saya asal tanam aja. Setelah pelatihan itu harus 40X40 cm lubang tanamnya. Hasilnya lebih bagus ternyata. Kemudian, jarak tanam juga ternyata idealnya 9x9, agar cahaya matahari bisa tetap menjangkau pohon, bukan 8X8 seperti biasa kami lakukan,” ujarnya usai pelatihan BMP Pelatihan Regeneratif di Rantauprapat, Labuanbatu, Sumut, Selasa (10 Desember 2024).

Dia menambahkan, pihaknya juga mengetahui kualitas bibit yang harus dibeli oleh petani jika produktivitasnya ingin lebih tinggi. Sebab, ujar Jansen, dirinya sebelumnya hanya asal beli bibit tanpa mengetahui bibit itu asli atua palsu.

“Kemudian masalah bibit, dulu saya beli bibit PPKS dari merknya. Tapi ternyata separo Jantan separo betina. Ternyata palsu bibitnya. Sekarang kami tidak fokus lagi sama merk. Karena banyak logo PPKSnya palsu. Itu saya tahu setelah pelatihan,” jelasnya.

“Di samping itu, setelah mendapat pelatihan dari BIPOSC ini petani juga mendapat banyak menerima bantuan. Mulai dari peralatan pertanian, pupuk organic juga bisa dengan harga lebih murah,” tambah Jansen.

Hal yang sama juga dirasakan petani lainnya, seperti Syafi’i, petani swadaya Labuhanbatu yang hanya mempunyai 0,9 hektar lahan sawit.

Menurut anggota Asosiasi Pekebun Swadaya Kelapa Sawit Labuhanbatu itu mengatakan tantangan petani swadaya itu adalah mengubah kesadaran dan perilaku dalam perkebunan yang berkelanjutan.

Padahal kata dia, dengan perilaku yang berubah produksi pun otomatis meningkat. “Setelah mengikuti pelatihan, petani mulai penyusunan pelepah leter U, pengurangan pupuk kimia, ambil buah yang masak saja. Hal hal itu dilaksanakan pekebun. Dulu kan pupuknya asal-asalan. Asal campur-campur aja,” ujarnya.

Dia mengatakan, produktivitas kebunnya sebelum mempraktekkan Perkebunan regenerative hanya 500 kg sekali panen.“Dulu produksinya 500 kg per sekali panen dalam 10 hari. Jadi sebulan kita panen sebulan tiga kali. Cara panen itu mempengaruhi. Dulu asal panen aja, semua hajar. Karena tokenya [tengkulak] juga mau, kan,” jelasnya.

Setelah mempraktekkan praktek perkebunan regeneratif, Syafi’i mengaku saat ini produktivitasnya naik pesat hingga 100 persen.

“Dari cara pemruningan mempengaruhi. Kalau dibiarkan pelepah gondrong itu, hasilnya ternyata gak bagus. Setelah itu berubah, dari 500 kg jadi 700 kg, sekarang 800 kg. Jangka setahun berubah. Sampai sekarang tinggi, pake organic juga pupuknya. Kebetulan saya punya lembu. Kalau yang lain trek (turun) sekarang saya enggak trek-trek. Sampai sekarang saya pake kotoran ternak. Sekarang bisa 1 ton sekali panen,” ungkapnya.

Artikel Terkait