• Selasa, 6 Oktober 2026
Berita Terbaru

Petani Banten Keluhkan Antrian Truk Sawit Sampai Seminggu di Pabrik Holding PTPN III Kertajaya

Banten, SAWIT INDONESIA – Antrian truk TBS (Tandan Buah Segar) sawit terus memanjang di depan pabrik sawit Kertajaya Holding PTPN III. “Antrian truk ini sudah terjadi selama seminggu lebih. Pihak pabrik membatasi jumlah buah yang masuk dengan alasan teknis,” kata H. Wawan Ketua DPW APKASINDO Banten saat dihubungi melalui telepon, Senin (21 Oktober 2024).

Pria asli Banten ini mengirimkan foto antrian truk sawit di luar pabrik yang sangat banyak. Padahal, truk yang masuk ke pabrik ini berasal dari petani plasma perusahaan. Akibat persoalan ini, kerugian dialami tidak hanya petani melainkan supir truk yang harus menunggu berhari-hari. Agar masalah ini cepat selesai, H.Wawan bersama pengurus APKASINDO Banten beserta supir truk dan tokoh masyarakat bertemu manajemen pabrik sawit Kertajaya.

Dalam pertemuan tersebut, Ukhri Hatmoko, Manager Pabrik Sawit Kertajaya, menjelaskan antrian TBS petani akibat terbatasnya jumlah pabrik kelapa sawit di wilayah Banten. Saat ini, provinsi Banten hanya memiliki 2 pabrik yaitu yaitu PKS Kertajaya dan PKS PT.GAL. Tetapi, pabrik sawit PT.GAL yang berlokasi di Sumur mengalami kerusakan.

“Karena itulah seluruh TBS petani yang biasanya dikirim ke PT GAL lalu dialihkan ke PKS Kertajaya. Sedangkan, kami juga memiliki kebun induk yang harus diterima buahnya juga,” ujar Ukhri.

Meskipun PKS Kertajaya masih mampu mengolah TBS dengan kapasitas 900-1000 ton per hari, penerimaan TBS rakyat sudah mencapai batas maksimal, dengan rata-rata hanya 200-250 ton per hari.

“Kami telah berupaya semaksimal mungkin untuk menampung TBS rakyat di Banten, tetapi kondisi ini memang menantang,” jelasnya.

H. Wawan menjelaskan hasil dari pertemuan dengan pihak pabrik sawit, manajemen membuka kesempatan buah sawit petani yang masuk sebesar 300 ton per hari.

“Pihak pabrik menyanggupi 300 ton per hari untuk TBS sawit petani. Padahal usulan kami 700 ton per hari supaya antrian dapat berkurang,” pungkas H. Wawan.

Artikel Terkait