Palangka Raya, SAWIT INDONESIA - Peserta pelatihan yang diadakan Akademi Komunitas Perkebunan Yogyakarta (AKPY), diikuti petani sawit, penyuluh dan pendamping, ungkapkan materi yang disampaikan selama pelatihan sangat tepat dan sesuai kebutuhan di lapangan.
Hal tersebut diutarakan Hermanto, Petugas Penyuluh Lapangan (PPL) salah satu peserta pelatihan dari Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), saat ditemui di lokasi kegiatan pelatihan, pada Sabtu (8 Juni 2024).
Diketahui, kegiatan pelatihan tersebut merupakan implementasi dari program pengembangan SDM Perkebunan Kelapa Sawit (SDMPKS) dari Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) dan Ditjen Perkebunan yang diselenggarakan AKPY. Dalam pelaksanannya, lembaga pelatihan (AKPY) menghadirkan akademisi dan praktisi kebun di bidangnya untuk menyampaikan materi.
Adapun tujuan dari pelatihan petani sawit dengan modul Teknik Pemetaan Lokasi Perkebunan Kelapa Sawit yaitu meningkatkan pengetahuan tentang dasar-dasar pemetaan, meningkatkan pengetahuan tentang peralatan pemetaan, meningkatkan pengetahuan dan keterampilan dalam tracking lahan, pengolahan data, dan penyajian peta, serta meningkatkan keterampilan dalam pemetaan kebun.
Dikatakan Hermanto, pihaknya mengakui pelatihan Teknik Pemetaan Lokasi Perkebunan Sawit sebagai penunjang kerja kerja penyuluh. Materi-materi yang disampaikan pada pelatihan mudah dipahami tapi perlu ditambah durasi (pelatihannya) agar bisa lebih mendalam.
"Dan, pelatihan ini sangat dibutuhkan bagi kami secara pribadi sebagai penyuluh lapangan pertanian dan perkebunan. Ilmu (materi) yang telah diterima akan kami sampaikan ke petani atau pekebun sawit yang ada di lingkungan kerja kami dan lingkungan (perkebunan) lainnya," katanya.
Pada pelatihan itu, peserta mendapat materi antara lain; kebijakan dan regulasi, dasar-dasar pemetaan lahan, pengenalan dan penggunaan alat pemetaan (GPS, Drone, HP dan lainnya), tracking tanaman dan lahan, pembuatan polygon dan peta kebun, pengelolaan data dan analisis pengukuran, penyajian/pencetakan peta, dan praktik pemetaan kebun, pengolahan hasil dan diskusi.
Selain itu, instruktur juga mengarahkan para peserta untuk praktik embuat titik koordinat, membuat polyline, membuat polygon, mentransfer ke komputer dan mengolah data dengan aplikasi ArcGIS, dan mencetak peta.
Menurut Hermanto, pemetaan menjadi kebutuhan mendasar bagi pelaku usaha perkebunan tak terkecuali perkebunan sawit. Supaya lahan yang dikelola jelas status legalitasnya tidak tumpang tindih.
"Maka, pelatihan Teknik Pemetaan Lokasi Perkebunan Sawit sangat penting. Dan, kami berharap ada pelatihan lanjutan supaya bisa lebih memahami karena ini bagi kami ilmu baru. Sebab ini (pemetaan) sangat penting untuk disampaikan pada pelaku usaha perkebunan, tak terkecuali perkebunan kelapa sawit (pekebun) yang ada di daerah kami," jelasnya.
"Sebelumnya, kami hanya membuat titik koordinat. Kemudian dikirimkan ke di dinas terkait. Tetapi dengan pelatihan teknik pemetaan lokasi kebun, sekarang bisa membuat peta lahan. Namun, masih perlu pendalaman materi pemetaan, agar lebih paham dan menyampaikan informasi (manfaat); pemetaan kepada pekebun, sebab ini penting untuk keberlanjutan usaha perkebunan" tambah pria yang bertugas sebagai PPL di Kabupaten Kotawaringin Timur.














