Makassar, SAWIT INDONESIA – Perubahan iklim menjadi tantangan baru bagi industri kelapa sawit Indonesia. Ancaman fenomena El Niño yang diperkirakan terjadi pada 2026 tidak hanya meningkatkan risiko kekeringan dan kebakaran lahan, tetapi juga berpotensi menekan produktivitas kebun rakyat apabila tidak diantisipasi melalui praktik budidaya yang adaptif.
Untuk itu, peningkatan kapasitas petani kini tidak lagi hanya berfokus pada teknik budidaya untuk meningkatkan hasil panen, tetapi juga membekali pekebun dengan strategi menghadapi dampak perubahan iklim agar produktivitas tetap terjaga.
Pesan tersebut disampaikan Direktur Akademi Komunitas Perkebunan Yogyakarta (AKPY), Dr. Sri Gunawan, saat menutup Pelatihan Pengembangan SDM Perkebunan (SDMP) sawit kelas Teknis Budidaya Kelapa Sawit yang diikuti 149 pekebun, penyuluh, dan pendamping dari Kabupaten Wajo, Sulawesi Selatan, di Makassar, Rabu (29/7/2026). Pelatihan ini diselenggarakan oleh AKPY dengan dukungan Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) dan Direktorat Jenderal Perkebunan, Kementerian Pertanian, sebagai bagian dari upaya meningkatkan kapasitas SDM perkebunan kelapa sawit.
Menurut Dr. Sri Gunawan, perubahan iklim telah menjadi tantangan nyata yang harus dihadapi pekebun. Maka, petani perlu mengubah pola pikir dari sekadar memulihkan kebun setelah terjadi bencana menjadi membangun kebun yang tangguh terhadap dampak iklim ekstrem.
"Tantangan terbesar yang akan kita hadapi dalam waktu dekat bukan hanya soal harga sawit, tetapi juga perubahan iklim. El Niño dapat memicu kekeringan dan meningkatkan risiko kebakaran lahan, sehingga petani harus lebih siap menghadapi kondisi tersebut," ujarnya.
Ia menjelaskan, langkah adaptasi harus dimulai dari penerapan praktik budidaya yang ramah lingkungan. Petani dihimbau tidak membuka lahan dengan cara membakar, menyiapkan sumber air, membuat sekat bakar, serta melakukan deteksi dini terhadap titik api.
Menurutnya, investasi pada upaya pencegahan jauh lebih efektif dibandingkan menanggung kerugian akibat kebakaran maupun kekeringan.
“Selain itu, konservasi air menjadi salah satu kunci menjaga produktivitas kebun saat musim kemarau. Air hujan perlu disimpan melalui embung, parit, maupun tampungan air sehingga dapat dimanfaatkan ketika curah hujan menurun. Penggunaan mulsa dan tanaman penutup tanah juga penting untuk menjaga kelembapan tanah dan mengurangi tekanan kekeringan pada tanaman,” urainya.
Dr. Sri Gunawan menambahkan, ketahanan tanaman sangat ditentukan oleh kesehatan tanah. Oleh sebab itu, penggunaan bahan organik, mempertahankan penutup tanah, serta pengendalian hama dan penyakit secara rutin perlu menjadi bagian dari praktik budidaya sehari-hari.
"Tanah yang sehat akan menghasilkan tanaman yang lebih kuat menghadapi kekeringan. Jika tanaman mengalami stres karena kekurangan air, pembungaan akan terganggu, jumlah tandan berkurang, berat tandan menurun, bahkan rendemen minyak ikut turun. Dampaknya tentu langsung dirasakan petani melalui penurunan pendapatan," jelasnya.
Selain adaptasi terhadap perubahan iklim, Dr. Sri Gunawan juga mengingatkan pentingnya penggunaan bibit unggul bersertifikat. Menurutnya, kualitas bibit akan menentukan produktivitas kebun hingga sekitar 25 tahun ke depan. Bibit bersertifikat memiliki potensi produksi lebih tinggi, pertumbuhan lebih seragam, serta lebih tahan terhadap serangan hama dan penyakit dibandingkan bibit yang tidak jelas asal-usulnya.
"Jangan tergiur membeli bibit murah yang tidak bersertifikat. Kesalahan memilih bibit akan menjadi kerugian jangka panjang karena produktivitas tanaman tidak bisa diperbaiki di tengah umur ekonomisnya," tegasnya.
Lebih jauh, ia menilai peningkatan kapasitas SDM merupakan fondasi penting untuk membangun perkebunan sawit yang tangguh menghadapi perubahan iklim sekaligus mampu memenuhi tuntutan pasar global.
"Tujuan akhirnya adalah mendorong petani sawit naik kelas, mampu mengelola kebun secara produktif, legal, berkelanjutan, dan memenuhi tuntutan pasar yang semakin mengutamakan praktik usaha yang bertanggung jawab," katanya.
Lebih lanjut, ia menambahkan, keberhasilan petani beradaptasi terhadap perubahan iklim akan memberikan dampak strategis bagi industri sawit nasional. Dengan sekitar 43 persen luas perkebunan sawit Indonesia dikelola oleh pekebun rakyat, peningkatan produktivitas mereka akan memperkuat posisi Indonesia sebagai produsen sawit terbesar dunia sekaligus mendukung program ketahanan energi nasional melalui implementasi biodiesel B40 menuju B50.
"Ketika produktivitas sawit rakyat meningkat, manfaatnya bukan hanya dirasakan petani, tetapi juga memperkuat perekonomian nasional, menciptakan lapangan kerja, dan mendukung ketahanan energi Indonesia. Karena itu, membangun kebun yang adaptif terhadap perubahan iklim merupakan investasi penting bagi masa depan industri sawit nasional," pungkas Dr. Sri Gunawan.














