Medan, SAWIT INDONESIA — Pendekatan sosiologi dan antropologi dinilai menjadi kunci utama untuk memperkuat kemitraan antara perusahaan perkebunan kelapa sawit dan masyarakat pedesaan demi mencegah potensi konflik lahan yang berulang.
Peneliti Sosial Ekonomi Universitas Sumatera Utara (USU) Yusak Maryunianta menyoroti kecenderungan korporasi yang selama ini hanya mengandalkan jalur hukum formal-regulatori atau pendekatan materiil semata dalam membangun kemitraan maupun meredam konflik.
"Padahal bagi masyarakat setempat, konflik kemitraan lahan sawit mengancam tatanan sosial serta berdampak pada krisis eksistensi budaya, gangguan sistem keyakinan, hingga ruang hidup masyarakat," ujar Yusak dalam Diskusi Uji Publik bertajuk Kemitraan Petani-Perusahaan Dalam Membangun Petani Yang Handal dan Kompetitif, Melalui Intensifikasi Lahan dan Industrialisasi di Kampus USU, Medan, Selasa (15 September 2026).
Yusak menjelaskan, telaah sosiologi perlu menitiperatkan pada relasi kuasa, ketimpangan struktur, kelembagaan lokal, dinamika konflik, serta diferensiasi sosial saat masyarakat berhadapan dengan korporasi. Sementara dari kacamata antropologi, pemahaman dimensi non-ekonomis atas tanah menjadi krusial.
"Bagi masyarakat adat dan lokal, tanah bukan sekadar aset produksi, melainkan memiliki dimensi spiritual, historis, dan pengikat identitas kolektif. Kehilangan tanah berarti hilangnya kebudayaan dan ruang hidup mereka," tegasnya.
Pada kesempatan yang sama, Ketua Umum Rumah Sawit Indonesia (RSI) Kacuk Sumarto mendorong perguruan tinggi untuk mengembangkan lembaga kajian strategis atau think tank industri sawit. Menurutnya, kampus seperti USU berpotensi memberikan rekomendasi kebijakan objektif bagi pemerintah, baik dalam penyusunan maupun evaluasi regulasi komoditas kelapa sawit.
Dukungan serupa disampaikan Direktur PT Agrinas Palma Nusantara (APN) Seger Budiharjo. Ia menilai USU sangat layak menjadi pusat pengkajian ilmiah kelapa sawit mengingat Sumatra Utara merupakan lokasi perkebunan sawit pertama di Indonesia serta didukung ketersediaan pakar dari lintas disiplin ilmu.
Seger menambahkan, masa depan industri sawit nasional berada di tangan petani. Oleh karena itu, penguatan kelembagaan petani, kemitraan strategis dengan korporasi, serta peningkatan produktivitas melalui program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR) harus terus menjadi prioritas utama.
“Saya pikir sangat layak USU menjadi perguruan tinggi yg memfokuskan diri pada pengkajian secara ilmiah tentang kelapa sawit, mengingat perkebunan kelapa sawit pertama kali di Indonesia ini ada di Sumatra Utara. Selain itu di USU juga banyak ahli dari berbagai disiplin ilmu,” kata Seger yang juga menjadi pembicara dalam Diskusi Uji Publik yang diselenggarakan RSI dan USU.














