SAWIT INDONESIA - Keberhasilan pengelolaan keanekaragaman hayati menjadi salah satu indikator penting dalam menjaga keberlanjutan operasional perkebunan kelapa sawit, khususnya dalam memenuhi standar Environmental, Social, and Governance (ESG). Dalam konteks ini, keberadaan primata menjadi indikator penting kualitas ekosistem di kawasan operasional PT Teladan Prima Agro Tbk (TPA).
Primata merupakan kelompok mamalia yang mencakup monyet, kukang, dan kera, dengan peran penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem hutan. Di Indonesia, terdapat 59 spesies primata yang tersebar di berbagai habitat seperti hutan hujan tropis, savana, dan rawa di Pulau Sumatra, Kalimantan, Jawa, dan Sulawesi, dengan 15 spesies di antaranya menghuni Pulau Kalimantan. Di kawasan HCV TPA, primata yang teridentifikasi berasal dari famili Cercopithecidae (monyet dan lutung), Hylobatidae (owa), Lorisidae (kukang), dan Pongidae (orangutan).
Keanekaragaman dan populasi primata sangat dipengaruhi oleh daya dukung lingkungan, khususnya ketersediaan dan kualitas habitat. Tekanan deforestasi yang masih terjadi di berbagai wilayah turut memengaruhi kondisi populasi primata. Dalam konteks ini, TPA sebagai perusahaan yang menjunjung prinsip keberlanjutan turut berkontribusi untuk menjaga potensi habitat melalui pengelolaan kawasan HCV yang berperan krusial dalam mendukung kelangsungan hidup primata.
Primata tidak hanya menjadi bagian dari ekosistem, tetapi juga berkontribusi langsung terhadap proses regenerasi dan pengayaan vegetasi. Spesies seperti lutung merah (Presbytis rubicunda) dan owa kalawat (Hylobates muelleri) berkontribusi melalui penyebaran biji secara efektif di berbagai area hutan. Di sisi lain, orangutan (Pongo pygmaeus) turut menjaga dinamika ekosistem, antara lain melalui aktivitas pembukaan kanopi serta membantu proses penyerbukan.
Lebih jauh, primata juga berfungsi sebagai indikator kesehatan hutan. Sebagai satwa yang sensitif terhadap perubahan habitat, tingkat kehadiran mereka mencerminkan kondisi ekosistem, termasuk ketersediaan pakan dan kualitas struktur hutan yang masih terjaga. Dengan demikian, tren populasi primata tidak hanya relevan dari perspektif konservasi, tetapi juga memberikan indikasi terhadap efektivitas pengelolaan lahan serta keberlanjutan produktivitas jangka panjang.
Seluruh jenis primata yang ditemukan di Kawasan HCV TPA merupakan satwa yang dilindungi secara nasional berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 106 Tahun 2018. Secara global, sebagian besar spesies tersebut berstatus terancam hingga sangat terancam punah menurut IUCN, serta tercantum dalam Apendiks I dan II CITES yang membatasi perdagangan internasional.
Teladan Prima Agro bersama tim Ecositrop telah melaksanakan kegiatan monitoring dan evaluasi keanekaragaman hayati secara rutin. Pengamatan primata dilakukan melalui metode perjumpaan langsung di lapangan, transek jalur, dan dokumentasi foto. Data yang terkumpul dari tahun 2020 hingga 2025 menunjukkan tren populasi dan sebaran primata di seluruh unit TPA.
Hasil pemantauan menunjukkan bahwa jumlah perjumpaan primata selama enam tahun terakhir mengalami fluktuasi yang dinamis. Spesies seperti monyet ekor panjang dan monyet beruk menunjukkan peningkatan signifikan hingga tahun 2024, yang mengindikasikan kemampuan adaptasi yang baik terhadap mosaik habitat kebun dan hutan. Meskipun terjadi penurunan pada tahun 2025, kedua spesies ini tetap menjadi yang paling dominan.
Orangutan sebagai spesies dengan status kritis (CR) dari IUCN menjadi fokus utama upaya konservasi di TPA. Data monitoring menunjukkan populasi orangutan relatif stabil dengan kisaran 13 – 16 individu per tahun. Keberadaan ini mengindikasikan bahwa kawasan HCV TPA masih mampu menyediakan sumber pakan yang memadai serta jalur pergerakan yang aman bagi spesies tersebut.
Temuan ini menegaskan pentingnya pengelolaan kawasan HCV yang berkelanjutan sebagai bagian integral dari komitmen TPA terhadap konservasi keanekaragaman hayati. Upaya pemantauan yang konsisten serta perlindungan habitat mendukung kelangsungan hidup primata, termasuk spesies kunci seperti orangutan, sekaligus menjaga fungsi ekologis hutan tetap optimal. Ke depan, TPA akan terus memperkuat praktik pengelolaan berbasis konservasi guna memastikan keseimbangan antara pertumbuhan bisnis dan keberlanjutan lingkungan.
Sumber: teladanprima.com














