• Kamis, 8 Oktober 2026
Sosok

Pengelolaan Kebun Sawit Lebih Baik dan Berkelanjutan: Harapan Besar pada Penerima Beasiswa SDM Sawit

Pemerintah melalui Direktorat Jenderal (Ditjen Perkebunan) Kementerian Pertanian memiliki komitmen besar dalam hal pengelolaan dan pengembangan perkebunan kelapa sawit yang lebih baik dan berkelanjutan. Hal ini dibuktikan dengan adanya program Beasiswa SDM Sawit kolaborasi antara Ditjen Perkebunan dan Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP).Harapannya melalui program Beasiswa SDM Sawit terjadi regenerasi dalam hal pengelolaan perkebunan sawit yang lebih baik dari sisi produksi dan produktivitas serta berkelanjutan.

Direktur Tanaman Kelapa Sawit dan Aneka Palma, Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian, Ir. Baginda Siagian, M.Si, menaruh harapan besar kepada mahasiswa yang menempuh pendidikan di bidang perkebunan sawit. Yakni kepada para mahasiswa penerima Beasiswa SDM Sawit. Bahwa, kedepan generasi inilah yang berperan mengelola perkebunan sawit, tak terkecuali perkebunan sawit rakyat terutama dalam peningkatan produktivitas.

Hal tersebut diungkapnya, saat menyampaikan sambutan di acara Pembinaan Mental, Fisik Disiplin dan Kenal Kebun atau yang disebut Bintalfisdisbun AKPY ‘STIPER’, di Stiper Edu Agro Tourism (SEAT) KP2 Ungaran, Jawa Tengah, pada Selasa (16 September 2025).

Dikatakan Baginda, dari total 16,8 juta hektare lahan sawit nasional, sekitar 42–43 persen merupakan perkebunan rakyat. Tetapi, produktivitas sawit rakyat saat ini masih relatif rendah, yakni 3,3–3,5 ton per hektar CPO per tahun, sementara perusahaan swasta maupun negara sudah mencapai rata-rata 3,8–4 ton per hektar. Pada hal, potensi sebenarnya bisa mencapai 5–6 ton per hektar per tahun.

“Kalianlah yang akan menjadi pahlawan di situ. Meskipun hanya mengelola 2–3 hektare, jika mampu menjadi contoh bagi yang lain, itu akan menjadi hal yang baik bagi perkebunan sawit rakyat. Kehadiran kalian (mahasiswa) di lapangan sangat penting untuk meningkatkan produktivitas melalui pemeliharaan yang lebih baik,” katanya.

Seperti diketahui, sejak 2016 lalu, pemerintah melalui Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) dan Direktorat Jenderal Perkebunan – Kementerian Pertanian melangsungkan kolaborasi dengan mengimplementasikan program pengembangan sumber daya manusia Perkebunan Kelapa Sawit (SDM PKS) lewat pendidikan (program Beasiswa SDM Sawit).

Di tahun ini, ada 41 perguruan tinggi/kampus yang menjadi mitra BPDP, untuk melaksanakan pendidikan Beasiswa SDM Sawit. Salah satunya, Akademi Komunitas Perkebunan Yogyakarta (AKPY ‘STIPER), perguruan tinggi vokasi di bidang perkebunan kelapa sawit.

Di hadapan 570 mahasiswa baru AKPY ‘STIPER’, Baginda menyampaikan, selamat, Anda sudah berada “di tangan” (kampus) yang benar. AKPY menjadi salah satu lembaga pendidikan terbaik untuk pengembangan SDM perkebunan kelapa sawit. Dan ini menjadi modal besar bagi kalian untuk bisa bekerja di mana pun (sektor perkebunan kelapa sawit) setelah lulus.

“Pendidikan di perguruan tinggi seperti AKPY, mahasiswa diarahkan tidak hanya dibekali teori, tetapi juga keterampilan praktis di lapangan. Dalam satu tahun belajar di AKPY, kalian tidak hanya memperoleh teori, tetapi pengalaman langsung praktik di lapangan. Selain itu, diperkenalkan dengan teknologi dan ilmu pengetahuan. Itu semua akan menjadi modal dan bekal utama ketika kembali kemasyarakat maupun keindustri (perusahaan sawit),” katanya.

“Sebagian besar mahasiswa AKPY merupakan anak-anak petani sawit. Untuk itu, kami mendorong agar para lulusan tidak ragu untuk kembali kekebun keluarga setelah menyelesaikan pendidikan. Jangan kecil hati jika tidak diterima di perusahaan. Pulanglah ke kampung masing-masing dengan ilmu yang sudah diperoleh untuk memajukan perkebunan rakyat. Kita masih sangat membutuhkan SDM berkualitas untuk membangun perkebunan kelapa sawit rakyat,” sambung Baginda.

(Selengkapnya dapat dibaca di Majalah Sawit Indonesia, Edisi 167)

Artikel Terkait