• Kamis, 1 Oktober 2026
Berita Terbaru

Penerapan Teknologi Pengawetan dan Pengemasan Makanan Bagi UMKM

Cibinong, Sawit Indonesia - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bekerjasama dengan Komite Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah (KNEKS) menggelar kegiatan Coaching Clinic Fasilitasi Usaha Mikro Berbasis Iptek (FUMI) BRIN 2023 berupa Pelatihan dan Pendampingan Penguatan Kapasitas Usaha Mikro dalam Mendukung Pengembangan Produk Halal melalui Penerapan Teknologi Pengawetan dan Pengemasan Makanan, pada Selasa - Rabu (20-21/6) di KST Soekarno BRIN, Cibinong.

Kegiatan dihelat sebagai tindak lanjut dari kegiatan Halal Tech Expo dan Forum Tahun 2022 ini, dihadiri oleh 38 orang pelaku usaha mikro. Deputi Pemanfaatan Riset dan Inovasi BRIN, Hendrian, dalam sambutan yang diwakili Aswin Firmansyah mengatakan jumlah UMKM di Indonesia tercatat sebanyak 65,46 juta, berkontribusi sebesar 60,3% terhadap PDB dan mampu menyerap 97% tenaga kerja di Indonesia.

Dirinya menjelaskan, jumlah penduduk muslim Indonesia mencapai 237 juta jiwa atau 11,92% dari total populasi muslim di seluruh dunia. "Tingginya populasi muslim tersebut diikuti dengan tingginya permintaan terhadap produk-produk halal yang terus meningkat setiap tahunnya yaitu US$ 2 triliun tahun 2021, dan akan terus meningkat mencapai US$ 2,8 triliun tahun 2025. Hal ini memperlihatkan bahwa sektor industri halal memiliki potensi yang besar dan sebagai salah satu alternatif dalam mendorong pertumbuhan ekonomi nasional," tegas Aswin.

BRIN sebagai lembaga pemerintah yang menyelenggarakan penelitian, pengembangan, pengkajian, penerapan, serta invensi dan inovasi berusaha semaksimal mungkin untuk berkontribusi dengan melakukan berbagai kegiatan yang dapat memberikan solusi bagi permasalahan UMKM, terutama dalam peningkatan kualitas dan produktivitas produk halal.

"Selain riset dan inovasi, BRIN juga menyediakan dukungan infrastruktur seperti pengembangan laboratorium halal dan pembangunan rumah produksi halal bersama untuk UMKM," terang Aswin.

Deputi Direktur Kemitraan dan Akselerasi Usaha Syariah (KNEKS) Achmad Iqbal, pada kesempatan yang sama mengatakan sebagaimana inisiatif yang dilakukan KNEKS lembaga non struktural yang dipimpin oleh Presiden dan Wakil Presiden sebagai ketua harian dalam mengembangkan para pelaku UMKM industri halal. Salah satunya untuk bidang ekspor membentuk kelompok kerja Indonesia Incorporated Halal Export yang dipimpin langsung oleh Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional dari Kementerian Perdagangan yang melibatkan K/L termasuk BRIN.

"Dari sisi pembiayaan KNEKS merancang perangkat kerja pengembangan halal dan memperkuat integrasi sampai 141,62 triliun yang disalurkan oleh lembaga keuangan Syariah," kata Achmad.

"KNEKS telah melakukan MOU dengan BRIN dihadapan Wakil Presiden pada 25 November 2021. Wakil presiden memberikan arahan agar MOU menghasilkan hasil kerja yang nyata. Oleh karenanya kami sangat mengapresiasi kerja BRIN atas MOU yang telah di tandatangani tersebut diantaranya, bahwa BRIN satu-satunya lembaga riset Indonesia yang merepresentasikan bidang riset dan inovasi yang saat ini telah memiliki rencana aksi pengembangan riset dan inovasi halal pada 2022-2024 dan mudah-mudahan ini akan segara menghasilkan kontribusi yang baik bagi industri halal Indonesia," terangnya.

Menurut Achmad Iqbal, saat ini BRIN sedang melakukan kajian kaitan dengan alat uji cepat produk halal. Sehingga produk halal tidak harus menunggu audit, paling tidak sudah ada adjustment awal. Termasuk juga kegiatan Coaching Clinic hari ini yang merupakan output BRIN.

"Bagaimana kita bisa membina kuliner-kuliner yang biasanya beda dengan para pelaku UMKM. Biasanya pelaku kuliner berada pada satu lokasi atau lokus yang sama. tidak perlu diatur. Kami mendorong K/L untuk membantu pelaku UMKM kuliner mendapatkan sertifikasi halal dan sertifikasi hygiene. Agar mereka bisa bersaing dengan restoran-restoran, ini disebut program zona kuliner halal, aman dan sehat," urai Achmad Iqbal.

Dirinya menambahkan, BRIN sudah menyediakan laboratorium dengan instrumen yang canggih untuk mendukung riset pangan halal, salah satunya ada di Jogja yang pendanaannya menggunakan surat berharga syariah.

"Harapan kami Coaching Clinic ini dapat mendorong produktivitas nilai tambah daya saing produk berbasis riset dan inovasi bagi pelaku UMKM, setelah kegiatan ini akan terjadi kerjasama antara pelaku UMKM dan BRIN untuk menjajagi lebih lanjut sekaligus mengimplementasi inovasi dan teknologi yang dipilih," ungkap Achmad Iqbal.

Direktur Pemanfaatan Riset dan Inovasi pada Kementerian/Lembaga, Masyarakat dan UMKM (PRIKLMUMKM), Dadan Nugraha yang diwakili oleh Nurul Falah dalam sambutannya mengatakan, tujuan umum Coaching Clinic ini mengatasi permasalahan usaha mikro sektor halal di bidang pengemasan dan pengawetan makanan melalui penerapan teknologi. Secara khusus untuk meningkatkan kompetensi pelaku usaha mikro.

Dirinya menyebutkan coaching clinic ini merupakan upaya BRIN menjawab permasalahan umum yang dihadapi yaitu: pertama, belum memahami teknologi pengemasan yang tepat untuk mempertahankan kualitas makanan, dan kedua, belum memahami teknologi pengawetan untuk memperpanjang umur simpan.

"Diharapkan hasil diskusi hari ini selain menambah pengetahuan para pelaku usaha mikro juga menghasilkan saran dan masukan yang konstruktif bagi BRIN sebagai penghasil riset dan inovasi," harap Dadan.

Sebagai informasi kegiatan Coaching Clinic ini dilaksanakan selama dua hari dalam dua sesi. Sesi pertama berfokus membahas skema teknologi pengemasan yang disampaikan oleh Nugroho Siswanto. Sedangkan sesi kedua fokus membahas skema teknologi pengawetan yang disampaikan oleh Lulu Eki Daysita keduanya peneliti Pusat Riset Teknologi dan Proses Pangan (PRTPP) BRIN. Hari kedua diisi dengan kegiatan Demo Produk dari Coaching Clinic Fasilitas Usaha Mikro Berbasis Iptek dan kunjungan ke Okwifood (Teknologi Pengalengan) dalam mempelajari teknologi pengalengan.

Sumber: brin.go.id

Artikel Terkait