• Kamis, 1 Oktober 2026
Berita Terbaru

Pendekatan Molekuler Mendukung Praktik Pertanian

Jakarta, Sawit Indonesia - Kepala Pusat Riset Mikrobiologi Terapan (PRMT) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Ahmad Fathoni menyatakan, pendekatan molekuler memungkinkan deteksi patogen lebih dini dan mendukung praktik pertanian presisi. Oleh karena itu, upaya pengembangan informasi genetik terus dilakukan agar mengurangi risiko penyakit.

“Adanya perubahan iklim telah berdampak signifikan terhadap sektor pertanian, sehingga berimbas terhadap produktivitasnya. Melalui riset dan pemantauan yang intensif, kita dapat memahami bagaimana penyakit berevolusi dan melakukan pengelolaan yang berkelanjutan,” kata Fathoni, dalam webinar series, Rabu (16/10).

Sementara Wong Mui Yun dari Universiti Putra Malaysia memaparkan pendekatan molekuler untuk mengembangkan pengelolaan penyakit tanaman yang berkelanjutan. Visiting researcher di PRMT BRIN ini menekankan pendekatan manajemen tanaman berkelanjutan menjadi sangat penting dalam memastikan produksi pangan lebih aman, berkualitas, dan berkelanjutan.

Yun menjelaskan berbagai manfaat pengelolaan penyakit tanaman berkelanjutan, yakni proteksi lingkungan.

“Adanya upaya dalam mengurangi penggunaan bahan kimia secara berlebihan, memungkinkan kesehatan tanaman secara jangka panjang sehingga tanaman menjadi lebih kuat, secara ekonomi efisien karena mengurangi biaya penggunaan pestisida dan ketahanan terhadap perubahan iklim,” tuturnya.

Yun membentangkan peluang riset ke depan melalui penerapan bioteknologi dalam upaya perlindungan tanaman. Beberapa pendekatan bioteknologi terkini seperti penggunaan RNAi (RNA interference) non transgenik dan genome editing dengan CRISPR (clustered regularly interspaced short palindromic repeats) dapat menjadi salah satu metode potensial untuk memproduksi tanaman resisten penyakit di masa depan dibanding dengan teknologi transgenik sebelumnya yang berbasis penggunaan agrobacterium.

Sumber: brin.go.id

Artikel Terkait