Jakarta, SAWIT INDONESIA - Pihak INSTIPER Yogyakarta mengapresiasi kegiatan Dialog Interaktif yang diselenggakan oleh Bahtera Mitra Mahardika bekerjasama dengan INSTIPER Yogyakarta dan Keluarga Alumni INSTIPER (KAINSTIPER) yang membahas mempertahankan dan berkelanjutan sawit Indonesia. Dialog interaktif ini diadakan di Grha INSTIPER Yogyakarta, pada Sabtu (12 Juli 2025).
Dengan menghadirkan narasumber dari berbagai latar belakang antara lain Dr. Purwadi,MS (Ketua Pengurus Yayasan Pendidikan Kader Perkebunan Yogyakarta/YPKPY), Dr. Eko Novi Setiawan,S.Sos,M.Si (Kasubdit Pengawasan dan Pengenaan Sanksi Administratif, Ditjen Gakum – Kementerian Kehutanan), Wahyu Setiawan,S.Hut (Kabid Perkebunan Dinas Pertanian – Kotawaringin Barat), dan Johan Sukardi,S.Tp (Corporate Affair Director, PT Bumitama Gunajaya Agro), yang dipandu oleh Ir. Triyas Prasetyo (Alumni INSTIPER) dan Cyirillus Benikrisanto,SP.
Rektor INSTIPER Yogyakarta, Dr. Harsawardana,M.Eng, mengatakan pihaknya menyambut baik acara Dialog Interaktif Nasional yang mengusung tema ‘Mempertahankan Kejayaan Kelapa Sawit sebagai Pilar Ekonomi Indonesia Melalui Sawit Berkelanjutan’.
“Tema yang diusungsangat menarik, patut untuk diangkat dan diperbincangkan. Mengingat kelapa sawit di Indonesia merupakan komoditas yang memiliki peran penting dalam pembangunan ekonomi dan masyarakat,” ujarnya, saat menyampaikan sambutan selaku tuan rumah, pada Sabtu (12 Juli 2025), dikutip dari Youtube KAINSTIPER Pusat.
“Namun, di sektor perkelapasawitan kerap kali muncul beberapa isu, mulai dari ekonomi, sosial dan politik serta meningkat di level global menjadi geopolitik dan geoekonomi,” tambahnya.
Dari sisi ekonomi perkelapasawitan mempunyai peran cukup besar sebagai pilar ekonomi di Indonesia. Tentu pendekatan dari sisi ekonomi tidak cukup.Perlu ada pendekatan lain agar kejayaan kelapa sawit di Indonesia bertahan dan berkelanjutan.
“Seiring berjalannya waktu di perkelapasawitan Indonesia, kemudian muncul pendekatan lain di INSTIPER menyebutnya landscape (Sustaninable Plantation Landscape). Jadi pendekatan landscape ini meliputi aspek sosial, ekonomi, teknik teknologi dan lainnya. Pendekatan ini cukup baik dalam menjaga dan mempertahankan perkelapa sawitan di Indonesia, sesuai dengan tema acara Dialog Interaktif Nasional,”imbuh Dr. Harsawardana.
Menurutnya, di sektor perkelapasawitan pendekatan landscape yang meliputi aspek sosial, ekonomi, teknik dan teknologi adalah upaya yang cukup baik. Tetapi, di berbagai perusahaan masih banyak yang mengabaikan dirasa sebagai sampingan. Jadi bukan hal penting.
“Melainkan banyak di perusahaan masih menggunakan cara lamatrail and error, kalau ada masalah baru dipecahkan setelah selesai didiamkan. Saya melihatnya seperti itu,” ujar Rektor INSTIPER Yogyakarta.
Lebih lanjut, ia mengatakan bahwa keberlanjutan perekonomian bangsa dan pertumbuhan suatu negara sangat bergantung pada pendekatan sustainable dengan landscape yang sangat komprehensif.
“Kami berharap, tidakhanya berhenti pada acara ini melainkan dilakukan secara politik. Sebab, permasalahan sosial dari hari kehari semakin rumit, tentu ini membutuhkan kerjasama dan dukungan dari para stakeholder dan shareholder,” lanjut Dr. Harsawardana.
“Kami melihat teman-teman dari KAINSTIPER, telah melakukan pendekatan sosial yang lebih intens, sistematik dan terstruktur. Pendekatan ini akan berkontribusi dalam mempertahankan kejayaan kelapa sawit dan berkelanjutan di Indonesia,” pungkasnya.














