• Selasa, 29 September 2026
Artikel

Penanganan Limbah POME Menggunakan Teknologi Geotextile Dewatering Tube “C-Tube”

Indonesia menjadi salah satu negara dengan produksi kelapa sawit terbesar di dunia. Hal ini dibuktikan dari data Kementerian Pertanian tahun 2023, yang menunjukkan lahan sawit di Indonesia seluas 16,83 juta hektar serta produksinya sebesar 47,1 juta ton.

Adapun komoditas utama yang dihasilkan dari pengolahan kelapa sawit, antara lain crude palm oil (CPO) dan palm kernel oil (PKO). Dengan kapasitas produksi yang besar pula, menjadikan Indonesia salah satu eksportir CPO terbesar di dunia.

Sebelum diekspor, CPO akan melewati berbagai proses pengolahan yang dimulai ketika Perusahaan Kelapa Sawit (PKS) mengolah tandan buah segar (TBS) menjadi minyak sawit mentah. Besarnya kapasitas produksi pengolahan tersebut, akan menghasilkan limbah cair dalam jumlah yang besar pula, yang dikenal sebagai Palm Oil Mill Efluent (POME).

POME terdiri atas air dan senyawa organik, yang umumnya akan dialirkan ke kolam penampungan limbah untuk diendapkan. Endapan senyawa organik yang berbentuk lumpur (sludge) itu lah, yang nantinya menjadi permasalahan utama yang dialami oleh pengelola kolam limbah kelapa sawit, salah satunya Beng.

Beng, mengatakan cara konvensional dengan pembuatan kolam penampungan limbah baru atau pengerukan endapan lumpur menggunakan alat berat, akan membutuhkan biaya besar dan waktu cukup lama. Hal itu, dinilai tidak efektif dalam mengatasi permasalahan.

“Diperlukan cara khusus yang lebih efektif dan efisien baik secara biaya, waktu dan metode kerja,” tuturnya.

Oleh karenanya, teknologi Geotextile Dewatering Tube “C-Tube” milik PT Petra Nusa Elshada hadir sebagai solusi praktis mengatasi permasalahan tersebut. Teknologi ini bekerja dengan memisahkan padatan senyawa organik dari air, sekaligus mengurangi endapan lumpur pada kolam limbah.

Cara kerja C-Tube sebenarnya sederhana, yakni dengan memompa POME menggunakan pompa khusus sludge ke dalam C-Tube yang berbahan geotextile dengan kuat tarik dan permeabilitas tinggi. Kemudian, C-Tube akan menyaring air dan keluar melalui pori-pori secara otomatis, sementara limbah padat akan tertahan dan terkonsolidasi. Proses tersebut terus berlangsung hingga C- Tube terisi penuh dengan limbah padat, dan dibiarkan mengering untuk diproses lebih lanjut.

Di lokasi kolam limbah PKS, Beng memakai 2 unit C-Tube yang diproduksi oleh PT Petra Nusa Elshada, dengan ukuran 5 x 20 meter dan 5 x 35 meter. C-Tube ditempatkan di pinggir kolam dan diberi terpal sebagai alas. Hasilnya untuk C-Tube ukuran 5 x 20 m, telah menghasilkan limbah padat setinggi 1,5 meter dengan berat sekitar 150 Ton. Limbah padat ini memiliki kandungan organik dan nutrisi yang tinggi yang bisa diproses menjadi pupuk untuk menyuburkan kebun.

“Penggunaan C-Tube sangat membantu dalam mengatasi kolam limbah yang mengalami pendangkalan akibat pengendapan lumpur dan sangat berguna untuk lokasi dengan akses terbatas yang tidak memungkinkan alat berat masuk ke areal kolam limbah,” ujar Beng.

Menurut Beng, cara konvensional menggunakan alat berat tentu lebih dikenal banyak kalangan, namun C-Tube dapat menjadi investasi yang menguntungkan, dikarenakan manfaat yang diperoleh baik saat proses penyaringan hingga mampu menghasilkan limbah padat yang bernilai ekonomis.

PT Petra Nusa Elshada menyediakan C-Tube berkualitas tinggi dengan berbagai ukuran dan spesifikasi, sebagai solusi terhadap permasalahan sedimentasi pada kolam limbah POME.

Artikel Terkait