Luwuk, SAWIT INDONESIA — Peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) dinilai menjadi kebutuhan mendesak untuk meningkatkan produksi dan produktivitas perkebunan kelapa sawit di Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah. Penguatan kompetensi pekebun diperlukan agar pengelolaan kebun semakin efektif, produktif, dan berkelanjutan.
Hal tersebut disampaikan Kepala Bidang Perkebunan, Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan (TPHP) Kabupaten Banggai, Dewi Wahyuni Mang, saat pembukaan Pelatihan Program Pengembangan SDM Perkebunan (SDMP) 2026 kelas Teknis Budidaya Kelapa Sawit yang diikuti 186 peserta (pekebun dan penyuluh) dari Kabupaten Banggai, Selasa (15 September 2026), di Luwuk.
Dewi mengatakan, pemerintah daerah menyambut baik pelaksanaan program yang diselenggarakan Akademi Komunitas Perkebunan Yogyakarta (AKPY) yang didukung BPDP dan Ditjenbun tersebut. Menurutnya, perkebunan kelapa sawit memiliki posisi strategis dalam perekonomian, baik sebagai sumber devisa negara, penyedia lapangan kerja maupun penggerak industri hilir.
“Perkebunan kelapa sawit berperan penting dan strategis sebagai penggerak perekonomian nasional. Selain sebagai sumber devisa negara, penyedia lapangan kerja dan pendorong tumbuh kembangnya industri hilir, sawit juga menjadi sumber pendapatan bagi jutaan keluarga pekebun,” ujar Dewi mewakili Kepala Dinas TPHP, Subhan Lanusi yang berhalangan hadir.
Menurutnya, produksi dan produktivitas menjadi elemen penting dalam operasional perkebunan. Namun, pencapaian produktivitas tidak hanya bergantung pada kondisi tanaman maupun sarana produksi, melainkan juga sangat ditentukan oleh kualitas SDM yang mengelola perkebunan.
Dewi menilai masih terdapat sejumlah tantangan dalam pengembangan perkebunan sawit, khususnya di tingkat pekebun. Di antaranya tingkat pendidikan yang relatif rendah, keterbatasan pelatihan teknis, serta belum optimalnya penerapan praktik manajemen modern.
“Peningkatan SDM perkebunan kelapa sawit merupakan kebutuhan yang sangat mendesak dan menjadi prioritas dalam upaya peningkatan produksi dan produktivitas kelapa sawit secara berkelanjutan,” katanya.
Dewi menjelaskan, peningkatan SDM perkebunan telah menjadi perhatian pemerintah secara nasional. Dukungan tersebut diwujudkan melalui program pengembangan SDM perkebunan yang didanai Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP).
Program tersebut diarahkan untuk meningkatkan kompetensi, keterampilan, profesionalisme, kemandirian, keberlanjutan, serta daya saing para pekebun, tenaga pendamping, dan masyarakat perkebunan.
Kabupaten Banggai sebagai salah satu daerah pengembangan kelapa sawit di Sulawesi Tengah turut mendapatkan alokasi program tersebut. Pada 2026, sebanyak 186 peserta mengikuti pelatihan teknis budidaya kelapa sawit.
“Ini adalah wujud komitmen pemerintah dalam mendukung terselenggaranya pelatihan berkualitas tinggi dan sertifikasi yang diakui secara nasional,” jelas Dewi.
Ia memastikan pemerintah daerah akan terus bersinergi dengan berbagai pihak untuk mendukung keberhasilan program pengembangan SDM perkebunan kelapa sawit di Banggai.
Ilmu Pelatihan Harus Diterapkan di Kebun
Dewi meminta peserta tidak sekadar mengikuti pelatihan untuk mendapatkan pengetahuan maupun sertifikat. Ilmu yang diperoleh harus diterapkan dalam aktivitas perkebunan di lingkungan masing-masing.
Menurutnya, keberhasilan program pada akhirnya akan dilihat dari perubahan kemampuan dan kinerja peserta setelah mengikuti pelatihan.
“Setelah mengikuti pelatihan, Bapak, Ibu akan dievaluasi kinerjanya setelah memperoleh ilmu selama pelatihan. Hasil evaluasi itu akan dilaporkan ke tingkat pusat,” ungkapnya.
Karena itu, peserta diminta mengikuti seluruh rangkaian kegiatan dengan serius, menyerap materi dari narasumber, serta mengimplementasikannya sesuai dengan kompetensi masing-masing.
Dewi menekankan, pembelajaran tidak berhenti ketika pelatihan selesai. Pengetahuan yang diperoleh harus menjadi bekal untuk memperbaiki praktik pengelolaan kebun dan memberikan dampak terhadap produktivitas.
“Manfaatkan kesempatan ini untuk menyerap ilmu dan menerapkannya di lingkungan masing-masing demi hasil yang lebih produktif dan berkelanjutan,” katanya.
Tahun Depan Dapat Alokasi 158 Peserta
Komitmen pengembangan SDM sawit di Kabupaten Banggai juga berlanjut pada tahun berikutnya. Dewi mengungkapkan, pemerintah daerah telah mendapatkan alokasi kegiatan pengembangan SDM perkebunan kelapa sawit untuk 2027 dengan jumlah peserta sebanyak 158 orang.
Namun, pemerintah daerah masih membuka peluang untuk mengusulkan tambahan kuota peserta sehingga cakupan penerima manfaat dapat lebih luas.
“Untuk tahun depan kita sudah teralokasi kegiatan yang sama dengan jumlah peserta sebanyak 158 orang. Namun tidak menutup kemungkinan kita akan mengajukan yang lebih banyak,” ujarnya.
Ia berharap sinergi antara pemerintah daerah, BPDP, AKPY, narasumber, pendamping, serta para pelaku perkebunan dapat terus diperkuat sehingga program peningkatan SDM memberikan dampak nyata terhadap pembangunan perkebunan kelapa sawit di Banggai.
Dewi juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah mendukung pelaksanaan program tersebut. Menurutnya, kolaborasi menjadi kunci agar peningkatan kapasitas SDM dapat berlangsung secara konsisten dan memberikan manfaat jangka panjang.
Kepada para peserta, ia berpesan agar menjadikan pelatihan sebagai investasi bagi pengembangan diri sekaligus pembangunan perkebunan di daerah.
“Pembelajaran adalah proses sepanjang hayat dan investasi terbaik buat diri sendiri. Semoga ilmu yang diperoleh dapat memberikan manfaat sebanyak-banyaknya bagi lingkungan sekitar dan terutama untuk keberhasilan pembangunan perkebunan pada umumnya,” pungkas Dewi.














