• Rabu, 7 Oktober 2026
Berita Terbaru

Pemerintah Kagumi Ketangguhan dan Konsistensi INSTIPER yang Kini Berusia 67 Tahun

Yogyakarta, SAWIT INDONESIA – Ungkapan kagum pada INSTIPER Yogyakarta yang merayakan Dies Natalis ke-67, disampaikan Kepala Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) Wilayah V (Yogyakarta), Prof. Setyabudi Indartono, mewakili pejabat dari Kementerian Pendidikan Tinggi Sains dan Teknologi (Kemendiktisaintek) yang berhalangan hadir.

“Enam puluh tujuh tahun adalah dedikasi. Usia ini bukan sekadar hitungan kalender, melainkan manifestasi dari ketangguhan dan konsistensi sebuah institusi yang lahir dari panggilan jiwa bangsa. Perayaaan Dies Natalis bukan hanya sebagai ritual tahunan, tetapi sebagai penegasan kembali raison d’être, alasan fundamental eksistensi sebagai Kampus Perjuangan para Planters Sejati,” ujarnya, saat menyampaikan sambutan pada perayaan Dies Natalis ke-67 INSTIPER Yogyakarta, pada Rabu (10 Desember 2025), di Grha INSTIPER.

Lebih lanjut, Prof Setyabudi mengatakan bahwa INSTIPER satu-satunya perguruan tinggi terdepan di Indonesia yang berorientasi spesifik pada pengembangan perkebunan. Jati diri ini adalah harga mati, dan keunikan ini adalah mandat serta kekuatan tak tertandingi.

“INSTIPER adalah benih sejarah yang ditanam di tengah pergolakan nasionalisasi pada 1958. Lahir untuk mengisi kekosongan kader perkebunan yang krusial bagi kedaulatan ekonomi negara. Sejak detik itu, INSTIPER telah menancapkan identitas yang tak tergoyahkan. Satu-satunya perguruan tinggi terdepan di Indonesia yang berorientasi spesifik pada pengembangan perkebunan,” katanya disambut anggukan dari para tamu undangan.

Namun, di tengah pencapaian INSTIPER yang cukup gemilang, Prof Setyabudi mengingatkan sekalipun akar sejarah INSTIPER kuat, tidak boleh berpuas diri di bawah bayangan masa lalu.

“Kita kini hidup di tengah Badai Percepatan Global dan tuntutan negara. Pemerintah, melalui Rencana Strategis dan fokusnya pada Indikator Kinerja Utama (IKU) yang Berdampak, telah mengirimkan sinyal tegas: masa depan pendidikan tinggi tidak lagi diukur dari volume proses, melainkan dari kedalaman impact dan relevansi yang diciptakan. Ini adalah panggilan untuk bertransisi dari output yang bersifat teknis, menuju dampak transformatif yang bersifat nyata,” ucapnya.

Apa yang disampaikan Prof. Setyabudi secara gamblang sebenarnya mengingatkan agar lembaga pendidikan tinggi tidak lengah dalam menjalankan aktivitas di tengah era yang serba cepat sehingga memaksa harus bisa mengimbangi supaya tidak “tergelincir”.

Selanjutnya, ia mengatakan tantangan bagi perguruan tinggi swasta, tak terkecuali INSTIPER yang di tahun ini berusia 67 tahun.

“Pertama, Ketahanan Sumber Daya dan Finansial. Sebagai Institusi Pendidikan Swasta yang besar dan mapan, kita tidak boleh hidup dalam bayang-bayang ketergantungan. Kita harus membangun Benteng Finansial yang Tak Tertembus, memastikan otonomi dan keberlanjutan. Kita dituntut untuk mencari Sumber Mata Air di luar hujan utama, agar Riset dan Inovasi kita tidak pernah kering,” katanya.

“Kedua, Transisi ke Outcome Focus. Kita harus berhenti mencetak lulusan yang hanya tahu, dan mulai menghasilkan Talenta Emas yang menciptakan. Fokus kita bergeser: dari sekadar menghasilkan output lulusan, menjadi melahirkan agen perubahan yang memberikan dampak nyata di industri perkebunan global dan kehutanan,” tambah Prof. Setyabudi.

Lalu, sambungnya, tantangan ketiga yaitu, Tata Kelola dan Adaptabilitas di tengah disrupsi. Di era Pendidikan 4.0, kecepatan adalah kunci.

“Kita tidak bisa bergerak seperti perahu layar kuno. Kita harus bergerak lincah, adaptif, dan berani menerima digitalisation of agriculture. Kegagalan beradaptasi dengan teknologi akan mengubah kita dari pemimpin menjadi pengikut di industri yang kita pelopori sendiri,” tegas pria yang menjabat Ketua LLDIKTI Wilayah V (Yogyakarta) sejak 2024 lalu.

Setelah disebutkan tantangannya, selanjutnya Prof. Setyabudi menyebut Empat Pilar Strategis bagi keberlanjutan INSTIPER sebagai acuan.

Pilar pertama adalah kemandirian finansial dan tata kelola adaptif. Pentingnya mendiversifikasi pendapatan kampus. “Saya paham INSTIPER punya modal kuat: jaringan industri, alumni, laboratorium perkebunan. Gunakan itu untuk memperluas kaki finansial,” katanya.

Pilar kedua adalah akselerasi talenta dan keunggulan akademik. INSTIPER sebagai pelopor Minat Studi Perkebunan Kelapa Sawit sejak 2005, jauh sebelum isu sawit menjadi perhatian nasional. INSTIPER sudah benar sejak awal. Maka harus memperkuat program seperti New INSTIPER with Advance Technology (NIWAT) yang mengintegrasikan digital agriculture, data analytics, hingga kewirausahaan.

Pilar ketiga menyangkut riset dan inovasi yang berdampak. Kampus harus menghasilkan intellectual property yang dapat dipasarkan, terutama pada isu keberlanjutan, produktivitas hulu-hilir, dan teknologi lapangan yang dibutuhkan perusahaan perkebunan sebagai solusi.

Pilar keempat adalah diferensiasi dan identitas kelembagaan. Setyabudi menekankan bahwa INSTIPER tidak perlu menjadi kampus serba mampu. “Kampus ini kuat karena spesialis. Jangan lepaskan itu. Di Asia Tenggara, tidak banyak kampus yang punya positioning kuat dalam perkebunan,” pungkas Prof Setyabudi.

Artikel Terkait