LUWUK, SAWIT INDONESIA — Pelatihan teknis budidaya kelapa sawit dalam Program Pengembangan SDM Perkebunan Kelapa Sawit (SDMP) 2026 dinilai menjadi investasi penting bagi masa depan perkebunan kelapa sawit rakyat di Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah.
Hal tersebut disampaikan Ashudin A. T. Buluade, peserta pelatihan teknis budidaya kelapa sawit asal Kabupaten Banggai, saat penutupan pelatihan di Luwuk, Minggu (20/9/2026).
Menurut Ashudin, pelatihan yang diselenggarakan Akademi Komunitas Perkebunan Yogyakarta (AKPY) dengan dukungan Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) dan Direktorat Jenderal Perkebunan (Ditjenbun) tersebut memberikan pemahaman baru bagi peserta mengenai praktik budidaya kelapa sawit.
Ia bahkan menilai, apabila kegiatan peningkatan kapasitas seperti ini dilakukan lebih awal, pemahaman pekebun terhadap praktik budidaya yang baik kemungkinan sudah berkembang lebih jauh.
“Kalau kegiatan ini dilaksanakan lebih awal, mungkin di tahun-tahun sebelumnya, mungkin sudah lebih banyak pemahaman dan lebih banyak yang bisa kita ubah sekarang,” ujar Ashudin dalam sambutannya.
Ia menilai keberadaan petani milenial dalam pelatihan menjadi modal penting bagi keberlanjutan perkebunan sawit di Banggai. Dari peserta yang mengikuti kegiatan di salah satu lokasi pelatihan, menurut dia, terdapat sekitar 20 petani milenial.
“Di antara peserta ini ada banyak petani milenial. Itu merupakan investasi untuk petani sawit ke depannya di Kabupaten Banggai,” katanya.
Ashudin melihat kelompok petani muda tersebut perlu terus dibekali pengetahuan mengenai budidaya kelapa sawit yang baik. Dengan demikian, mereka tidak hanya menjadi penerus usaha perkebunan, tetapi juga memiliki kemampuan untuk menerapkan praktik budidaya yang lebih tepat di kebun.
Belajar Tidak Mengenal Usia
Bagi Ashudin, peningkatan kapasitas pekebun juga tidak mengenal batas usia. Ia menyebut proses belajar dalam perkebunan harus berlangsung secara berkelanjutan karena tantangan dan pengetahuan teknis terus berkembang.
“Belajar itu dari ayunan sampai ke liang lahad. Jadi tidak ada batasan umur. Bahkan ada orang tua kita yang masih ikut,” ujarnya.
Ia berharap pengetahuan yang diperoleh selama pelatihan tidak berhenti pada peserta. Sebab, peserta yang mengikuti pelatihan hanya sebagian dari keseluruhan pekebun sawit yang ada di Kabupaten Banggai.
Karena itu, keberadaan petugas dan penyuluh yang turut mengikuti kegiatan dinilai penting untuk memperluas dampak pelatihan.
“Yang hadir ini tidak semua petani sawit di Kabupaten Banggai. Mudah-mudahan melalui beberapa petugas juga menjadi fasilitator untuk bisa meneruskan ilmu yang kita dapat di kegiatan ini kepada petani yang belum mengikuti kegiatan,” kata Ashudin.
Menurut dia, pola tersebut dapat menciptakan efek berantai. Pengetahuan yang diperoleh di ruang pelatihan dapat dibawa kembali ke lapangan, kemudian diteruskan kepada pekebun lain melalui pendampingan dan praktik langsung.
SOP Jadi Standar Baru
Selain mendapatkan pengetahuan baru, Ashudin mengatakan pelatihan juga membuat peserta menyadari bahwa sejumlah praktik budidaya yang selama ini dianggap sudah baik masih dapat diperbaiki.
Ia menilai materi dan pengalaman yang diberikan instruktur membuka perspektif baru bagi peserta, terutama setelah diperkenalkan dengan standar operasional prosedur (SOP) dalam pelaksanaan teknis budidaya.
“Banyak hal-hal baru. Bahkan mungkin yang kita laksanakan selama ini sudah kita anggap bagus. Setelah kami diberikan SOP-nya, cara-caranya, itu sudah menjadi batasan baru kita untuk bisa melaksanakan yang lebih baik ketika kita mau terapkan,” tuturnya.
Menurut Ashudin, pemahaman tersebut menjadi salah satu bekal penting yang dibawa peserta setelah menyelesaikan pelatihan. Pengetahuan tidak hanya berhenti sebagai materi kelas, tetapi diharapkan diterapkan dalam pengelolaan kebun.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada para instruktur yang telah memberikan materi selama kegiatan berlangsung. Secara khusus, ia mendoakan salah satu instruktur, Ngadiam, yang sempat mengalami sakit selama pelatihan agar segera diberikan kesembuhan.
“Beliau sudah meluangkan waktunya untuk mengajar kita beberapa hari di Kabupaten Banggai ini,” katanya.
Di akhir sambutannya, Ashudin menyampaikan terima kasih kepada Pemerintah Kabupaten Banggai yang telah memfasilitasi kegiatan serta kepada AKPY yang telah memberikan pembelajaran kepada para peserta.
“Mudah-mudahan apa yang kami dapat ini bermanfaat dan menjadi pahala untuk instruktur yang sudah ikhlas untuk kami,” ujarnya.
Pelatihan teknis budidaya kelapa sawit tersebut menjadi bagian dari Program Pengembangan SDMP 2026 yang diikuti 186 peserta, terdiri atas pekebun dan penyuluh Kabupaten Banggai. Kegiatan berlangsung pada 15–20 September 2026 di Luwuk, dengan pelaksanaan oleh AKPY atas dukungan BPDP dan Ditjenbun.
Bagi peserta, keberhasilan pelatihan pada akhirnya tidak hanya diukur dari selesainya kegiatan, tetapi dari sejauh mana pengetahuan baru diterapkan di kebun dan diteruskan kepada pekebun lainnya.














