Palembang, SAWIT INDONESIA — Akademi Komunitas Perkebunan Yogyakarta (AKPY) menegaskan bahwa masa depan perkebunan sawit rakyat tidak hanya ditentukan oleh luas lahan atau jumlah produksi, tetapi juga oleh kualitas sumber daya manusia (SDM) yang mengelolanya. Karena itu, petani sawit dituntut untuk terus meningkatkan kompetensi dan bertransformasi menjadi pelaku usaha yang profesional.
Pesan tersebut disampaikan Wakil Direktur AKPY, Dr. Idum Satia Santi, SP, MP, saat menutup Pelatihan Panen dan Pascapanen Kelapa Sawit bagi pekebun Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Sumatera Selatan, diikuti 122 peserta yang berlangsung pada 8–12 Juni 2026 di salah satu hotel ternama di kota Palembang.
Dalam kesempatan itu, Dr. Idum mengapresiasi dukungan berbagai pihak atas terselenggaranya program pengembangan SDM perkebunan sawit tersebut, mulai dari Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP), Direktorat Jenderal Perkebunan - Kementerian Pertanian, Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan, Pemerintah Kabupaten OKI, hingga mitra perusahaan yang terlibat.
“Kalau tidak ada dukungan BPDP, mungkin kita tidak bertemu dan tidak saling mengenal seperti sekarang. Karena itu kami menyampaikan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah mendukung kegiatan ini,” ujarnya, pada Jum’at (12 Juni 2026).
Menurut Dr. Idum, selama lima hari pelatihan para peserta tidak hanya mempelajari teknik panen dan pascapanen, tetapi juga mendapatkan pemahaman mengenai praktik budidaya yang baik, mutu tandan buah segar (TBS), keselamatan dan kesehatan kerja, hingga penguatan kelembagaan kelompok tani.
Selain pembelajaran di kelas, peserta juga mengikuti praktik lapangan dan kunjungan ke kebun serta pabrik kelapa sawit untuk melihat langsung proses panen, pengumpulan TBS, pengangkutan, hingga pengolahan di pabrik. Dari kegiatan tersebut, para pekebun diajak memahami bahwa kualitas minyak.
Ia menegaskan, keberhasilan usaha perkebunan sawit tidak hanya diukur dari banyaknya buah yang dipanen, tetapi juga dari cara panen dilakukan, bagaimana buah ditangani, serta seberapa cepat dan baik buah tersebut dikirim ke pabrik.
Petani Profesional Jadi Kunci
Selanjutnya, Dr. Idum mengingatkan bahwa petani sawit masa kini harus meninggalkan pola kerja berdasarkan kebiasaan semata dan mulai mengedepankan ilmu pengetahuan serta standar teknis yang benar.
Menurutnya, petani profesional setidaknya memiliki lima karakter utama, yakni mampu memanen buah pada tingkat kematangan yang tepat, mengutip seluruh brondolan tanpa tersisa, mengirimkan TBS tepat waktu, menjaga mutu hasil panen hingga ke pabrik, serta mencatat biaya dan hasil usaha secara baik.
“Harga TBS yang baik dimulai dari kebun yang dikelola dengan baik. Semakin baik pengelolaan kebun, semakin baik mutu hasil panen. Semakin baik mutu hasil panen, semakin besar peluang memperoleh harga yang lebih baik, dan pada akhirnya pendapatan petani juga meningkat,” ujarnya.
Dukung Program Strategis Nasional
Lebih lanjut, Dr. Idun menjelaskan bahwa pelatihan semacam ini merupakan bagian dari upaya meningkatkan kualitas SDM perkebunan Indonesia agar semakin kompeten, produktif, dan siap menghadapi berbagai tantangan industri sawit ke depan.
Program tersebut juga dinilai sejalan dengan berbagai agenda strategis nasional, mulai dari Peremajaan Sawit Rakyat (PSR), penerapan Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO), pengembangan hilirisasi sawit, penguatan ketahanan pangan dan energi, hingga pembangunan ekonomi pedesaan.
AKPY berharap para peserta yang telah mengikuti pelatihan dapat menjadi agen perubahan di daerah masing-masing dengan membagikan ilmu yang diperoleh kepada sesama petani dan kelompok tani.
“Kami berharap setelah kembali ke daerah, Bapak-Ibu bisa menjadi contoh bagi petani lainnya. Bagikan ilmu yang diperoleh dan dorong kelompok tani semakin kuat, solid, serta terus meningkatkan legalitas dan sertifikasi kebun menuju perkebunan sawit rakyat yang berkelanjutan,” kata Dr. Idum.
Ia menambahkan, keberhasilan industri sawit nasional tidak hanya ditentukan oleh perusahaan-perusahaan besar, melainkan juga oleh jutaan petani sawit yang mengelola kebunnya secara profesional.
“Ketika petani naik kelas, produktivitas meningkat. Ketika produktivitas meningkat, kesejahteraan bertambah. Dan ketika petani sejahtera, Indonesia akan semakin berjaya,” tutupnya.














