Jakarta, SAWIT INDONESIA - Direktur Eksekutif PASPI, Dr. Tungkot Sipayung sangat was-was dengan konflik di Timur Tengah yang berpotensi terjadi dalam waktu lama. Banyak negara-negara dunia yang mengimpor energi dan mengekspor barang dari dan ke kawasan Timur Tengah telah menghentikan untuk menghindari risiko akibat konflik.
“Berbagai ahli (Goldman Sach, JP Morgan, Barlay Forcast) memperkirakan harga minyak bumi diperkirakan akan naik dari sekitar USD 70 per barel menjadi USD 105-130 per barel. Selain itu, laut Merah yang merupakan jalur logistik dunia terutama menuju dan dari daratan Eropa juga akan terganggu,” ujar Tungkot.
Menurutnya, banyak negara negara dunia yang mengimpor energi dan mengekspor barang dari dan ke kawasan Timur Tengah telah menghentikan untuk menghindari risiko akibat konflik. Konflik AS-Iran-Israel juga membawa dampak kepada perdagangan sawit dunia.
Tungkot menyebutkan setidaknya ada enam dampak yang akan mempengaruhi ekspor sawit Indonesia dan dunia. Pertama, tujuan ekspor sawit Indonesia terakhir ini ke daratan Eropa via laut merah memang tidak terlalu besar hanya sekitar 8-10 persen dari total ekspor sawit Indonesia. Konflik Timur tengah membuat jalur transportasi laut via laut merah akan terhenti. Memang masih bisa lewat perairan selatan Afrika, dan itu akan lebih mahal. Jadi ekspor sawit ke Eropa akan terganggu.
Kedua, sebagian besar ekspor sawit Indonesia ditujukan pada kawasan India (India, Pakistan, Bangladesh) dan kawasan Asia Timur ( khususnya China) mungkin tidak terganggu dengan konflik Timur Tengah.
Ketiga dampak kenaikan harga energi fosil dunia akibat konflik tersebut biasanya akan meningkatkan harga minyak nabati dunia termasuk minyak sawit. Kenaikan harga minyak sawit ini akan menguntungkan Indonesia.
Keempat, akibat konflik Timur Tengah, pasokan bahan baku pupuk ( khususnya posfor dan potasium) yang selama ini dari kawasan Timir Tengah ( Jordania, Afrika utara) dan Eropa Timur ( Rusia, Belarus dll) akan terganggu. Kombinasi dampak harga energi fosil dunia dan gangguan rantai pasok pupuk dunia, risiko rantai pasok global akan mendorong harga pupuk dunia akan meningkat. Hal ini akan berdampak pada kenaikan biaya produksi sawit Indonesia.
Kelima, kenaikan harga minyak sawit dunia akan mendorong harga minyak goreng domestik. Tampaknya untuk menghadapi kondisi ini diperkirakan pemerintah akan meningkatkan duty, levy dan DMO minyak sawit untuk menghindari kelangkaan minyak goreng domestik.
Keenam, peningkatan harga minyak bumi dunia akan memberatkan ekonomi Indonesia mengingat Indonesia adalah net importir minyak bumi. Untuk meminimalisasi dampak negatif diperkirakan akan direspons pemerintah dengan menaikkan mandatori biodiesel dari B40 ke ( mendekati) B50.
“Jadi dalam jangka pendek ada potensi kenaikan harga minyak sawit dunia ( juga harga TBS petani).namun ada risiko risiko lain yang menyertainya. Ini tantangan bagi pemerintah untuk fleksibilitas kebijakan optimalisasi yakni menjaga stabilitas kebutuhan minyak sawit domestik dan memanfaatkan peluang peningkatan ekspor,” pungkasnya.














