Palembang, SAWIT INDONESIA — Pameran Workshop PSR dan Pekan Benih Sawit 2026 yang berlangsung dua hari pada 12–13 Februari 2026 di Palembang mencatatkan transaksi penjualan benih dalam jumlah besar. Sejumlah peserta mengaku mengantongi pesanan ribuan bibit langsung dari petani selama acara berlangsung.
Forum yang didukung Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) ini tak hanya menjadi ajang edukasi Program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR), tetapi juga membuka peluang bisnis bagi produsen benih dan pelaku industri hulu.
Marketing Representative PT Tania Selatan (Wilmar Group), Yasir Afran, mengatakan perusahaannya sudah menjual sedikitnya 7.000 bibit kepada petani dari Kabupaten Lahat pada hari pertama pameran.
“Alhamdulillah sudah ada yang beli 7.000 bibit. Biasanya setelah pameran memang banyak pemesanan karena petani datang langsung tanya-tanya,” ujarnya, Jumat (13 Februari 2026).
Lonjakan permintaan juga dirasakan PT Binasawit Makmur. Manajer Pemasaran dan Penjualan benih Sriwijaya PT Binasawit Makmur Herma Wati, menyebut penjualan kecambah DxP Sriwijaya telah menembus lebih dari 1.000 butir selama pameran.
“Kami sudah jual seribu lebih kecambah. Lumayan ramai. Ke depan, kami harap informasi acara bisa disampaikan lebih awal agar persiapannya maksimal,” katanya.
Petani berburu bibit unggul
Antusiasme tidak hanya datang dari penjual. Petani juga memanfaatkan pameran untuk mengamankan pasokan bibit bersertifikat.
Salah satunya Sukarno, pensiunan guru yang kini mengelola kebun sawit. Ia membeli 1.000 bibit dari Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) untuk pengembangan lahan barunya.
“Saya punya 25 hektare yang sudah ditanam tahun lalu. Sekarang tambah 15 hektare lagi di Indralaya, Ogan Ilir,” ujarnya.
Sebelumnya, ia menanam karet seluas enam hektare, namun beralih ke sawit karena harga komoditas karet terus melemah.
“Harga karet turun jauh. Sawit masih lebih menjanjikan,” katanya.
Tingginya transaksi selama pameran menunjukkan kebutuhan bibit unggul masih besar, seiring percepatan PSR di berbagai daerah. Selain meningkatkan produktivitas, penggunaan benih bersertifikat juga menjadi syarat utama program peremajaan.
Bagi produsen, momentum ini membuka peluang pasar baru. Sementara bagi petani, akses langsung ke penyedia benih membantu memangkas rantai distribusi dan memastikan kualitas tanam.














