• Sabtu, 19 September 2026
Berita Terbaru

PalmCo Distribusikan 6 Juta Bibit Unggul Bersertifikat Untuk PSR

Pekanbaru, SAWIT INDONESIA - Holding Perkebunan PTPN III (persero) melalui Subholding PTPN PalmCo terus mempercepat program peremajaan sawit rakyat dengan mendistribusikan bibit unggul bersertifikat. Upaya ini dibarengin dengan pengutan kelembagaan petani untuk memperkecil jurang produktivitas antara kebun rakyat dan kebun perusahaan. Langkah tersebut menjadi bagian dari sterategi besar menjaga daya saing industri sawit nasional dalam jangka panjang.

Direktur Utama PTPN IV PalmCo Jatmiko K santosa menegaskan bahwa pembenahan dari sektor hulu menjadi faktor krusialdalam menjaga keberlanjutan industri sawit Indonesia. Ia menyoroti masih maraknya pengunaan benih tidak bersertifikat yang berdampak pada rendahnya produksi tandan buah segar (TBS) di kebun rakyat.

"Intervensi harus dimulai dari benih. Kesalahan memilih benih di awal tanam bisa berdampak sampai 205-30 tahun ke depan. Karena itu, kami memastikan petani mendapatkan bibit unggul yang jelas asal - usul dan kualitasnya," sebut Jatmiko dalam keterangan tertulis yang diterima di Pekanbaru, Kamis (12/02/2026).

Secara total, PalmCo telah menyalurkan sekitar 6 juta bibit unggul bersertifikat guna mendukung peremajaan di lahan seluas kurang lebih 41.000 hektare. Program tersebut melibatkan lebih dari 20.000 petani yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia. Jatmiko juga menekankan bahwa peran perusahaan tidak hanya terbatas pada pengelolaan kebun inti.

"Kami ingin petani di sekitar wilayah operasional memiliki daya saing yang setara. Kalau produktivitas rakyat naik, dampaknya bukan hanya ke perusahaan, tetapi juga ke ekonomi daerah," katanya.

Selain fokus pada distribusi bibit, PalmCo memperkuat kapasitas kelembagaan petani. Saat ini terdapat 93 koperasi sawit dan kelembagaan petani lainnya yang mendapatkan pendampingan, mulai dari pelatihan teknis budidaya, perbaikan administrasi, hingga penerapan manajemen kebun berbasis praktik presisi.

Menurut Jatmiko, tata kelola koperasi yang terbit menjadi kunci agar dukungan pemerintah dan akses pembiayaan dari perbankan dapat dimanfaatkan secara optimal.

"Sering kali kendalanya bukan hanya teknis di kebun, tetapi juga administrasi dan manajemen. Kami dampingi dari hulu sampai hilir," ujarnya.

Model kemitraan yang dijalankan PalmCo mendapat respon positif dari ketua Asosiasi Petani Kelapa Sawit Perusahaan Inti Rakyat (Aspekpir) Indonesia Setiyono. Ia menilai pola pendampingan tersebut memberi kepastian bagi petani plasma di tengah dinamika harga dan produktivitas.

"Yang dibutuhkan petani adalah kepastian dan pendampingan. Transparasi perusahaan serta dukungan teknis yang berkelanjutan membuat petani tidak merasa berjalan sendiri," kata Setiyono.

Dari sisi keberlanjutan, PalmCo mendorong petani mitra mengikuti sertifikat Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO) dan Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO). Hingga 2025, program sertifikasi telah mencakup 11.909 hektare lahan milik 5.954 kepala keluarga, sebagai upaya memastikan praktik budidaya ramah lingkungan sekaligus membuka peluang pasar yang lebih luas.

Pangsius, ketua KUD Sawit di Kecamatan Kembangan, Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat, menyampaikan bahwa program PSR dan distribusi bibit unggul membawa perubahan signifikan bagi petani.

“Dulu banyak petani menanam seadanya, yang penting cepat berbuah. Sekarang kami lebih paham soal kualitas benih dan teknik budidaya. Tanpa bibit yang jelas dan bimbingan teknis, sulit bagi petani swadaya untuk mandiri secara ekonomi,” ujarnya.

Di Provinsi Riau, tiga koperasi binaan PTPN IV Regional III yang mengelola lebih dari 1.800 hektare kebun sawit telah meraih sertifikasi internasional RSPO. Ketiga koperasi tersebut adalah Makarti Jaya, Dayo Mukti, dan Kusuma Bakti.

Makarti Jaya menjadi koperasi pertama yang memperoleh sertifikasi RSPO pada medio 2025, dengan 265 petani anggota dan pengelolaan lahan seluas 731 hektare. Koperasi ini juga tercatat sebagai yang pertama meraih sertifikasi global di lingkungan Holding Perkebunan Nusantara III (Persero).

Sementara itu, Dayo Mukti mendapatkan sertifikasi pada Agustus 2025, disusul Kusuma Bakti Mandiri pada November di tahun yang sama. Kedua koperasi yang berada di Kabupaten Rokan Hulu tersebut memiliki total 501 petani anggota dan mengelola 1.077 hektare perkebunan sawit.

Dengan strategi terpadu mulai dari penyediaan bibit bersertifikat, penguatan koperasi, hingga akses sertifikasi global, PTPN IV PalmCo optimistis produktivitas sawit rakyat akan meningkat dalam beberapa tahun mendatang.

Peremajaan sawit rakyat dinilai menjadi kunci menjaga posisi Indonesia sebagai produsen minyak sawit terbesar di dunia, sekaligus memastikan manfaat ekonomi tetap dirasakan petani di berbagai daerah.

Sumber: kabarbumn.com

Artikel Terkait