Pekanbaru, SAWIT INDONESIA — PT Perkebunan Nusantara (PTPN) IV PalmCo menargetkan produksi olein mencapai 1 juta ton per tahun sebagai bagian dari percepatan hilirisasi industri sawit. Perseroan juga menyiapkan pengembangan berbagai produk turunan, mulai dari shortening, refined glycerin, hingga cocoa butter substitute (CBS) untuk meningkatkan nilai tambah komoditas sawit nasional.
Direktur Sumber Daya Manusia (SDM) dan Teknologi Informasi PTPN IV PalmCo Suhendri mengatakan strategi hilirisasi menjadi fokus perusahaan untuk memperkuat ketahanan pangan dan energi sekaligus meningkatkan profitabilitas bisnis sawit.
"Kita menargetkan dalam waktu dekat bisa menghasilkan olein dengan kapasitas 1 juta ton per tahun. Sebenarnya saat ini sudah ada dua pabrik minyak goreng, hanya saja belum beroperasi secara maksimal," katanya dalam diskusi bertema Strategi Hilirisasi untuk Ketahanan Pangan dan Energi pada Sawit Indonesia Expo and Conference (SIEXPO) 2026 di Pekanbaru, Kamis (6 Agustus 2026).
Selain olein, PalmCo juga memiliki kapasitas produksi fatty acid methyl ester (FAME) sebesar 400.000 ton per tahun serta refined glycerin sebanyak 40.000 ton per tahun. Perseroan juga tengah memfinalisasi pembangunan fasilitas produksi shortening atau bahan pengembang berbasis crude palm oil (CPO) yang ditargetkan mulai beroperasi pada 2028.
Tak hanya itu, PalmCo juga mengembangkan proyek cocoa butter substitute (CBS) berbasis minyak sawit dengan kapasitas sekitar 21.000 ton per tahun. Produk tersebut diharapkan dapat menjadi bahan baku alternatif bagi industri cokelat.
"Kajian sudah memasuki tahap finalisasi. Kami berharap fasilitas ini dapat mulai beroperasi pada 2028," ujarnya.
Suhendri menjelaskan PalmCo saat ini mengelola sekitar 572.000 hektare perkebunan kelapa sawit. Secara keseluruhan, PTPN IV mengelola lebih dari 600.000 hektare lahan perkebunan yang mencakup berbagai komoditas.
Perusahaan yang resmi berdiri pada akhir 2023 melalui integrasi sejumlah entitas PTPN tersebut memiliki areal perkebunan yang tersebar mulai dari Aceh hingga Sulawesi.
Sepanjang 2025, PalmCo mencatatkan produksi sekitar 2,7 juta ton CPO dengan total aset mencapai Rp76 triliun. Perseroan juga membukukan laba lebih dari Rp7 triliun dengan tingkat pengembalian aset (return on assets/ROA) sekitar 9,2%.
Meski demikian, Suhendri mengakui produktivitas kebun masih menjadi pekerjaan rumah utama perusahaan. Rata-rata produktivitas PalmCo saat ini berada di level 4,71 ton CPO per hektare, meski terdapat kesenjangan antarkebun yang cukup lebar.
"Ada kebun yang mampu menghasilkan 5,5 ton per hektare, tetapi ada juga yang masih sekitar 3,5 ton. Disparitas inilah yang sedang kami benahi," katanya.
Menurutnya, peningkatan produktivitas menjadi kunci keberhasilan hilirisasi sawit. Tanpa perluasan lahan, PalmCo masih memiliki ruang untuk meningkatkan produksi melalui intensifikasi kebun.
"Kalau rata-rata produktivitas bisa naik menjadi 5 ton per hektare saja, produksi dapat meningkat sekitar 30 persen. Itu yang sedang kami kejar melalui peningkatan kualitas SDM, penggunaan bibit unggul, pemupukan, dan mekanisasi," ujarnya.
Suhendri menambahkan, tantangan bisnis sawit saat ini semakin besar seiring kenaikan harga pupuk, bahan bakar, dan upah tenaga kerja yang mendorong meningkatnya biaya produksi.
Karena itu, PalmCo mengarahkan strategi bisnis pada dua sisi sekaligus, yakni meningkatkan produktivitas di sektor hulu dan mempercepat hilirisasi agar menghasilkan nilai tambah yang lebih tinggi.
Di sektor energi, PalmCo juga melihat peluang besar dari implementasi program biodiesel nasional. Saat ini, kapasitas FAME terpasang di Indonesia mencapai sekitar 20,4 juta ton CPO per tahun yang setara dengan produksi sekitar 19 juta kiloliter B100 setiap tahun.
Menurut Suhendri, kapasitas tersebut masih memadai untuk mendukung implementasi program biodiesel B50 karena produksi B100 nasional masih berada di bawah kapasitas terpasang.
"PalmCo menjawab kebutuhan domestic market obligation (DMO) maupun ekspor bukan dengan memilih salah satunya, tetapi dengan memperkuat produktivitas, mempercepat hilirisasi, dan menghasilkan produk ekspor yang memiliki nilai tambah lebih tinggi," katanya.
Untuk mendukung roadmap tersebut, PalmCo menargetkan optimalisasi fasilitas hilirisasi sepanjang 2026-2027, termasuk pengoperasian penuh pabrik minyak goreng dan kilang (refinery) di Sei Mangkei, Sumatra Utara.
Selanjutnya, pada periode 2028-2029 perusahaan menargetkan tahap komersialisasi berbagai produk hilir baru sebelum meningkatkan skala produksi secara bertahap mulai 2030.














