• Minggu, 4 Oktober 2026
Sajian Utama

OWL Plantation Rancang Aplikasi Modular bagi Digitalisasi Petani Sawit

PT OWL Plantation System (OWL Plantation) memperluas transformasi digital ke sektor perkebunan rakyat melalui pengembangan aplikasi khusus bagi petani plasma dan petani swadaya.

Aplikasi ini berbeda dengan sistem yang selama ini digunakan perusahaan perkebunan besar. Perbedaannya adalah aplikasi tersebut dirancang lebih sederhana, fleksibel, dan sesuai kebutuhan petani melalui penggunaan modul yang dapat dipilih sesuai skala usaha.

Senior Manager PT OWL Plantation System, Surya Apriyanto, mengatakan pengembangan ini dilakukan dalam rangka untuk menyesuaikan kebutuhan karakteristik petani plasma dan swadaya. Sebab, petani memiliki luas kebun yang lebih kecil, kemampuan sumber daya manusia (SDM), dan kebutuhan pengelolaan usaha juga sangat beragam.

"Kami ingin petani plasma dan swadaya bisa memilih modul sesuai kebutuhan mereka. Misalnya hanya membutuhkan modul keuangan, modul kebun, SDM, traksi atau logistik. Mereka tidak harus membeli seluruh sistem, tetapi cukup menggunakan modul yang benar-benar dibutuhkan," ujarnya dalam wawancara di kantornya yang berada di Jakarta pada akhir Juli 2026.

Menurutnya, konsep modular tersebut ditujukan bagi pengelola kebun dengan luasan di bawah sekitar 1.000 hektare. Sementara itu, bagi perusahaan dengan skala yang lebih besar, OWL Plantation menyediakan sistem lebih lengkap sesuai kebutuhan operasional perusahaan.

"Kami memberikan pilihan kepada petani agar mereka bisa mengelola perkebunannya sendiri dengan biaya yang jauh lebih terjangkau. Tujuannya supaya digitalisasi bisa dinikmati oleh lebih banyak petani, bukan hanya perusahaan besar," katanya.

Mengenalkan teknologi kepada petani

Surya menjelaskan, langkah OWL masuk ke segmen petani plasma dan swadaya bukan semata-mata membuka pasar baru, tetapi juga menjadi bagian dari upaya memperluas adopsi teknologi di sektor sawit.

Menurutnya, selama ini berbagai inovasi digital lebih banyak dimanfaatkan perusahaan besar, sementara petani rakyat masih relatif terbatas dalam mengakses teknologi.

"Tujuan pertama kami adalah mengenalkan teknologi kepada petani. Kami ingin mereka mengetahui bahwa sudah ada sistem yang bisa membantu mengelola kebun. Di sisi lain, perusahaan perkebunan besar juga akan melihat bahwa plasma maupun petani swadaya sudah mulai siap masuk ke sistem digital," ujarnya.

Lebih jauh, Surya menilai digitalisasi petani juga akan mendukung kebutuhan pemerintah dalam membangun basis data perkebunan rakyat yang lebih akurat.

"Pemerintah juga membutuhkan data perkebunan plasma, misalnya berapa produksi TBS per hari maupun per bulan. Kalau pencatatannya sudah digital, data tersebut akan jauh lebih mudah dihimpun dan dimanfaatkan sebagai dasar pengambilan kebijakan," jelasnya.

Menurut Surya, salah satu persoalan yang banyak dihadapi petani saat ini adalah pengelolaan tenaga kerja dan pemantauan hasil produksi harian. Bahkan, OWL telah menerima sejumlah permintaan dari kelompok petani plasma yang mengelola kebun seluas sekitar 375 hingga 500 hektare untuk menerapkan sistem digital.

"Kami melihat memang sudah ada kebutuhan dari petani. Maka, kami mencoba masuk ke segmen yang lebih kecil dengan sistem yang disesuaikan," katanya.

Melalui aplikasi tersebut, petani dapat memantau aktivitas kebun secara lebih terstruktur sehingga memudahkan pengambilan keputusan dalam pengelolaan usaha.

"Fitur yang kami siapkan cukup banyak. Ada aplikasi mobile, kemudian kalau membutuhkan sistem jembatan timbang juga tersedia. Tinggal disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing pelaku usaha perkebunan," ujarnya.

Meski membawa konsep digitalisasi, OWL sengaja tidak mengembangkan aplikasi yang terlalu rumit. Surya mengakui salah satu tantangan terbesar justru berasal dari kemampuan SDM petani yang masih sangat beragam. Untuk itu, sistem yang dikembangkan lebih mengedepankan kemudahan penggunaan.

"Untuk tahap awal pencatatannya masih sederhana, bahkan masih banyak menggunakan input manual dan dokumentasi foto. Kami tidak ingin membuat sistem yang terlalu kompleks kalau akhirnya justru sulit dipahami petani," katanya.

Menurut Surya, digitalisasi di tingkat petani tidak hanya soal menyediakan aplikasi, tetapi juga mengedukasi pengguna agar memahami manfaat pencatatan administrasi kebun.

"Kami juga ingin mengedukasi masyarakat. Tidak semua pelaku usaha sawit di tingkat plasma atau masyarakat memahami administrasi kebun secara detail. Maka, sistem ini juga harus menjadi sarana belajar," ujarnya.

Ia menambahkan, pada tahap awal aplikasi difokuskan pada kebutuhan dasar, seperti pencatatan kehadiran pekerja, hasil pekerjaan harian, hingga produktivitas kebun. Sementara fitur yang lebih kompleks akan dikembangkan secara bertahap seiring meningkatnya pemahaman pengguna.

Tutorial dan pendampingan

Untuk mempercepat adopsi teknologi, OWL juga menyiapkan berbagai materi pendukung mulai dari tutorial penggunaan aplikasi hingga pelatihan secara daring.

"Di dalam aplikasi nanti akan ada tutorial yang menjelaskan fungsi setiap fitur. Ke depan kami juga akan menyiapkan pelatihan online agar petani lebih mudah memahami cara menggunakan sistem," kata Surya.

Selain itu, OWL akan membangun portal web yang berisi penjelasan setiap modul beserta ruang lingkup dan fungsinya. Dengan demikian, petani dapat menentukan sendiri modul yang paling sesuai dengan kebutuhan pengelolaan kebunnya. Tidak hanya menyediakan platform, OWL juga akan melakukan pendampingan secara berkala kepada pengguna.

"Monitoring tetap kami lakukan. Kalau ada kendala, kami akan berkomunikasi langsung melalui telepon atau media lainnya agar petani bisa menggunakan sistem secara optimal," ujarnya.

Bekerjasama dengan Gapoktan dan Koperasi

Surya mengatakan aplikasi tersebut tidak hanya ditujukan bagi petani perorangan, tetapi juga dapat dimanfaatkan oleh kelompok tani (poktan), gabungan kelompok tani (gapoktan), koperasi plasma, maupun pengelola kebun swadaya.

Ia optimistis pendekatan tersebut akan mempercepat adopsi teknologi karena generasi muda di lingkungan petani kini semakin akrab dengan perangkat digital.

"Anak-anak petani sekarang sudah melek teknologi. Mereka sudah terbiasa menggunakan smartphone. Kami berharap mereka bisa menjadi penghubung untuk mengenalkan sistem ini kepada orang tua maupun kelompok taninya," katanya.

Menurut Surya, minat terhadap sistem digital sebenarnya sudah mulai terlihat. Beberapa koperasi plasma dengan luas kebun sekitar 375 hektare telah menghubungi OWL untuk berkonsultasi mengenai penerapan sistem digital. Namun, sebagian masih terkendala biaya karena menggunakan sistem yang diperuntukkan bagi perusahaan.

Oleh karena itu, OWL kini tengah menyiapkan OWL Lite, versi yang lebih sederhana dan terjangkau khusus bagi petani plasma dan petani swadaya. Produk tersebut ditargetkan mulai diperkenalkan pada tahun depan.

"Kami melihat kebutuhan itu sudah ada. Untuk itu, sekarang fokus kami adalah mengenalkan modul-modul yang benar-benar sesuai dengan kebutuhan petani. Harapannya, digitalisasi tidak lagi hanya dinikmati perusahaan besar, tetapi juga menjadi bagian dari keseharian petani sawit Indonesia," pungkas Surya.

Artikel Terkait