PEKANBARU,SAWIT INDONESIA - PTPN IV PalmCo melalui Regional III sukses memperkuat komitmen dekarbonisasi dan penerapan ekonomi sirkular di industri kelapa sawit. Melalui pengoperasian enam instalasi Pembangkit Tenaga Biogas (PTBg), perusahaan mencatatkan penurunan emisi gas rumah kaca mencapai 88.608 ton karbon dioksida ekuivalen (CO2e) per tahun lewat pengolahan limbah cair pabrik kelapa sawit (Palm Oil Mill Effluent/POME).
Langkah inovasi lingkungan ini ditegaskan sejalan dengan momentum Hari Ozon Sedunia sebagai bukti nyata komitmen korporasi dalam menjaga kelestarian ekosistem.
Region Head PTPN IV Regional III, Bambang Budi Santoso, menjelaskan bahwa penangkapan gas metana (methane capture) dari POME tidak hanya mengeliminasi potensi pencemaran udara, tetapi juga mengonversinya menjadi energi bersih untuk operasional pabrik.
“Yang kami bangun adalah sebuah siklus. Limbah dari pabrik kita kelola, metananya kita tangkap, kemudian kita ubah menjadi energi. Energi itu kembali digunakan untuk mendukung operasional pabrik. Jadi ada prinsip ekonomi sirkular yang berjalan di dalamnya,” ujar Bambang dalam keterangan tertulisnya.
Fasilitas dan poin strategis pilar dekarbonisasi PTPN IV Regional III meliputi:
- 4 Instalasi PTBg Co-Firing Boiler: Terdiri dari PTBg Sei Pagar (Kampar) berteknologi CSTR; PTBg Sei Tapung (Rokan Hulu) berteknologi covered lagoon (CIGAR) yang memangkas hingga 37.256 ton CO2e per tahun sekaligus menghemat cangkang sawit; serta PTBg Sei Rokan yang beroperasi sejak November 2025.
- Pelopor Perdagangan Karbon: PTBg Lubuk Dalam (Siak) mencatatkan rekor sebagai instalasi biogas pertama di Indonesia yang memperoleh sertifikat pengurangan emisi gas rumah kaca dan masuk ke dalam skema perdagangan karbon nasional.
- 2 Pembangkit Listrik Tenaga Biogas (PLTBg): PLTBg Terantam dan PLTBg Tandun (Kampar) mengonversi gas metana dari POME menjadi listrik guna menopang kebutuhan energi operasional PKS secara terintegrasi.
Melalui keberadaan enam fasilitas PTBg ini, PTPN IV PalmCo tidak hanya menekan jejak karbon industri sawit nasional, melainkan juga mengoptimalkan efisiensi biaya operasional serta menciptakan nilai tambah ekonomi berbasis nilai karbon (carbon credit).
Sumber: riau.antaranews.com














