• Senin, 28 September 2026
Berita Terbaru

Nilai Ekspor Sawit Tembus USD23,26 Miliar per Juli 2026, Naik 10,92 Persen

Jakarta, SAWIT INDONESIA - Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) mencatatkan kenaikan tipis pada produksi minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) nasional sepanjang Juli 2026. Namun, kinerja nilai ekspor tertekan tipis akibat koreksi harga rata-rata komoditas serta penurunan volume pengapalan.

Direktur Eksekutif GAPKI Mukti Sardjono melaporkan produksi CPO pada Juli 2026 mencapai 4,90 juta ton, naik 1,68% secara bulanan (month-on-month/mom) dibandingkan Juni 2026 sebesar 4,82 juta ton. Produksi minyak inti sawit (palm kernel oil/PKO) juga merambat naik menjadi 466.000 ton dari bulan sebelumnya 449.000 ton.

"Total produksi CPO dan PKO pada Juli 2026 mencapai 5,37 juta ton, tumbuh 1,87% dibandingkan Juni 2026 yang sebesar 5,27 juta ton," paparnya dalam keterangan resmi, Senin (28 September 2026).

Secara kumulatif sepanjang Januari - Juli 2026, total produksi CPO dan PKO nasional menembus 35,65 juta ton. Angka ini mencatatkan kenaikan 6,45% jika dibandingkan dengan periode yang sama pada 2025 yang tercatat sebesar 33,49 juta ton.

Di sisi lain, total konsumsi sawit dalam negeri pada Juli 2026 menyentuh 2,27 juta ton, naik 3,35% dibandingkan Juni yang berada di kisaran 2,20 juta ton. Kenaikan serapan domestik ini didorong penuh oleh akselerasi sektor biodiesel.

Konsumsi CPO untuk bauran biodiesel melonjak 13,59% menjadi 1,28 juta ton dari bulan sebelumnya sebesar 1,13 juta ton. Sebaliknya, penyerapan untuk kebutuhan pangan melandai -8,31% menjadi 805.000 ton, dan sektor oleokimia terkoreksi -3,65% menjadi 185.000 ton.

"Secara kumulatif Januari - Juli 2026, konsumsi dalam negeri mencapai 15,21 juta ton atau tumbuh 6,38% dibanding periode yang sama tahun lalu sebesar 14,30 juta ton," tambah Mukti.

Nilai dan Volume Ekspor Tertekan

Di ranah perdagangan luar negeri, volume ekspor produk sawit pada Juli 2026 berada di level 3,18 juta ton, turun -2,67% dibanding Juni 2026 sebesar 3,27 juta ton. Penurunan ini dipicu oleh merosotnya volume ekspor CPO mentah yang anjlok -25,70% menjadi 249.000 ton dan olahan minyak inti sawit yang turun -14,60% menjadi 99.000 ton. Hanya produk oleokimia yang mencatatkan pertumbuhan positif sebesar +14,94% menjadi 537.000 ton.

Penurunan volume ekspor beserta koreksi harga rata-rata CPO ekspor dari US.174 per ton di bulan Juni menjadi US.168 per ton di bulan Juli (-0,45%) menekan nilai ekspor secara bulanan. Nilai ekspor sawit Juli 2026 terkoreksi -2,89% menjadi US,81 miliar dari sebelumnya US,92 miliar.

Meski demikian, raport kumulatif nilai ekspor sepanjang Januari - Juli 2026 masih membukukan performa impresif. Total nilai ekspor menembus US,26 miliar, melejit 10,92% dibandingkan periode yang sama 2025 senilai US,97 miliar. Hal ini ditopang oleh rata-rata harga CPO global yang lebih tinggi di angka US.137 per ton sepanjang tujuh bulan pertama tahun ini.

Berdasarkan negara tujuan, kawasan Uni Eropa (EU 27) mencatatkan lonjakan permintaan bulanan tertinggi pada Juli 2026 mencapai 104.000 ton (+40% mom), disusul Amerika Serikat 44.000 ton (+20% mom), Afrika 61.000 ton (+17% mom), dan China 25.000 ton (+4% mom). Di sisi lain, ekspor ke India (-20%), Rusia (-69%), Malaysia (-32%), dan Pakistan (-17%) mengalami penurunan tajam.

Secara tahunan (Januari-Juli 2026 vs Januari - Juli 2025), China masih menjadi pasar paling solid dengan lonjakan ekspor sebesar 30%, disusul Malaysia (+14%), Afrika (+5%), dan Uni Eropa (+4%). Sebaliknya, ekspor kumulatif ke India tercatat menyusut hingga -20%.

Dengan memperhitungkan stok awal tahun sebesar 2,06 juta ton, total produksi, serapan domestik, volume ekspor, serta impor tipis sebesar 38.000 ton, GAPKI mencatat posisi stok akhir minyak sawit Indonesia per akhir Juli 2026 berada di level 2,75 juta ton.

Artikel Terkait