• Senin, 28 September 2026
Berita Terbaru

AKPY Bersama BPDP dan Ditjenbun Pacu Produktivitas Sawit Rakyat Bengkulu lewat Penguatan SDM

Bengkulu, SAWIT INDONESIA — Produktivitas sawit rakyat tidak hanya ditentukan oleh luas kebun, tetapi juga oleh kemampuan pekebun mengelolanya. Dari pemilihan bibit, pemupukan, pemeliharaan tanaman, hingga ketepatan panen dan penanganan tandan buah segar (TBS), setiap tahapan menentukan produksi sekaligus mutu hasil kebun.

Oleh sebab itu, penguatan sumber daya manusia (SDM) menjadi salah satu kunci untuk mendorong sawit rakyat lebih produktif dan bernilai ekonomi tinggi.

Upaya tersebut dilakukan melalui Program Pengembangan SDM Perkebunan (SDMP) 2026 yang diselenggarakan Akademi Komunitas Perkebunan Yogyakarta (AKPY) dengan dukungan Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) dan Direktorat Jenderal Perkebunan (Ditjenbun).

Pelatihan yang berlangsung pada 27 Agustus–1 September 2026 di Bengkulu tersebut diikuti 156 pekebun dari Kabupaten Mukomuko dan Bengkulu Utara.

Secara rinci, sebanyak 47 peserta asal Mukomuko mengikuti pelatihan teknis budidaya, 29 peserta mengikuti pelatihan teknis panen dan pascapanen, sementara 80 peserta dari Bengkulu Utara mengikuti pelatihan teknis budidaya kelapa sawit.

Wakil Direktur AKPY, Dr. Idum Satia Santi,S.P, M.P, mengatakan pengalaman merupakan modal penting yang telah dimiliki para pekebun. Namun, tantangan perkebunan yang semakin kompleks membutuhkan penguatan melalui pengetahuan, data, teori, dan praktik teknis.

“Pelatihan SDMP bukan untuk menggantikan pengalaman pekebun, melainkan memperkuat pengalaman tersebut agar pengambilan keputusan di lapangan menjadi semakin tepat,” ujarnya, pada Jum’at (28 Agustus 2026), di Bengkulu.

“Bukan berarti kami lebih baik. Bapak Ibu semua ini pengalamannya juga lebih banyak. Nanti ditambah dengan data, dengan teori, insyaallah akan menjadi semakin lebih baik dan semakin berkembang,” imbuh Dr. Idum.

Ia menilai perpaduan pengalaman dengan pengetahuan teknis dan praktik lapangan dapat membuat pengelolaan kebun lebih efektif. Dampaknya diharapkan terlihat pada peningkatan produksi, kualitas TBS, hingga keuntungan pekebun.

Kualitas TBS Dimulai dari Kebun

Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan (TPHP) Provinsi Bengkulu, Hj. Sri Herlin Despita, S.Pt., M.P., mengatakan peningkatan produktivitas dan mutu sawit rakyat harus dilakukan secara menyeluruh.

Menurutnya, persoalan kualitas TBS menjadi salah satu tantangan yang berdampak terhadap harga sawit di Bengkulu. Karena itu, perbaikan tidak bisa hanya dilakukan ketika buah dipanen, tetapi harus dimulai sejak tanaman dibudidayakan.

“Dengan tujuan menghasilkan TBS yang memiliki kualitas baik akan memperoleh harga yang baik pula,” kata Sri Herlin.

Ia menjelaskan, kualitas TBS merupakan hasil dari rangkaian pengelolaan kebun, mulai dari budidaya dan pemeliharaan tanaman, penentuan kriteria matang panen, teknik pemanenan, hingga penanganan TBS setelah dipanen.

Materi SDMP 2026 pun dirancang tidak hanya membahas budidaya. Peserta juga mendapatkan pengetahuan mengenai pemetaan perkebunan, kelembagaan pekebun, pemupukan, sarana dan prasarana, serta penerapan Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO).

Artikel Terkait